Saturday, July 13, 2013

Tarif Murah Telekomunikasi dan Kualitas Hidup Petani Bawang Merah Brebes

Tarif Murah Telekomunikasi  dan Kualitas
Hidup Petani Bawang Merah Brebes
Oleh: Casmudi

         “... Wis mangan tong ... balike kapan? Dih, ganing suwe temen. Dadi bada ngarep ora sida balik?. Ya wis lamon ora sida balik ya sing ati-ati ya urip ning dunyane uwong. Aja macem-macem sing bombong bae. Saiki ning kene lagi wayahe panen bawang. Lumayan rega bawange lagi apik. Dadi lubar bada bisa nyunati adine koen. Wis bapane pamit ya. Assalamualaikum ...”   
         Sepenggal percakapan gaya “ngapak” Brebes di atas menunjukan betapa bahagianya anak yang berada di luar negeri yang sedang menuntut ilmu bisa berkomunikasi begitu bebas dengan Bapaknya yang berada ribuan kilometer di kota Brebes, Jawa Tengah lewat fasilitas skype.  Percakapan tersebut yang artinya kurang lebih (... Udah makan nak ...pulangnya kapan? Kok, lama banget. Jadi lebaran depan tidak bisa mudik?. Ya udah jika tidak bisa mudik yang hati-hati hidup di tanah orang. Jangan macam-macam yang betah saja. Sekarang di sini lagi musim panen bawang. Lumayan harganya lagi bagus. Jadi nanti habis lebaran bisa menyunatkan adik kamu. Ya udah bapak pamit dulu. Assalamualaikum ...). Kota Brebes, Jawa Tengah berada di jalur pantura Jawa. Kota ini dari dulu memang tersohor ke seluruh Indonesia sebagai sentra penghasil bawang merah. Bawang merah dengan kualitas baik untuk konsumsi dalam negeri yang banyak dikirim ke pabrik-pabrik di Pulau Jawa atau di luar pulau Jawa. Banyak orang kaya yang tercetak dari penghasilan bawang merah ini. Ada pameo orang Brebes “pokoke inyong bisa nyunati anake mengko yen lubar panen bawang...biasane lubar bada” (pokoknya saya bisa menyunatkan anakya nanti kalau habis panen bawang ... biasanya habis lebaran). Begitu kuatnya penghasilan yang didapat dari bertani bawang merah, hajatpun perlu menunggu panen.
          Tahun 90-an transaksi pengiriman bawang merah dari petani ke seluruh pulau Jawa biasanya dilakukan melalui warnet, ada juga lewat surat yang dititipkan lewat supir truk yang berangkat lebih dulu. Biasanya petani Brebes cenderung mengirim bawang merah ke pasar Cibitung, Bekasi, Jawa Barat atau ke pasar Kramat Jati, Jakarta. Selanjutnya pesan balik yang dikirimkan lewat supir truk tadi akan diketahui tentang kabar harga bawang merah yang paling “update”. Tapi, semakin berkembangnya pengetahuan teknologi, yaitu: dengan munculnya alat komunikasi yang murah, para petani bawang merah Brebes mulai gampang bertransaksi secara cepat dan akurat. Bahkan lewat alat komunikasi yang canggih dapat diketahui pangsa pasar yang baik, harga terbaru dan jenis bawang merah jenis apa yang lagi digandrungi para konsumen.
           Meskipun bermunculan alat komunikasi yang semakin canggih, permasalahan yang terbaru adalah masalah biaya komunikasi yang tinggi dan perlu disiasati. Karena awal kemunculan alat komunikasi yang semakin maju, masalah biaya komunikasi atau biaya jelajah (roaming) sangatlah mahal. Kita tahu, bahwa pada awal reformasi, hanya orang kaya dan kelas menengah yang punya telepon rumah atau telepon genggam (handphone). Pasalnya, biaya pulsa mencekik leher baik lintas maupun ke sesama operator. Saat itu, para petani bawang merah mensiasati hanya dengan menerima panggilan telpon saja (meskipun saat itu masih dikenakan biaya jelajah/roaming). Mereka harus mengeluarkan kocek lebih jika ingin berkomunikasi dengan sang supplier di pasar Cibitung atau pasar Kramat Jati untuk mendapat informasi terkini mengenai harga bawang merah. Akhirnya, waktu percakapan pun menjadi mahal. Oleh karena itu, solusi yang terbaik untuk berkomunikasi adalah percakapan melalui warnet atau telepon rumah. 
            Tetapi, keadaan yang serba mahal mengenai biaya percakapan melalui alat komunikasi jarak jauh tidak bertahan lama. Situasi pun berubah ketika terjadi perang tarif pada 2005, seiring populernya sistem prabayar dan murahnya biaya menelepon sesama pengguna operator tertentu. Semakin bermunculan operator teleomunikasi, maka tarif percakapan pun tidak menjadi masalah. Hal yang sangat menentukan adalah faktor demografi, aturan pemerintah, dan jumlah pemain di bisnis ini sangat menentukan tarif telepon nasional atau ke luar negeri. Lembaga riset Frost & Sullivan pernah membuat daftar perbandingan tarif telepon (on voice tariff) antar negara. Hasil yang diperoleh relatif mengejutkan. Sebab, mayoritas negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara cenderung membayar biaya telepon lebih mahal dibanding negara kawasan Asia Pasifik. Keadaan ini sama halnya dengan India, Indonesia juga dinobatkan sebagai negara dengan tarif telepon termurah sejagat. Biaya untuk ngobrol hanya USD 1 sen per menit atau di kisaran Rp 90-100 setiap 60 detik. Sangat sulit dicari bandingannya, bahkan di Asia Pasifik tarif telepon Indonesia dan India adalah yang paling murah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pasalnya, operator telekomunikasi yang beroperasi di Indonesia terbilang banyak. Alhasil, persaingan pun menjadi lebih ketat. Bahkan ada yang sampai berkelakar harus 'berdarah-darah' untuk bisa menggaet pelanggan. Tetapi Pemerintah juga wajib mengawasi dan mengontrol tentang kualitas pelayanan para operator telekomunikasi, agar tarif komunikasi yang murah di Indonesia tetap terjaga dibandingkan dengan negara Asia lain, kecuali Singapura dan Malaysia.
          Kita perlu tahu, bahwa saat ini kurang lebih ada 11 operator penyelenggara telekomunikasi di Indonesia, itu juga setelah PT. Mobile-8 Telecom Tbk. dan PT. Smart Telecom merger menjadi satu. Klasifikasi berdasarkan teknologi yang digunakan, yaitu: 1. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom): PSTN & CDMA 800 MHz; 2. PT. Batam Bintan Telekomunikasi: PSTN; 3. PT. Indosat, Tbk: PSTN, GSM, dan CDMA 800 MHz; 4. PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel): GSM; 5. PT. XL Axiata, Tbk: GSM; 6. PT. Axis Telekom Indonesia: GSM; 7. PT. Hutchison 3 Indonesia: GSM; 8. PT. Bakrie Telecom, Tbk.: CDMA 800 MHz; 9. PT SmartFren Telecom, Tbk.: CDMA 800 MHz dan 1900 MHz; 10. PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia: CDMA 450 MHz; 11. PT. Pasifik Satelit Nusantara: Satelit. Sedangkan klasifikasi berdasarkan lisensi dan produk yang dimiliki, yaitu: 1. Operator Fixed Wireline (FWL) Phone atau Telepon Tetap, yang terdiri dari: a. PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom): PSTN; b. PT. Batam Bintan Telekomunikasi: PSTN di area Batam, Bintan; c. PT. Indosat, Tbk.: Indosat Phone; 2. Operator Fixed Wireless Access (FWA) atau Telepon Tetap Nirkabel/Tanpa Kabel, yang terdiri dari: a. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom): Flexi; b. PT. Bakrie Telecom, Tbk.: Esia; c. PT. Indosat, Tbk.: StarOne; d. PT. SmartFren Telecom, Tbk. (dulu PT. Mobile-8 Telecom, Tbk., hasil merger antara PT. Telekomindo Selular Raya (Telesera),  PT. Metro Selular Nusantara (Metrosel), PT. Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo)): Hepi; 3. Operator Mobile atau Telepon Bergerak, yang terdiri dari: a. PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel): Simpati, Kartu As, Kartu Halo; b. PT. Indosat, Tbk.: Mentari, IM3, Matrix; c. PT. XL Axiata, Tbk. (dulu PT. Excelcomindo Pratama, Tbk); d. PT. SmartFren Telecom, Tbk. (dulu PT. Smart Telecom untuk operasi di frekuensi 1900 MHz dan PT. Mobile-8 Telecom untuk operasi di frekuensi 800 MHz); e. PT. Axis Telekom Indonesia (dulu PT. Natrindo Telepon Selular, transformasi dari Lippo Telecom): Axis; f. PT. Hutchison 3 Indonesia (dulu PT. Hutchison Charoen Pokphand Telecom (HCPT), transformasi dari Cyber Access Communication (CAC)): Tri; g. PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia: Ceria; dan 4. Operator Satelit yang terdiri dari: PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN): Byru.
          Pada tahun 2012 saja jumlah pelanggan operator seluler di Indonesia sangat mengesankan. Secara berturut-turut jumlah pelanggan untuk masing-masing operator selular, yaitu: 1. Telkomsel, dengan 212 juta pelanggan;    2. Indosat, dengan 52 juta pelanggan;    3. XL, dengan 47 juta pelanggan;    4. Axis, dengan 16 juta pelanggan;    dan 5. Three, dengan 14 juta pelanggan. Kesemua operator tersebut berlomba-lomba untuk memberikan tarif telekomunikasi yang lebih murah kepada masyarakat. Melihat fenomena murahnya tarif telekomunikasi yang terjadi saat ini diimbangi dengan produk-produk gadget yang semakin canggih seperti android, ipad dan lain-lain dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan masyarakat, maka pengetahuan yang tanpa batas untuk menjelajah dunia melalui internet tidak bisa dibendung lagi. Jangan heran, jika sekarang banyak petani bawang merah Brebes yang tampil semakin gaul dengan menenteng perangkat gadget yang sangat canggih. Bahkan, anaknya tampil semakin modis dan nganyari (modern). Banyak fitur-fitur canggih yang bisa digunakan, seperti update gambar bawang merah saat umur 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan menjelang panen yang dikirim melalui facebook atau twitter ke inbox relasi bisnis atau anaknya yang nun jauh di sana (kuliah atau merantau). Foto-foto narsis di pematang sawah tempat bawang merah ditanam, di depan rumah atau mobil mewah pun tak luput dikirim melalui media jejaring sosial sekedar untuk update status atau mentransfer ilmu bertanam bawang merah (sharing) ke masyarakat luas   tentang keberhasilan bertani bawang merah yang merupakan lahan pekerjaan.
          Gaya hidup petani bawang merah Brebes memang saat ini semakin naik status atau berkualitas. Banyak bidang kehidupan yang beranjak naik, baik keagamaan, ekonomi atau gaya hidup, pendidikan,  dan yang lainnya. Sebagai contoh kenaikan kualitas hidup di bidang ekonomi atau gaya hidup seperti gaya arsitektur rumah yang terkesan modern karena banyak petani bawang merah Brebes tinggal browsing di internet untuk mencari style modern yang tampil beda. Pengetahuan tentang keagamaan pun beranjak naik, karena banyaknya fitur di perangkat gadget yang mengupas tentang ilmu agama. Banyak tempat-tempat ibadah yang tampil bagus karena banyak bantuan yang mengalir dari para petani bawang merah.   Bahkan, dalam mencari waktu hajatan pernikahan atau sunatan yang tepat pun tidak perlu datang ke orang pintar atau paranormal, tetapi cukup klik “primbon” di google langsung muncul segala tanggal dan hari untuk melakukan hajatan atau sunatan yang waktunya tepat sesuai dengan perhitungan wong Jawa. Gaya hidup anak-anak kecil di pedesaan Brebes pun sekarang berubah, seperti dibekali orang tuanya dengan perangkat handphone agar bisa dipantau  di saat jauh atau waktu pulang sekolah dari menuntut ilmu (pendidikan). Keadaan ini sangat berbeda 360 derajat saat tahun 90-an, di mana anak-anak sekolah di pelosok pedesaan Brebes untuk berangkat ke sekolah pun banyak yang tidak beralas kaki. Hal ini disebabkan karena kehidupan yang serba kekurangan dikarenakan harga bawang merah yang menjadi lahan kehidupan selalu dipermainkan oleh para tengkulak yang mengakibatkan harganya selalu jatuh dan merugi. Hal ini berakibat pada ketidakmampuan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Tetapi, sekarang para petani bawang merah Brebes sudah bisa tersenyum lebar bisa berkomunikasi antar sesamanya tanpa batas ruang dan waktu. Kemajuan kualitas hidup ditentukan karena akibat dari murahnya tarif telekomunikasi.
          Banyak hal yang menarik tentang pengaruh tarif murah telekomunikasi terhadap kehidupan para petani bawang merah Brebes, seperti: 1. Jarak komunikasi antar sesama saudara, relasi bisnis dan yang lainnya sudah tidak ada kendala ruang dan waktu, karena perangkat gadget sudah tidak menjadi barang  mewah atau aneh; 2. Tarif murah telekomunikasi bisa menekan pengeluaran yang selanjutnya dialokasikan buat kebutuhan hidup lainnya; 3. Para petani bawang merah sudah berpikir maju tentang harga bawang merah melalui internet yang bisa diakses di mana saja, sehingga tidak gampang ditipu oleh para tengkulak atau makelar, 4. Para petani bawang merah Brebes sudah berpikir untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi dikarenakan informasi yang didapat melalui perangkat gadget yang menyebarluas ke pelosok pedesaan; 5. Menjamurnya counter-counter selular di pelosok pedesaan Brebes mengakibatkan terbukanya lahan usaha, merekrut karyawan, menambah penghasilan baru dan yang terpenting adalah merangsang para petani bawang merah untuk membeli perangkat alat komunikasi demi kemajuan kualitas hidup, tanpa berpikir bengkaknya tarif pulsa; dan 6. Berkembangnya pemasangan tower selular di pedesaan Brebes menambah penghasilan warga dari biaya sewa lahan oleh operator dan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau tampil lebih mewah di bandingkan sebelumnya.
         Sekarang para petani bawang merah Brebes bukanlah sosok yang gaptek, hidup seadanya, pendidikan yang rendah, gampang ditipu para tengkulak atau makelar, serta terbelakang (ndusuni). Tapi saat ini petani bawang merah Brebes tampil lebih maju, mewah, keluarga yang berpendidikan tinggi, penampilan yang modis atau mentereng dan benar-benar menikmati hidup yang berkualitas.         Pengaruh tarif telekomunikasi memang sangat luar biasa dan mampu mempengaruhi kemajuan di segala lini kehidupan. Para petani Brebes sekarang lebih update, cerdas dan lebih gaul. Kata orang Brebes, “aja padakna gemiyen oh, saiki lah wong tani bawang Brebes apike nemen. Saiki pada sugih-sugih, mana-mana pada nggawa hp karo pil. Sebabe saiki pulsane murah sih”. (Jangan samakan dulu dong, sekarang petani bawang Brebes bagus banget. Sekarang kaya-kaya, ke mana-mana banyak yang bawa handphone sama tablet. Sebabnya sekarang pulsanya murah).
                                                                                             
                                                                Ramadhan - Denpasar, 14 Juli 2013

3 comments:

  1. Replies
    1. Trims banget gan telah mampir ke blogku. Berbagi ilmu dan pengalaman. Salam hangat.

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete