Sunday, November 17, 2013

HILANGKAN EGO, KITA BUTUH ORANG LAIN


Hujan belum reda. Dingin semakin mendera. Akhirnya kutuangkan pikiran yang kosong ini untuk membuat sebuah Cerita inspirasi. Semoga bermanfaat, sahabat .... 



HILANGKAN EGO, KITA BUTUH ORANG LAIN
Oleh Casmudi. S.AP

          PT. Erfa Cipta Creasindo adalah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang ekspor-impor besi dan baja. Fandi merupakan karyawan yang sukses di perusahaan besar tersebut. Ia telah bekerja di perusahaan tersebut lebih dari 5 tahun. Karena keuletannya, ia cepat menanjak karirnya. Posisi sebagai General Manager Urusan Ekspor dapat diraihnya. Posisi tersebut merupakan posisi yang bergengsi di perusahaan dan menjadi tangan kanan /kepercayaan Pak Habib, sang Direktur Utama. Saking dipercayainya, semua kebijakan yang ada diperusahaan dilimpahkan secara penuh ke Pak Fandi. Namun sayang, posisi yang bergengsi tersebut tidak diimbangi dengan kepedulian yang besar terhadap anak buahnya.  Ia tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh bawahannya. Ia ingin menunjukan ke Pak Habib, bahwa dialah yang paling berpengaruh dan yang berjasa memajukan perusahaan.
          Pada suatu waktu, perusahaan tersebut sedang membutuhkan orang yang akan dipercaya untuk mengurusi masalah impor. Selama ini jabatan tersebut dijabat rangkap oleh Pak Fandi. Akhirnya, jabatan bergengsi General Manager Urusan Impor sedang kosong. Pak Fandi berpikir bahwa, biarlah dia yang mengurusi masalah ekspor dan impor. Dengan harapan, dia bisa mengeluarkan kebijakan apapun buat perusahaan dan gaji dobel. Toh, Pak Habib sudah terlanjur percaya padanya. Permasalahannya, jika urusan ekspor dan impor diurusin satu orang, maka akan memberikan hasil yang kurang maksimal untuk perusahaan. Dengan terpaksa Pak Habib membicarakan masalah tersebut secara empat mata dengan Pak Fandi. Sebenarnya dalam hati kecilnya, Pak Fandi tidak setuju dengan ide sang Direktur Utama tersebut.
“Pak Fandi, perusahaan kita sudah berkembang pesat. Dan hal yang paling mendesak adalah kita harus mencari atau mengangkat karyawan yang akan ditempatkan di posisi General Manager Urusan Impor. Ini harus saya lakukan demi perkembangan perusahaan”.
“Tapi pak, saya kan bisa mengurusi dua-duanya”
“Tidak mungkin… terlalu riskan pak Fandi. Karena perusahaan sudah berkembang pesat sekali. Saya berencana akan mengangkat Pak Yasin menjadi Generak Manager Urusan Impor”
Dengan perasaan kaget, Pak Fandi mendengar berita tersebut. Ia memahami, bahwa Pak Yasin selama ini menjabat sebagai Brand Manager  sering dia marahi dalam pekerjaaannya meskipun hasilnya memuaskan.
          Pak Yasin adalah tipe orang yang bertanggung jawab dan mudah bergaul dengan siapa saja. Terlebih dengan bawahannya. Lain halnya dengan Pak Fandi yang menghabiskan waktunya dengan di luar kantor untuk urusan yang tidak berguna, di saat sang Direktur Utama tidak ada di kantor. Pak Fandi bermaksud agar dirinya menjadi pemimpin yang bisa disegani anak buahnya.
“Pak Fandi, anda harus bisa bekerja sama dengan Pak Yasin dan berbagi pengalaman untuk memecahkan masalah perusahaan” kata pak Habib suatu waktu.
“Iya…iya …pak”. Pak Fandi berpikir, “pokoknya saya tidak mau bekerja sama dengan Pak Yasin. Saya kan lebih senior dan tangan kanan Pak Direktur. Kalau ketahuan kerja Pak Yasin lebih baik dari aku, Pak Direktur bisa ke lain hati. Aku tidak bias mengatur perusahaan sesukaku”
           Sebenarnya ketidakcocokan dalam bekerja sama antara Pak Yasin dan Pak Fandi sudah diketahui secara diam-diam oleh karyawan perusahaan tersebut. Hanya sang Direktur Utama yang merasa aman-aman saja.
Suatu hari, sang Direktur Utama akan berangkat ke China selama 1 bulan untuk urusan kantor. Sang Direktur Utama menitipkan jalannya perusahaan ke Pak Fandi dan Pak Yasin.
“Tolong, jaga perusahaan baik-baik. Saya akan di Cina selama 1 bulan, ada keperluan kantor”
“Baik pak!” kata Pak Yasin dan Pak Fandi berbarengan.
Namun, apa yang terjadi? Selama ditinggal Sang Direktur Utama ketidakharmonisan antar kedua orang GM tersebut makin memuncak. Yang terjadi adalah kebijakan perusahaan tentang ekpor dan impor menjadi terbengkelai. Hampir semua pesanan dan kiriman barang ke luar negeri tidak ada yang tepat waktu dan dibatalkan karena kepercayaanya klien mulai hilang.
           Perusahaan merugi besar-besaran dan terancam bangkrut. Berita ini diketahui oleh istri Pak Habib dan melaporkan ke suaminya. Permasalahannya sudah diketahui, karena tidak adanya kerja sama pimpinan puncak perusahaan. Akhirnya sang Direktur Utama pulang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Tanpa sepengetahuan Pak Fandi dan Pak Yasin, sang Direktur Utama merencanakan cara untuk membuat kedua pimpinan puncak itu menjadi sadar.
“Ma, tolong pesan untuk dibuatkan sarung tangan yang dicetak dengan sendok atau garpu yang panjangnya 10 meter sebanyak  2 buah dan ukuran normal sebanyak 10 buah” kata sang Direktur Utama kepada istrinya yang sudah mengerti maksudnya.
         Keesokan paginya sekitar jam 4 pagi sang Direktur Utama pergi ke kantor bersama sopir pribadinya untuk mengatur meja ruang rapat yang berukuran  2 x 10 meter. Sudah disiapkan sarung tangan yang digabungkan dengan sendok atau garpu ukuran panjang 10 m. Dilengkapi dengan petunjuk nama orang yang akan menghadiri rapat, termasuk Pak Fandi dan Pak Yasin. Petunjuk nama sengaja direkatkan di meja agar tidak mudah dipindah-pindahkan.  Rapat besar tersebut akan dihadiri 9 orang Manager, sang Direktur Utama dan 2 General Manager (Pak Fandi dan Pak Yasin) yang akan duduk berhadapan di masing-masing sisi meja rapat terpendek. Acara inti yang akan direncanakan adalah acara makan pagi sekitar jam 8.
         Tibalah saatnya …
“Silahkan Bapak dan Ibu duduk di tempat anda masing-masing sesuai dengan petunjuk nama yang ada” kata sang Direktur Utama mempersilahkan dan membuka rapat. Meskipun jengkel, masih mampu memberikan senyum ke bawahannya.
“Kalau boleh tahu, ada acara apa ini Pak Dirut. Kok ada sarung tangan panjang segala?” kata Manager 1.
“Sekedar syukuran karena perusahaan kita berkembang pesat?’
“Bukannya perusahaan kita akan mengalami kebangkrutan, Pak Dirut?” kata Manager 2.
“Sudah biasa dalam bisnis. Tidak usah dipikirkan, hari ini acara kita adalah makan-makan sebagai rasa syukur. Karena perusahaan kita dapat tender besar dari Negara China. Silahkan pakai sarung tangannya masing-masing yang sudah ada petunjuk namanya. Barang siapa yang berani melepaskannya, saya pecat sekarang juga”.
           Para manager diam membisu dan dengan sigap menikmati makanan yang disajikan, karena kondisi sendok dan garpunya dalam keadaan normal. Sambil makan, para manager melongo melihat tingkah laku Pak Fandi dan Pak Yasin yang hanya memandangi makanannya, karena ukuran sendok dan garpunya yang super panjang (10 meter).
“Pak Fandi dan Pak Yasin … silahkan dinikmati makanannya” kata sang Direktur Utama sambil melempar senyum.
“Maaf pak Direktur… bagaimana saya bisa makan, jika ukuran sendoknya seperti ini?” kata Pak Fandi.
“Kan, kalian yang minta seperti itu?” tegas sang Direktur Utama.
“Bagaimana kalau Pak Fandi saya suapin?” kata Pak Yasin. Pak Fandi  seperti  ogah dibantu oleh pak Yasin. Gengsi rasanya, pikirnya.
“Kalau kalian masih pada egonya masing-masing, anda tidak akan bisa menikmati makanan yang lezat ini. Kalau Bapak-bapak berani melepas sarung tangannya, saya tidak segan-segan untuk memecat anda saat ini juga. Mengapa tidak terima penawaran dari Pak Yasin, Pak Fandi?  Pak Yasin menyuapi Pak Fandi dan Pak Fandi gantian yang menyuapi Pak Yasin. Kalian harus kerja sama dong?”
          Hening sejenak …
Pak Fandi mengkerdipkan matanya ke arah Pak Yasin dan Pak Yasin membalasnya dengan dengan anggukan.
“Bapak-bapak manager yang saya hormati. Saya tahu masalah yang ada di perusahaan kita. Masalahnya adalah pada ketidakharmonisan Pak Fandi dan Pak Yasin yang selalu mempertahankan egonya masing-masing. Silahkan kalian lihat sendiri. Jika Pak Fandi tidak mau bekerja sama dengan Pak Yasin, yang terjadi adalah … mungkin kedua Bapak ini akan saya pecat, karena tidak bisa menikmati makanan yang saya hidangkan”
           Dengan berlinang air mata, Pak Fandi mengakui kesalahannya.
“Maaf Pak Dirut dan Bapak-bapak Manager. Saya mengakui kesalahn saya selama ini tidak mau mendengarkan keluhan kalian dan mempertahankan ego saya. Saya paham, bahwa Pak Yasin adalah orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan dan jujur. Saya sering memarahinya, karena saya takut tersaingi. Maafkan saya …Karena saya perusahaan di ambang kebangkrutan”
“Perusahaan kita masih berdiri Bapak-bapak. Saya senang sekali jika kalian sebagai pimpinan puncak bisa bekerja sama dengan baik untuk mengembangkan perusahaan. Percayalah perusahaan ini akan bangkit kembali, jika kalian bisa bekerja sama dan tinggalkan ego kalian, bahwa kalian merasa paling hebat. Saya pun membangun perusahaan ini bermula dari seorang diri. Bangkitlah …bangkitlah …Bapak-bapak!” kata sang Direktur Utama.
          Tepuk tangan dan senyuman membahana ruang rapat. Akhirnya, Pak Fandi bisa menyuapi Pak Yasin dan sebaliknya. Mereka mampu menikmati hidangan yang lezat itu. Mereka tersenyum dan berpelukan.
“Maafkan saya Pak Yasin yang telah berlaku tidak adil kepadamu”
“Lupakan saja, Pak Fandi. Mari kita kerja sama kembangkan perusahaan ini”  
Semua manager dan sang Direktur Utama berdiri dan bangga, serta memberikan tepuk tangan yang meriah untuk kedua General Manager tersebut.
          Mari kita tinggalkan ego kita. Tinggalkan perasaan, bahwa kita orang yang paling hebat dari orang lain. Kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, karena jasa atau bantuan dari orang lain. Berikan kesempatan dan penghargaan orang lain atau bawahan kita untuk  memberikan pendapat. Semuanya demi kemajuan bersama.

                                                                             Denpasar, 17 November 2013

1 comment: