Sunday, February 2, 2014

CALON PRESIDEN GENERASI MUDA MENJAWAB TANTANGAN MASA DEPAN BANGSA



CALON PRESIDEN GENERASI MUDA MENJAWAB
 TANTANGAN MASA DEPAN BANGSA

Oleh Casmudi, S.AP    


           



        Beberapa bulan lagi bangsa Indonesia akan mengadakan hajatan akbar berupa Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 yang akan memilih calon legislatif dari tingkat II sampai tingkat pusat. Yang dilanjutkan  dengan Pemilihan Presiden (Pilpres).  Pemilihan Umum tersebut sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa selama 5 tahun ke depan. Oleh sebab itu, Pemilu 2014 menuntut partisipasi masyarakat dalam menunaikan hak politiknya. Partisipasi tersebut  sangatlah penting untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Sekarang ini,  kasus korupsi telah bergerak akut ke seluruh lini pemerintahan negara. Oleh sebab itu, perlu adanya pioneer (pemimpin negara) yang mampu membawa perubahan bangsa. Pemilu 2014 merupakan pesta rakyat 5 tahunan yang sangat ditunggu untuk mencari pemimpin yang diharapkan bangsa Indonesia.   Menurut survei, Calon Presiden (Capres) 2014 harus mampu menyelesaikan berbagai masalah bangsa yang semakin kompleks seperti yang ada di tabel berikut:   

                             Tabel 1. Kemampuan yang harus dimiliki Calon Presiden (Capres) 

 Sumber: Hasil Survei Menakar Kandidat Capres Dalam Pemilu Presiden 2014 bulan Desember 2013 oleh Pol-Tracking Institute.


Tabel di atas menunjukan, bahwa Calon Presiden  (Capres) adalah sosok yang mampu memberantas kasus korupsi sesuai pilihan masyarakat sebesar 20,05%, memberikan layanan publik sebesar 8,25% pilihan masyarakat, menegakkan hukum sebesar 6,37% pilihan masyarakat, mengatasi masalah keamanan sebesar 5,78% pilihan masyarakat, dan mengatasi masalah kerusakan lingkungan sebesar 1,09% sesuai pilihan masyarakat. Sisanya sebesar 14, 20% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab sesuai pilihan masyarakat. Dengan demikian, tugas yang paling berat Calon Presiden (Capres) masa depan adalah upaya untuk memberantas tindakan korupsi sampai ke akar-akarnya. 
           Untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik perlu adanya pemimpin bangsa yang mempunyai kapabilitas tinggi. Partai-partai politik yang ada berlomba-lomba mendeklarasikan Calon Presiden (Capres) 2014. Bahkan, banyak yang memunculkan diri melalui iklan layanan masyarakat. Meskipun pihak partai politik  terkait mengklaim bukanlah pelanggaran hokum (berbentuk kampanye). Tetapi, yang jelas masyarakat lebih pintar untuk memberikan penafsiran yang beragam. Dikarenakan didukung oleh pemberitaan di berbagai media, baik cetak, elektronik maupun media sosial.  Yang menarik adalah iklan layanan masyarakat yang diklaim sebagai kampanye Calon Presiden (Capres) 2014  secara mayoritas dikuasai oleh wajah-wajah lama. Dengan kata lain, tokoh yang sudah dikenal sejak masa Orde Baru (Orba) atau generasi tua. Ada pertanyaan yang mengelitik, berapa sih batasan umur bisa dikatakan sebagai generasi muda dan generasi tua? Banyak kalangan yang mengatakan bahwa dikatakan generasi muda berarti umur di bawah 55 tahun. Oleh sebab itu, banyak wacana yang muncul dari berbagai kalangan masyarakat  menginginkan agar generasi muda pun harus tampil untuk menjawab tantangan bangsa. Artinya, generasi muda pun perlu atau berhak mencalonkan diri menjadi Calon Presiden (Capres) 2014. Tetapi, banyak kalangan juga yang mengatakan bahwa dari generasi tua  masih “ragu-ragu” atau setengah hati  untuk memberikan dorongan kepada generasi muda agar tampil ke muka dalam menjawab tantangan bangsa.
Hegemoni Partai Politik
          Banyak yang mengetahui, bahwa dalam partai politik, sang “ketua umum” merupakan sosok yang sangat sakral. Muncul  anggapan bahwa hanya sosok ketua umum partailah yang berhak mencalonkan sebagai Calon Presiden (Capres). Apalagi menurut struktural partai politik, sang ketua umum dianggap sebagai sosok yang paling elite. Ditambah, ketua umum partai politik banyak diduduki oleh tokoh-tokoh generasi tua yang sudah mempunyai jam terbang tinggi. Mungkin, hanya Anas Urbaningrun yang merupakan ketua umum termuda masa reformasi. Sayang, jabatan tersebut hanya berlangsung seumur jagung, karena yang bersangkutan menjadi tahanan KPK dalam kasus korupsi.  Dengan demikian, belum ada tokoh dari generasi muda yang memiliki posisi-posisi strategis yang memungkinkan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum partai politik. Kita lihat, bahwa ketua umum partai politik yang ada semuanya berasal dari generasi tua, seperti: Aburizal Bakrie (Golkar), Wiranto (Hanura), Hatta Rajasa (PAN), Suryadarma Ali (PPP), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Megawati (PDI-P), Prabowo Subianto (Gerindra), dan Susilo Bambang Yudhoyono (Demokrat, Presiden RI yang menggantikan Anas Urbaningrum). Mungkin, hingga saat ini hanya Anis Matta (PKS) yang menjadi ketua umum dari generasi muda karena menggantikan Lutfi Hasan Ishaq yang terlibat dan dipenjara dalam kasus korupsi.   Partai politik sepertinya melupakan figur-figur luar partai yang memiliki kapasitas tinggi untuk menjadi Calon Presiden (Capres) dengan alasan bukan sosok partisan.
          Belum ada tokoh generasi muda yang memiliki posisi sebagai Presiden atau Wapres di masa reformasi. Hal ini dikarenakan, karena untuk mencapai posisi strategis tersebut harus melewati partai yang cenderung dihegemoni (dikuasai) oleh generasi tua/elite partai. Partai-partai politik sekarang mempunyai strategi untuk memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan mengandalkan kepopuleran tokoh yang dicalonkan. Akibatnya, potensi-potensi generasi muda yang sebenarnya memiliki kapasitas kepemimpinan relatif dipinggirkan karena dianggap kurang popularitas. Ini menjadi taruhan bagi partai politik yang bersangkutan. Hingga detik ini, Partai Demokrat merupakan partai yang memberikan peluang Calon Presiden (Capres) 2014 bagi generasi muda, seperti: Dino Patti Djalal, Anis Baswedan, Gita Wiryawan, dan Irman Gusman. Keempat tokoh dari generasi muda tersebut masih dalam proses konvensi untuk diketahui tingkat elektabilitasnya. Secara mayoritas Calon Presiden (Capres) 2014 dari generasi muda belum dikenal publik secara luas, karena mereka bukan sosok yang aktif dalam partai politik yang gampang dikenal publik.
         Perlu diketahui, bahwa dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung faktor popularitas dari seorang kandidat merupakan keniscayaan (keharusan). Hal ini dikarenakan, masyarakat cenderung memilih Calon Presiden (Capres) yang sudah dikenalnya dan teruji ketokohannya. Makanya, jangan heran jika Capres dari generasi muda sangat giat untuk mensosialisasikan diri mengenai jati dirinya, programnya serta visi dan misinya dalam membangun  bangsa. Usaha yang keras dan pantang menyerah dalam social program kepada masyarakat diharapkan mampu memberikan input kepercayaan masyarakat terhadap dirinya.  Oleh sebab itu, ada harapan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nanti, peluang generasi muda bisa menduduki dalam posisi pemimpin, seperti: 1) Calon Wakil Presiden tidak mesti dari dan atau dicalonkan partai, 2) Jika dipastikan bahwa Calon Presiden (Capres) 2014 berasal dari generasi tua, maka tidak menutup kemungkinan akan menggandeng generasi muda potensial sebagai Wakil Presidennya, dan 3) Kesadaran tokoh-tokoh dari generasi tua untuk memunculkan dan menumbuhkan regenerasi pemimpin bangsa. Sayangnya peluang terakhir sepertinya sulit diwujudkan, dikarenakan kesakralan “ketua umum” partai politik dan popularitas tokoh generasi muda yang tergolong rendah. Karena meskipun generasi muda potensial, kalau tidak populer tidak bisa digandeng dalam duet Calon Presiden (Capres). Mengingat Calon Presiden (Capres) masih membutuhkan popularitas pendampingnya demi mendapatkan suara terbanyak. Ini merupakan tantangan besar buat calon pemimpin dari generasi muda, agar stigma negatif tentang calon pemimpin generasi muda terbantahkan.
           Menjelang Pemilu 2014, muncul beberapa nama Calon Presiden (Capres) yang hampir semua berasal dari generasi tua, di antaranya: Aburizal Bakrie (67 tahun), Prabowo (62 Tahun), Hatta Rajasa (60 tahun), Jusuf kalla (71 Tahun), Rhoma Irama (67 tahun), Mahfud MD (56 tahun), Wiranto (67 tahun), dan berbagai nama lain yang masih disaring melalui konvensi atau pemilu raya dari beberapa partai politik.  Calon Presiden (Capres) yang berasal dari generasi muda belum ada yang dideklarasikan secara resmi oleh partai politik yang ada, seperti Anis Baswedan (44 tahun, menunggu hasil konvensi), Dino Patti Djalal (48 tahun, menunggu hasil konvensi,  Gita Wiryawan (48 tahun, menunggu hasil konvensi), Irman Gusman (52 tahun, menunggu hasil konvensi), Muhaimin Iskandar (47 tahun, tidak maju bursa Capres 2014), Jokowi (52 tahun, belum diketahui). Daftar generasi muda dan generasi tua yang dicalonkan sebagai Calon Presiden 2014 atau yang berpeluang maju sebagai Calon Presiden (Capres) 2014, sebagai berikut:

Tabel 2. Datar Calon Presiden (Capres) 2014 dari generasi tua dan muda
No.
Nama / Calon Presiden (Capres) 2014
Tempat, tanggal lahir
Umur pada Pemilu 2014
Partai yang mendeklarasikan
Keterangan
1
Aburizal Bakrie*)
Jakarta, 15 November 1946
67
Golkar
Ketua Umum
2.
Wiranto*)
Yogyakarta, DIY, 4 April 1947
67
Hanura
Ketua Umum
3.
Prabowo Subianto*)
Jakarta, 17 Oktober 1951
62
Gerindra
Ketua Umum
4.
Hatta Rajasa*)
Palembang, Sumatera Selatan, 18 Desember 1953
60
PAN
Ketua Umum

5.
Megawati
Yogyakarta, 23 Januari 1947
67
Belum diketahui
Ketua Umum
PDI-P
6.
Jokowi
Surakarta, 21 Juni 1961
52**)
Belum diketahui
Tidak diketahui
7.
Jusuf Kalla
Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942
71
PKB
Sudah dideklarasi
kan
8.
Mahfud MD
Sampang, Madura, Jawa Timur, 13 Mei 1957
56
PKB
Sudah dideklarasi
kan
9.
Rhoma Irama
Tasikmalaya, 11 Desember 1946
67
PKB
Sudah dideklarasi
kan
10.
Anis Matta
Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968
45**)
Belum diketahui
Ketua Umum
PKS
11.
Hidayat Nur Wahid
Klaten, Jawa Tengah, 8 April 1960
54
Belum diketahui
Tidak diketahui
12.
Anis Baswedan
Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969
44**)
Demokrat
Konvensi
13.
Marzuki Alie
Palembang, Sumatera Selatan, 6 November 1955
58
Demokrat
Konvensi
14.
Pramono Edi Wibowo
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, 5 Mei 1955
58
Demokrat
Konvensi
15.
Dahlan Iskan
Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951
62
Demokrat
Konvensi
16.
Dino Patti Djalal
Beograd, Yugoslavia, 10 September 1965
48**)
Demokrat
Konvensi
17.
Gita Wiryawan
Jakarta, 21 September 1965
48**)
Demokrat
Konvensi
18.
Ali Masykur Musa
Tulungagung, 12 September 1962
51
Demokrat
Konvensi
19.
Harry Sinyo Sarundajang
Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, 16 Jan uari 1945
69
Demokrat
Konvensi
20.
Endriartono Sutarto
Purworejo, Jawa Tengah, 29 April 1947
66
Demokrat
Konvensi
21.
Hayono Isman
Jakarta, 25 April 1955
58
Demokrat
Konvensi
22.
Irman Gusman
Padang Panjang, Sumatera Barat, 11 Februari 1962
52**)
Demokrat
Konvensi
23.
Muhaimin Iskandar
Jombang, Jawa Timur, 24 September 1966
47**)
Tidak diusung
Ketua Umum
PKB
24.
Suryadharma Ali
Jakarta, 19 September 1956
57
Tidak diketahui
Ketua Umum
PPP
25.
Surya Paloh
Kutaraja, Banda Aceh, Aceh, 16 Juli 1951
62
Tidak diketahui
Ketua Umum
NASDEM
26.
Yusril Ihza Mahendra
Lalang, Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956 
58
Belum diketahui
Ketua Umum
PBB
27.
Tgk.Muhibbussabri.A.Wahab
                -
      -
         -
Ketua Umum
PDA
28.
Irwansyah (Tgk Muchsalmina)
                -
      -
         -
Ketua Umum
PNA
29.
Muzakir Manaf   
                -     
      -
         -
Ketua Umum
PA
30.
Sutiyoso
Semarang, 6 Desember 1944
69
Belum diketahui
Ketua Umum
PKPI
Dari berbagai sumber (diolah)
*)  Ketua Umum yang sudah mendeklarasikan Calon Presiden 2014     **) Capres Generasi muda (usia di bawah 55 yahun)
               
Dari tabel di atas, bisa diketahui bahwa yang berpeluang maju sebagai Calon Presiden 2014 dari genarasi muda  sebanyak 7 orang. Tetapi, 1 orang sudah jelas tidak mengajukan diri sebagi Calon Presiden (Capres) 2014, yaitu: Muhaimin Iskandar (47 tahun, Ketua Umum PKB) dan Jokowi (52 tahun, belum diketahui status pencapresannya). Dengan demikian hanya ada 5 orang (16,67%) generasi muda yang  berpeluang sebagai Calon Presiden (Capres) 2014.  Yang lainnya berasal dari generasi tua (83,33%.)
           Perlu diketahui, bahwa Calon Presiden (Capres) 2014 yang berasal dari generasi muda menurut KAMMI mengandung pengertian: 1)  Usia yang muda akan membuat kepemimpinan menjadi segar dan gagasan-gagasannya sesuai dengan semangat zaman saat ini, 2) Muda dalam visi kebangsaan yakni memiliki visi perubahan, kerja keras, dan totalitas dalam membangun bangsa, dan 3) Harus muda dari segi track record, yakni bukan bagian dari rezim maupun struktur kekuasaan lama yang sangat korup (orang yang punya integritas personal dan sosial yang baik). Capres muda dianggap mampu memberikan angin segar bagi masyarakat Indonesia. Apalagi dengan munculnya Calon Presiden (Capres) yang berasal dari generasi muda yang bisa dipercaya oleh masyarakat dan bisa menjadi modal awal untuk menjawab harapan rakyat Indonesia. Namun banyak kalangan yang  tidak sependapat bahwa Calon Presiden (Capres) 2014 generasi tua bukanlah pemberi harapan baru bagi bangsa. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang sekaligus sebagai Ketua DPR RI Marzuki Alie menolak bahwa Calon Presiden (Capres) berdasarkan umur. Karena menurutnya, Calon Presiden (Capres) yang sudah berumur belum tentu tidak bermutu. Beliau mengatakan, “Lihat China itu rata-rata di atas 60 tapi luar biasa memimpin China. Jangan mendiskriminasi capres berdasar usia, tapi integritas dan kapasitas memimpin dan loyalitas terhadap rakyat”. Tetapi, pada intinya bahwa Calon Presiden (Capres) dari generasi muda masih merupakan harapan atau tumpuan utama demi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, Calon Presiden (Capres) dari generasi muda harus  mempunyai daya lebih dibandingkan dengan Calon Presiden (Capres) generasi tua yang masih  memiliki spirit pengabdian dan pembaruan bangsa sekaligus.
           Calon Presiden (Capres) 2014 dari generasi muda haruslah sosok yang mempunyai :  1) kebersihan niat dan komitmen untuk menjaga amanah kepemimpinan dengan memandang jabatan pemimpin. Bukanlah yang sosok yang dilayani tetapi melayani rakyat. Tidak mudah menerapkannya, karena mengingat godaan kekuasaan terkadang jauh lebih kuat dan tidak mengenal lelah, 2) Intimasi dengan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Hal ini mengacu kepada frekuensi dan intensitas kedekatan dengan masyarakat yang tidak jarang pula menjadi tolak ukur bagi kekuatan modal sosial, 3) Keunggulan strategi yang mengarah kepada infiltrasi konsepsi, visi dan misi serta nilai kebutuhan masyarakat, yaitu bagaimana strategi yang diciptakan dan dijalankan haruslah menjawab masalah yang dihadapi masyarakat, dan tidak terjebak dalam problematika politik “murahan” seperti politik uang, 4) Ketercukupan modal finansial yang tidak berpotensi sebagai alat untuk membeli suara, tetapi untuk menjalankan mesin politik yang dibentuk dan dipandang sebagai alat beroperasi bukan alat kontraprestasi. Modal finansial bukanlah instrumen utama tetapi harus dipandang sebagai instrumen pendukung. Sebab, jika dipandang sebagai instrumen utama, maka finansial ini pula yang akan menjadi motivasi utama ketika sudah memperoleh kemenangan, 5) Nilai jual yang memadai dimana nilai ini bukan bersandar pada politik transaksional (berupa barang dan uang), tetapi bersandar pada bangunan pemikiran dan kepribadian diri yang kemudian memunculkan harapan baru bagi masyarakat. Calon Presiden (Capres) dari generasi muda mampu menginterpretasikan kebutuhan masyarakat, harapan masyarakat, dan masalah yang dihadapi masyarakat. Hal ini akan menunjukan sebagai sosok yang diyakini mampu menjadi pemecah berbagai solusi bangsa. Apalagi pada pemilu 2014 nanti, pemilih muda merupakan golongan mayoritas sebesar 60%. Hal ini merupakan modal utama untuk memberikan dukungan luas kepada Calon Presiden (Capres) generasi muda, dengan syarat mempunyai visi memimpin yang jelas, berintegritas, bersih dan mendapat dukungan luas dari segala lapisan masyarakat.
          Masalah lain yang penting dalam mencari calon pemimpin bangsa adalah Calon Presiden (Capres) 2014 harus mempunyai karakter yang kuat dalam menyelesaikan masalah bangsa. Sesuai survei  Pol-Tracking Institute bulan Desember 2013, mengukur seberapa penting menurut penilaian masyarakat dari 6 karakter Calon Presiden (Capres) 2014 yang disurvei, yaitu:  1) Integritas Moral (kejujuran), 2) Pengalaman memimpin, 3) Kepedulian (empati), 4) Kemampuan (kompetensi), 5) Visi jangka panjang (visioner), dan 6) Penampilan menarik.

Tabel 3. Karakter yang harus dimiliki Calon Presiden (Capres)

Sumber: Hasil Survei Menakar Kandidat Capres Dalam Pemilu Presiden 2014 bulan Desember 2013 oleh Pol-Tracking Institute.

 Tabel di atas menunjukan bahwa:
1)      Integritas moral (kejujuran), sebesar  97, 14% masyarakat menyatakan penting, 0,30% menyatakan tidak penting, dan 2,56% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
2)      Pengalaman memimpin, sebesar 93,09% masyarakat menyatakan penting,  4,69% menyatakan tidak penting, dan 2,22% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
3)      Kepedulian (empati), sebesar 93,36% masyarakat menyatakan penting,  0,99% menyatakan tidak penting, dan 3,65% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
4)      Kemampuan (kompetensi),  sebesar 93,23% masyarakat menyatakan penting,  1,63% menyatakan tidak penting, dan 5,14% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
5)      Visi jangka panjang (visioner), sebesar 86,42% masyarakat menyatakan penting,  6,02% menyatakan tidak penting, dan 7,56% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
6)      Penampilan menarik, sebesar 60,10% masyarakat menyatakan penting,  32,54% menyatakan tidak penting, dan 7,36% menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
7)      Integritas moral (kejujuran) merupakan aspek yang sangat penting (tertinggi) yang harus dimiliki Calon Presiden (Capres) 2014 sebesar 97,14%.
8)      Penampilan menarik merupakan aspek terendah yang harus dimiliki Calon Presiden (Capres) 2014 sebesar 60,10%.
9)      Masyarakat yang menyatakan tidak penting dengan prosentase terendah terdapat di aspek integritas moral (kejujuran) sebesar 0,30%.
Kehilangan jejak sejarah
          Bangsa Indonesia telah mengalami masa melupakan sejarah. Seperti apa yang terungkap dalam wawancara khusus Kompas dengan Megawati (Ketua Umum PDI-P) tanggal 6 Januari 2013 yang menyatakan, bahwa persoalan fundamental bangsa Indonesia saat ini adalah kehilangan jejak sejarah. Banyak generasi muda yang tidak memahami sejarah bangsanya dan  sangat mengkhawatirkan. Kepemimpina bangsa selama masa reformasi  tidak mengalami perubahan yang signifikan. Ada sebagian kalangan yang menduga bahwa stagnansi politik disebabkan oleh kepemimpinan bangsa Indonesia di duduki oleh orang-orang lama yang cenderung konservatif, sehingga perubahan-perubahan yang moderat dan progresif kurang begitu gencar dilakukan. Oleh karena itu, muncullah isu untuk mengangkat pemimpin yang lebih segar dan lebih muda yang dapat membuka rongga-rongga atau celah-celah perubahan yang selama ini tersumbat.
          Padahal bangsa Indonesia telah mengalami masa keemasan dari kepemimpinan generasi muda sejak kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan. Seperti  Sutan Sjahrir (perdana mentri pertama RI) diangkat saat usia 36 tahun, Mohammad Natsir (perdana mentri) pada usia  42 tahun, Burhanudin Harahap (perdana menteri) pada usia 32 tahun, Soekarno menjadi presiden pertama RI pada saat usia 44 tahun, Hatta menjadi wakil presiden saat usia 43 tahun, dan Soeharto menjadi presiden RI ke-2 pada saat usia 46 tahun. Pencapaian prestasi yang telah diraihnya tidak dengan melewati proses yang mudah (dikarbit), tetapi telah melewati proses penempaan yang luar biasa. Dengan demikian, saat ini bangsa Indonesia mampu mengulang kembali memori lama kejayaan generasi muda dalam memimpin bangsa. Pemimpin muda relatif lebih berani dalam mengambil sikap maupun keputusan, memiliki visi progresif, tegas (tidak ragu-ragu), dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Sejarah telah mencatat bahwa pemimpin dari generasi muda cenderung memiliki daya perubahan yang tinggi, berorientasi pembaharuan, memiliki visi yang progresif, memiliki jiwa nasionalisme tinggi dan  psikologis jiwa muda yang lebih mandiri karena kreativitasnya. Bukan mengesampingkan pemimpin dari generasi tua. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa sosok pemimpin yang berusia  60 tahun ke atas biasanya akan menuju penyesuaian yang kurang baik dan motivasi mulai rendah seperti yang terjadi pada masa reformasi. Banyak kalangan yang menyarankan, bahwa tokoh-tokoh dari generasi tua yang telah melewati masa pensiun disarankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan-kegiatan pemaknaan hidup. Lebih baik lagi, jika sebagai tim penasehat Presiden dari generasi muda (leaderships regeneration).
          Dengan melihat dinamika munculnya pemimpin muda dunia seperti Presiden Amerika Serikat (Barrack Obama, 47 tahun), Presiden Rusia (Dmitry Anatolyevich Medvedev, 44 tahun), Presiden Suriah (Bashar al-Assad, 44 tahun), Presiden Bolivia (Evo Morales, 47 tahun), dan Presiden Madagaskar (Andry Rajoelina, 34 tahun). Maka, bangsa Indonesia pun mampu mewujudkannya dan mengulang sejarah dengan menciptakan pemimpin dari generasi muda untuk membawa masa depan bangsa ke arah yang lebih baik. Meskipun semuanya tergantung kepada suara rakyat dalam Pilpres 2014. Tetapi, jika sudah terseleksi dengan baik maka pemimpin dari generasi muda mampu tampil percaya diri dalam membawa perubahan bangsa. Oleh sebab itu, pemimpin dari generasi muda pun harus benar-benar sosok yang terseleksi dari beberap aspek (13 aspek), yaitu: 1) integritas, 2) kapabilitas, 3) visioner, 4) leadership skill, 5) pengalaman prestatif, 6) keberanian mengambil keputusan, 7) komunikasi publik, 8) komunikasi elite, 9) empati, 10) kematangan emosi, 11) physical appearance, 12) akseptabilitas publik, dan 13) penerimaan partai.
        Bangsa Indonesia berharap, bahwa pada bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nanti bisa diramaikan oleh Calon Presiden (Capres) 2014 dari generasi muda. Perlu juga melihat bagaimana permintaan masyarakat terhadap Calon Presiden (Capres) dari generasi muda. Menurut Survei Pol-Tracking Institute tahun 2013, menyatakan bahwa Calon Presiden (Capres) 2014 dari generasi muda melebihi prosentase yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia (36%). Sedangkan Calon Presiden (Capres) dari generesi tua yang diharapkan masyarakat sebesar 17%. Selebihnya adalah 5% masyarakat mengatakan tidak tahu/tidak menjawab  dan sisanya sebesar  42% mengatakan sama saja (baik generasi muda atau generasi tua sama saja).
Tabel 4. Usia Calon Presiden (Capres) menurut pilihan masyarakat
 

Sumber: Hasil Survei Menakar Kandidat Capres Dalam Pemilu Presiden 2014 bulan Desember 2013 oleh Pol-Tracking Institute.

Dari tabel di atas, menunjukan bahwa keinginan masyarakat Indonesia terhadap Calon Presiden (Capres) generasi muda masih tinggi dibandingkan dengan Calon Presiden (Capres) dari generasi tua. Meskipun masyarakat banyak yang masih bingung dalam memilih Calon Presiden (Capres), baik terhadap generasi muda maupun terhadap generasi tua.
         Besarnya pilihan masyarakat terhadap Calon Presiden (Capres) dari generasi muda merupakan tantangan tersendiri bagi tokoh muda yang mempunyai kapabilitas tinggi untuk ikut andil dalam membawa perubahan bangsa. Sudah selayaknya bangsa Indonesia memberikan ruang yang terbuka bagi generasi muda. Bagi generasi tua pun hendaknya memberikan estafet kepemimpinan, karena sejarah telah mencatat bahwa generasi muda telah banyak merubah perjalanan bangsa. Semoga masa keemasan kepemimpinan dari generasi muda bisa terulang kembali di masa depan. Kita wajib percaya, bahwa perjalanan bangsa ini berada di pundak generasi muda. Karena, generasi muda merupakan harapan bangsa dan siap kapan pun menjawab tantangan masa depan bangsa.   

Referensi:
http://www.aktual.co/politik/181127senada-dengan-pks-kammi-tawarkan-gagasan-pemimpin-muda
http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/10/29/1/191246/Rakyat-Butuh-Pemimpin-Muda
http://aniesbaswedan.com/tulisan/Pemimpin-dan-Calon-Pemimpin-Masa-Depan-Indonesia
http://nasional.kompas.com/read/2014/01/07/0837273/Megawati.Beri.Ruang.Pemimpin.Muda
http://abdaalif.wordpress.com/opini/dicari-pemimpin-muda/
http://belanegarari.com/2013/12/24/anak-muda-calon-presiden-2014/
http://infoislami.com/menakar-peluang-pemimpin-muda-indonesia/
http://israriskandar.wordpress.com/menakar-peluang-sejarah-kepemimpinan-muda-di-era-reformasi/
http://www.change.org/id/petisi/dukung-kaum-muda-memimpin-indonesia-sebagai-presiden-ri-2014
http://www.republika.co.id
Pol-Tracking Institute. (2013). Menakar Kandidat Capres & Perilaku Pemilih Dalam Pemilu Presiden 2014. Hasil Survei Menakar Kandidat Capres Dalam Pemilu Presiden 2014, Desember 2013.



Artikel ini bisa anda lihat juga di Kompasiana:

http://politik.kompasiana.com/2014/02/01/calon-presiden-generasi-muda-menjawab-tantangan-masa-depan-bangsa-628887.html

No comments:

Post a Comment