Sunday, June 15, 2014

PILPRES 2014, MENUJU KURSI PRESIDEN RI HARAPAN PUBLIK



PILPRES 2014, MENUJU KURSI PRESIDEN RI
                                                HARAPAN PUBLIK                  
Oleh Casmudi, S.AP



          Beberapa bulan lagi bangsa Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi, Pilpres 2014.    Tetapi, praktek politik uang masih santer terjadi.  Kompas, 4 Januari 2014 menyatakan, “Maka, di tahun 2014, pasti bukan hanya kompetisi, konflik politik seperti biasa terjadi, bisa-bisa akan kembali mencederai  demokrasi”. Kompetisi capres akan semakin memanas. Perlu diketahui, bahwa mendapatkan kursi Presiden RI laksana magnet. Capres yang pernah bertarung di Pilpres 2004 dan 2009 diprediksi akan bersaing  kembali. “Tokoh-tokoh yang gagal dalam pilpres tak kapok-kapok bertarung lagi di Pilpres 2014. Daya tariknya luar biasa. Kalau menyangkut syahwat kuasa, banyak yang lupa akal sehat. Apalagi di era demokrasi, semua orang merasa punya hak. Maka, demokrasi dimaknai begitu bebas” (Kompas, 4 Januari 2014).  Oleh sebab itu, demi menggapai kekuasaan di kursi RI 1 dan 2,  para capres mencoba peruntungannya kembali.  
           Menerka capres 2014, sangat menarik jika menganalisa kutipan ramalan Jayabaya (1135-1157M)  tentang satria pitu (tujuh pemimpin), yaitu: 1) Satrio kinunjoro murbowiseso (pemimpin keluar masuk penjara yang memiliki pengetahuan dan kekuasaan besar) digambarkan sosok Soekarno, 2) Satrio mukti wibowo kesandhung kesampar (pemimpin yang hidup enak dan mempunyai wibawa tetapi banyak rintangan) digambarkan sosok Soeharto, 3) Satrio jinumput semelo atur gawe wiring (pemimpin yang diorbitkan, tetapi membawa malu bangsa) digambarkan sosok BJ. Habibie, 4) Satrio lelono topo ngrame wuto (pemimpin yang memiliki kekurangan dan sering mengadakan lawatan) digambarkan sosok Abdurrahman Wahid (Gus Dur), 5) Satrio piningit hamung tuwuh (pemimpin karena nama besar orang tuanya) digambarkan sosok Megawati Soekarno Putri, 6) Satrio pinilih hamboyong pambukaning gapuro nggelar kloso tonpo nganglenggahi (pemimpin yang menghadapi banyak persoalan tetapi tidak pernah selesai) digambarkan sosok  Presiden SBY, dan 7) Satrio Pinandhito (pemimpin mendapat kebijaksanaan di atsa normal). Calon Presiden inilah yang akan kita lihat hasilnya di Pilpres 2014.
         Untuk mendapatkan capres terbaik masa depan, rakyat Indonesia mengharapkan karakter yang harus dimiliki capres. Menurut B.J. Habibie (Presiden ke-3 RI) mengungkapkan tentang kriteria capres mendatang adalah sosok yang tidak mempunyai lima cacat, yaitu: 1) Cacat politik (tidak melakukan money politics), 2) Cacat hukum (tidak pernah terlibat kasus korupsi), 3) Cacat keuangan (tidak pernah terlibat cek kosong, kredit macet dan mengemplang kartu kredit), 4) Cacat moral ( tidak pernah terlibat kasus etika moral), 5) Cacat sosial (tidak  melakukan suatu  bisnis dan usaha yang membuat hidup rakyat menderita tanpa usaha untuk mengatasinya dengan baik).
           Menghadapi Pilpres 2014, para capres berlomba-lomba melakukan kampanye politik kepada rakyat Indonesia, bahwa merekalah yang pantas menduduki kursi presiden.           Kampanye persuasif pun dilakukan parpol di berbagai media untuk menjaring suara pemilih. Bahkan, strategi yang dianggap jitu dilakukan, seperti PDI-P mendeklarasikan Jokowi menjelang kampanye terbuka digelar.  Partai Gerindra semakin intensif mengiklankan dan menganggap Prabowo sebagai pemimpin ideal masa depan.  Kompas, 18 Januari 2014 menyebutkan, “ Prabowo dianggap sebagai antitesa terhadap Yudhoyono yang dinilai kurang tegas dan lambat dalam bereaksi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat. Partai Gerindra pun seperti mendapatkan amunisi tambahan”. Partai-partai lain tidak mau ketinggalan ikut mengkampanyekan politiknya.  Tujuannya sudah jelas, menarik simpati pemilih agar mendapatkan suara politik terbanyak dan jagoan melenggang ke Istana negara.
          Dari beberapa survei, rakyat Indonesia bisa mengetahui  capres yang menjadi harapan publik. Meskipun kesimpulan finalnya adalah pada Pilpres 2014 nanti. Dari survei Kompas menyatakan, “Dalam infografis berjudul “Sosok Presiden Pilihan publik”  digambarkan pergerakan suara dari Desember 2012, Juli 2013 dan Desember 2013. Jokowi menempati urutan teratas dengan dukungan suara yang terus naik dari 17,7 persen, 32,5 persen dan terakhir 43,5 persen. Urutan kedua ditempati Prabowo dengan perolehan suara terakhir 11,1 persen. Padahal Desember 2012, ia meraih 13,3 persen dan Juli 2013 sebanyak 15,1 persen. Aburizal di urutan ketiga dengan perolehan suara yang terus naik dari 5,9 persen, menjadi 8,8 persen, dan terakhir 9,2 persen. Wiranto di urutan keempat dengan suara yang juga terus naik, dari 1,6 persen, menjadi 3,3 persen, dan terakhir 6,3 persen”. Sedangkan melihat jumlah fans yang me-like di akun jejaring sosial facebook (Maret 2014) menghasilkan 10 besar capres unggulan yaitu: 1) Prabowo Subianto: 4.337.153, 2) Jusuf Kalla: 655.608, 3) Rhoma Irama: 354.807, 4) Wiranto: 193.556, 5) Anis Matta: 167.395, 6) Dahlan Iskan: 123.404, 7)  Aburizal Bakrie: 55.724, 8) Anies Baswedan: 33.132, 9) Joko Widodo: 18.681, dan  10) Hatta Rajasa: 17.874.
            Publik berharap, hasil seleksi capres di Pilpres 2014 adalah sosok yang akan menjadi negarawan sejati, jujur, tegas, mengayomi semua kalangan dan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia dari jurang kemiskinan. “Semestinya para pemimpin mematri di hati masing-masing pesan Ali bin Abi thalib (600-661). Sang Khalifah dengan tegas mengatakan, “Pengkhianatan terbesar adalah pengkhianatan kepada umat (rakyat). Dan penipuan paling kejam adalah penipuan yang dilakukan para pemimpin”” (Kompas, 4 Januari 2014). Semoga capres yang dihasilkan dari Pilpres 2014 haqul yaqin memenuhi semua janji yang telah dikampanyekan dan menjadi harapan publik. Salam Indonesia!

Referensi:
Luhulima, James. (2014). Tanda-tanda Zaman. Kompas, 18 Januari 2014.
SD, M Subhan. (2014). 2014. Kompas, 4 Januari 2014.
www.facebook.com

No comments:

Post a Comment