Tuesday, September 9, 2014

Pemberian Edukasi dan Sosialisasi sebagai Kunci Melek Finansial Sejak Dini




Pemberian Edukasi dan Sosialisasi sebagai Kunci
Melek Finansial Sejak Dini
Oleh Casmudi, S.AP

                                                                                                           

“Kalau ada orang kaya ataupun keturunan orang kaya yang memiliki warisan, kemudian suatu hari ia jatuh miskin, maka tidak lain karena ia tidak memiliki bekal yang cukup tentang kecerdasan finansial atau melek financial” (Sulitnih.com, 2013)

Kalimat di atas begitu menggugah kita. Kita sering melihat, bahwa banyak orang kaya jatuh miskin. Satu hal yang menjadi alasan adalah kurangnya pemahaman dalam mengelola keuangan. Perlu diketahui, bahwa kemajuan dalam pengelolaan keuangan setiap warga negara memberikan andil yang baik terhadap perbaikan ekonomi Indonesia. Ingat, kemajuan sebuah negara adalah dilihat dari kemajuan warga negaranya untuk mampu hidup sejahtera, bahkan modern di bandingkan dengan negara lainnya. Bagaimana dengan negara kita, Indonesia?
Indonesia sampai detik ini masuk dalam kategori negara berkembang, meskipun pertumbuhan ekonominya relatif stabil. Perlu diketahui, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5 persen per tahun, mengindikasikan tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia telah mengalami kenaikan atau kemajuan dari waktu ke waktu. Apalagi dengan adanya  indikator dari kenaikan angka Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2000 PDB per kapita Indonesia berjumlah Rp. 6,72 juta. Sedangkan, pada tahun 2012 angka telah melesat menjadi Rp. 33,34 juta (Stabilitas.co.id, 2014).
Kesejahteraan rakyat Indonesia memang masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara maju lainnya, seperti Jepang, Australia, Inggris, USA, Jerman, Perancis, Canada, Belanda, Italia, Rusia, China, Swiss dan lainnya. Apalagi kalau dilihat dari jaminan sosial masyarakatnya,   Indonesia belum mendapatkan predikat baik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa sekitar 55 persen dari seluruh rakyat Indonesia belum memiliki jaminan sosial. Adapun 45 persen atau sekitar 76 juta orang umumnya pegawai negeri dan swasta yang sudah memiliki jaminan kesehatan masyarakat. Rinciannya, 16 juta orang memiliki Askes, 4 juta mengantongi Jamsostek, 3 juta mempunyai asurasi komersial, dan 2 juta orang anggota Jamkesda (Businessreview.co.id, 2013).
Apalagi tingkat kemiskinan masyarakat Indonesia tercatat sebesar 28,07 juta jiwa (www.beritasatu.com). Mengapa demikian? Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah kurangnya masyarakat Indonesia untuk memahami arti penting Financial literacy atau yang biasa disebut melek finansial (kecerdasan keuangan). Melek finansial adalah kemampuan seseorang memahami keuangan serta kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam mengambil keputusan yang bersifat keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Di negara-negara seperti Australia, Jepang, Kanada, Amerika Serikta dan Inggris, melek finansial ini sudah menjadi program pemerintah, dengan asumsi bahwa jika individu di masyarakat telah melek finansial akan berdampak baik buat bangsa dan negara (Bewara.co, 2014). Menurut Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad menyatakan bahwa dari sisi melek finansial, Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Apalagi peran anak-anak Indonesia yang tumbuh sebagai bagian dari dunia yang semakin kompleks di mana mereka akhirnya akan perlu untuk mengambil alih masa depan finansial mereka sendiri.
Dengan adanya pertemuan Menteri Keuangan tingkat APEC dari beberapa negara pada tahun 2012 telah mengadopsi sebuah pernyataan kebijakan yang mengakui pentingnya pendidikan keuangan di sekolah seperti dalam laporan tahun 2013 The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)  (Sulitnih.com, 2013). Dengan demikian, Indonesia dituntut untuk bisa memberikan pembelajaran tentang melek finansial kepada masyarakatnya sejak dini. Kita mengetahui, bahwa pembelajaran tentang melek finansial (kecerdasan finansial) seperti nyaris tak terdengar (tidak ada gaungnya sama sekali). Apalagi, kita melihat fakta di lapangan bahwa pengetahuan tentang keuangan sepertinya menjadi hak esklusif seorang yang berprofesi di bidang keuangan (perbankan atau pasar modal). Padahal, seyogianya sejak kecil anak-anak harus dibekali dengan pemahaman keuangan yang cukup, seperti: bagaimana cara mengelola keuangan, cara menghasilkan uang, cara membelanjakan uang, berinvestasi, menabung, memakai produk asuransi, dan lain-lain. Kekurangpahaman tentang keuangan inilah yang menyebabkan aak-anak Indonesia terlambat untuk bersikap mandiri setelah dewasa. Di negara-negara maju, anak-anak yang sudah lulus SMA diajarkan untuk hidup mandiri dengan melakukan pindah tempat tinggal seperti ke kota besar lainnya. Bahkan banyak yang menyewa apartemen atau flat untuk kuliah sambil bekerja. Mereka dilatih untuk mengatur keuangan sejak dini (Bewara.co, 2014).
Survey Literasi Keuangan
Dengan adanya berbagai krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia, sebenarnya mengarah pada pemahaman tentang kecerdasan finansial. Hal inilah yang merupakan indikasi perlunya pembelajaran financial literacy guna memberikan pemahaman kepada masyarakat mulai dari anak sekolah hingga UMKM dalam pengelolaan yang efektif. Mengapa financial literacy begitu penting? Menurut riset dari Organisation for Economic Cooperation and Development (2005) yang berjudul “Increasing Financial Literacy”, yang menyatakan bahwa pendidikan atau pengetahuan finansial menjadi semakin dibutuhkan karena sekarang ini orang sedang dihadapkan dengan instrument financial yang semakin kompleks. Melek finansial bukan hanya membuat kita menggunakan uang dengan bijak, namun juga dapat memberi manfaat pada ekonomi suatu negara. Bahkan, sebuah penelitian di Australia pernah mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan finansial pada 10 persen populasi akan berpotensi meningkatkan ekonomi Australia sebesar 6 miliar dollar Australia per tahun dengan cara membuka 16.000 lapangan kerja baru.
            Survey tingkat literasi keuangan pernah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia yang dilakukan di 20 provinsi Indonesia semester pertama tahun 2014 dengan responden yang digunakan sebagai sampel berjumlah 8.000 orang, di mana pemilihan responden dilakukan dengan metode stratified random sampling. Survey ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk dapat memahami dan mengevaluasi informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan dengan memahami konsekuensi finansial yang ditimbulkan. Adapun, tujuan diadakannya survei adalah 1) untuk memetakan tingkat literasi keuangan terkini masyarakat di Indonesia, 2) sebagai bahan cetak biru strategi nasional literasi keuangan Indonesia, 3) mengukur efektivitas program edukasi keuangan kepada masyarakat, dan 4) mendorong lembaga jasa keuangan untuk mengembangkan produk dan jasa keuangan yang dibutuhkan masyarakat.
Penilaian dari survey tersebut meliputi: 1) Well Literate, masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan, 2) Sufficient Literate,  masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan,  3) Less Literate, masyarakat yang hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan, dan 4) Not Literate, masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Hasil dari survei menunjukan bahwa secara keseluruhan masyarakat Indonesia masih belum memiliki tingkat literasi keuangan yang memadai. Oleh karena itu, seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial (Stabilitas.co.id, 2014).
Financial Leteracy Dalam Mengatur Keuangan
Pengetahuan tentang Financial Literacy sangat penting untuk dipahami sejak dini, agar kita bisa mengatur keuangan kita. Karena keuangan kita tidak bisa berkembang tanpa  adanya campur tangan kita tentang melek finansial tersebut. Coba kita bayangkan, seandainya kita dipecat dari sebuah pekerjaan saat ini juga. Sementara pekerjaan tersebut menopang kehidupan kita, dan pengetahuan finansial kita masih minim sejak dini. Menurut Rahmad Budi Harto (2014) dalam tulisannya yang mengupas tentang survey sebuah bank swasta terhadap responden tentang ketahanan keuangan (tabungan) seandainya diberhentikan dari tempat kerja. Lebih dari setengah responden (52 persen) merasa tabungan mereka hanya dapat menutupi kebutuhan hidup selama tiga bulan dan 15 persen lagi mengaku tabungan mereka hanya bisa menopang hidup satu bulan saja. Kita harus memahami bahwa tabungan dalam bentuk apapun merupakan garis pertahanan ekonomi yang harus diperkuat menghadapi situasi ketidakpastian, selain upaya memenuhi kebutuhan bulanan dan juga menabung untuk hari tua.
Itulah sebabnya tingkah laku manusia terhadap finansial sangat dipengaruhi oleh pemahaman finansial yang didapatnya sejak dini dari lingkungan keluarga. Seperti apa yang dikatakan oleh Godo Tjahjono, Assistant Vice President PT Sun Life Financial Indonesia, bahwa anak-anak yang melek finansial akan mampu membaca, memahami, dan mengendalikan keuangannya. Selanjutnya, ada beberapa aspek dasar yang mesti dipahami seperti konsep uang sebagai alat tukar. Menurutnya, pengertian yang harus diberikan adalah anak-anak harus memiliki sejumlah uang untuk dapat memiliki sesuatu yang diinginkan, jika ternyata uang tersebut tidak cukup maka orang tua harus mengajarkan anak untuk menahan keinginannya hingga uangnya mencukupi. Orang tua jangan membiasakan anak mengambil sesuatu sesuka hatinya dan kemudian orang tua tinggal membayar. Ketika memasuki usia sekolah, orang tua bisa mulai memperkenalkan uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi uang juga dapat disisihkan untuk tabungan atau disumbangkan kepada yang membutuhkan. Kemudian pada usia sekolah, anak dapat diajarkan cara mengelola uang. Uang saku yang diberikan secara rutin misalnya mulai dari SD secara harian, SMP mulai mingguan, dan SMU bisa bulanan. Jadi, hal terpenting yang perlu ditekankan adalah menanamkan pada anak, bahwa uang bukan semata-mata untuk jajan, tetapi bisa berfungsi sebagai tabungan untuk berjaga-jaga atau untuk membiayai sesuatu jika diinginkan.
            Banyak hal yang bisa kita berikan kepada anak dalam mempelajari melek finansial berhubungan dengan uang saku agar mampu meningkatkan kebiasan baik dan terampil dalam mengelola keuangan secara mandiri, yaitu:  1) Menabung. Untuk anak usia sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, tanamkan kebiasaan menabung dengan memberi kebebasan pada anak untuk menggunakan uang saku. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah orang tua selalu mendorong anak-anak untuk menyisihkan sebagian untuk ditabung, contoh:  membeli barang bernilai tinggi yang diinginkan; 2) Tabungan Pensiun. Tidak salah jika kita perlu memberikan pemahaman kepada anak jika mereka nanti menjadi orang tua dan tidak bisa bekerja lagi, perlu adanya uang pensiun untuk menopang hidup mereka. Karena, mayoritas orang mulai memikirkan dana pensiun setelah bekerja; 3) Berinvestasi. Ketika anak kita usia mulai beranjak naik, anak perlu diajari soal berinvestasi agar uang simpanan berkembang lebih cepat, seperti mengenalkan anak dengan berbagai instrumen investasi yang ada mulai dari real estate, kepemilikan usaha, saham, obligasi, reksa dana, dan sebagainya. Hal ini tidaklah salah, karena semakin dini semakin baik (Jaka Cahyono, 2011). Oleh sebab itu, akan terjadi perbedaan perputaran uang sebelum dan sesudah pemahaman melek finansial yang terjadi pada anak kita, apalagi jika usianya mulai beranjak dewasa yang harus belajar mandiri.  



   
Dengan memahami keuangan, kita dapat melihat bahwa keuangan yang kita miliki, sebesar 40% untuk modal kerja, 30% untuk kebutuhan sehari-hari dan 30% lainnya untuk kebutuhan masa depan. Di sini, kita dapat melihat bahwa anak-anak kita diajarkan untuk peduli dalam mengelola keuangan dan masa depannya.
Pelan tapi pasti, anak kita pun harus memahami melek finansial dalam 2 (dua) bentuk laporan keuangan, yakni arus kas (cashflow) yang terdiri dari pemasukan dan pengeluaran  dan aktiva (harta) yang terdiri dari asset dan liabilitas. Anak-anak kita harus memahami pemasukan (income) seperti gaji, royalti, bunga dan semua penghasilan yang di dapat dengan menukarkan waktu anda secara langsung maupun tidak langsung, pengeluaran  (expenses) seperti semua biaya hidup mereka dan keluarganya, serta semua cicilan asset mereka (bergerak ataupun tidak bergerak). Aset (Asset) merupakan semua hal yang menyebabkan pemasukan (income) cashflow anda seperti rumah/mobil yang disewakan, royalty dari barang ciptaan, deviden saham, bunga bank, dan sebagainya, sedangkan liabilitas (Liability) merupakan semua kewajiban yang masih menjadi beban dan menyebabkan pengeluaran cashflow seperti cicilan rumah, cicilan mobil, pembayaran iuran, dana pensiun tahunan, kewajiban biaya hidup keluarga, dan sebagainya (Mulyowiharto.wordpress.com, 2010).
            Oleh sebab itu, pemberian edukasi dan sosialisasi melek finansial menjadi kunci untuk meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Pemberian edukasi dan sosialisasi pada anak sejak dini dalam mengelola keuangan mereka dan memahami pentingnya lembaga keuangan beserta produk-produk yang dihasilkannya diharapkan bisa meningkatkan kemandirian keuangan sejak dini. Apalagi, saat ini banyak lembaga keuangan yang memberikan pemahaman melek finansial di sekolah.  Studi menunjukkan bahwa kurikulum melek finansial yang berkualitas dapat membuat siswa lebih termotivasi untuk mempersiapkan sejak dini kehidupan masa depan yang terencana (Stie-mce.ac.id, 2013). Sedangkan, menurut sulitnih.com menegaskan bahwa tujuan pendidikan keuangan adalah untuk meningkatkan pemahaman dasar dan penting mengenai topik-topik keuangan seperti menabung, belanja, investasi dan perencanaan keuangan. Dengan begitu ketika para remaja ini tumbuh dewasa, mereka akan lebih familiar dengan topik-topik ini dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman keuangan yang baik, mereka akan mampu membuat keputusan keuangan dengan baik.
Kontribusi Orang Tua,  Guru dan Lembaga Keuangan
            Sebagai orang tua yang lebih dekat secara naluri dengan anak-anaknya, memberikan pemahaman tentang keuangan menjadi sebuah keniscayaan. Berdasarkan hasil penelitian dari National CPA Financial Literacy Commission menyatakan bahwa 30% orang tua mengaku tidak pernah atau jarang membicarakan perihal keuangan bersama anak-anaknya. Hanya 13% orang tua membicarakan masalah keuangan sehari-hari. Tetapi, sebesar 67% orang tua merasa mereka punya ilmu tentang keuangan sehingga bisa mengajari anak-anaknya tentang menabung (Neraca.co.id, 2014). Pemahaman keuangan pada anak-anak secara bertahap, seperti sebelum usia sekolah, anak-anak diajarkan untuk belajar menyimpan atau menyisihkan uang mereka di celengan. Setelah memasuki usia sekolah, orang tua memberi pemahaman pada anak untuk memiliki target tabungan dalam jangka waktu tertentu. Oleh sebab itu, kebiasaan menabung agar menjadi kegiatan rutin. Menurut Godo Tjahjono, Assistant Vice President PT Sun Life Financial Indonesia juga menegaskan agar anak mengerti bahwa jumlah uang yang bisa disimpan jauh lebih penting dibandingkan dengan jumlah uang yang didapat. Dengan demikian, ketika memasuki masa remaja, orang tua harus lebih terbuka tentang keuangan keluarga pada anak-anaknya. Hal ini dilakukan agar anak sadar bahwa di dunia nyata tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa menjamin kepastian finansial seumur hidup. Orang tua menanamkan bahwa kecerdasan dan keterampilan finansial adalah modal yang sangat penting untuk survive dalam ketidakpastian.



 Anak-anak kita harus memahami bahwa masalah keuangan adalah masalah yang dihadapi setiap orang seumur hidup, dari lahir hingga  meninggal. Anak-anak juga perlu memahami bahwa saat menikah nanti dituntut untuk cerdas secara finansial, mengingat banyak sekali keputusan finansial yang harus dibuat, dari biaya pernikahan, membeli atau menyewa rumah/tempat tinggal, biaya persalinan anak, pendidikan anak, kesehatan, investasi, dan lain-lain. Rumah tangga adalah medan tempur yang riil untuk mengaplikasikan pengetahuan finansial untuk membangun keluarga melek finansial. Keluarga melek finansial tak berarti harus kaya raya, tetapi bisa mengelola keuangan dengan baik. Makanya perlu memberi pemahaman melek finansial pada anak-anak kita agar sejak usia dini (Bewara.co, 2014). Sama halnya apa yang dikatakan oleh Laura Levine, direktur eksekutif yayasan nonprofit JumpStart Coalition for Personal Financial Literacy, yang menegaskan bahwa perlunya menanamkan sadar uang tidak membutuhkan banyak perencanaan atau pengetahuan. Tetapi, mendorong orang tua untuk fokus pada hal-hal mendasar, seperti perbandingan belanja dan pentingnya merencanakan keuangan dan menabung. Saat anak menguasai konsep ini, mereka akan lebih banyak tahu daripada orang dewasa. Jadi, kunci utama adalah orang tua memulai sejak dini dan membicarakan topiknya agar bisa dimengerti anak (Parentsindonesia.com, 2014)
            Dalam memberikan pelajaran tentang keuangan di sekolah, peran guru juga sangat berpengaruh terhadap siswa mengenai keuangan. Pemberian kurikulum melek finansial yang berwawasan nyata akan memberikan dampak yang luar biasa kepada siswa untuk mempraktekan dalam dunia nyata. Oleh karena itu, Kurikulum Melek Finansial seharusnya: 1) Harus ada contoh nyata dari praktek pembelajaran melek finansial, tentang aturan pengelolaan keuangan yang berlaku dan arah setiap tujuan keuangan yang telah ditetapkan, serta cara mengantisipasi setiap permasalahan yang mungkin timbul dari perubahan dinamika kehidupan; 2) Mendorong perencanaan dan pemikiran ke depan. Permasalahan keuangan dapat dihindari dengan penganggaran yang terencana dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi siswa harus mendapat pelajaran mulai dari perencanaan, pengaplikasian dan penganalisaan atas setiap perubahan yang terjadi; dan 3) Pastikan kurikulum melek finansial tersebut relevan dan terkini. Informasi keuangan dan permasalahan keuangan harus selalu up to date (Sulitnih.com, 2013). Apalagi jika pengaplikasian ilmu melek financial yang teradaptasi dengan kurikulum tempat siswa belajar memberikan kesempatan bagi siswa mengenal pembelajaran pengelolaan keuangan di kehidupan nyata. Perlu diketahui, saat ini sudah  masuk dalam dunia android yang manfaatnya untuk pembelajaran masalah financial literacy memberikan manfaat yang jelas. Perlu adanya tenaga-tenaga terdidik yang mengajarkan melek financial sangat agar financial planning di dunia nyata tidak mengalami kendala. (Stie-mce.ac.id, 2013).
Sosialisasi Produk dan Jasa Keuangan
Cara pengenalan produk dan jasa keuangan yang paling mudah buat anak-anak kita adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya menabung untuk masa depan. Banyak bank yang berusaha mendekatkan pemahaman kepada masyarakat, seperti kalangan pendidikan untuk memahami makna menabung untuk masa depan. Bank Indonesia (BI) selaku bank central pun berperan dalam memberikan pemahaman melek finansial kepada masyarakat untuk gemar menabung.  Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman D Hadad, menilai minat menabung masyarakat Indonesia masih kalah dengan Malaysia, sehingga perlu upaya perbankan untuk terus memberikan edukasi. Perbankan harus terus mendorong edukasi agar masyarakat melek finansial sejak dini. Banyak lembaga perbankan yang menciptakan program untuk membuat anak-anak melek dunia keuangan. 



Makanya, memberikan pemahaman tentang financial literacy pada anak-anak sejak dini, sama halnya berusaha memperkenalkan pendidikan strategi mengatur keuangan yang bermuara pada sosialisasi pengenalan produk dan jasa keuangan. Dengan mengenal produk dan jasa keuangan diharapkan anak-anak berkembang menjadi orang dewasa yang bisa ikut andil dalam perbaikan ekonomi bangsa. Dampaknya setelah dewasa, anak-anak bisa menjadi bagian dari penduduk Indonesia yang masuk dalam golongan menengah ke atas. Menurut analisis Boston Consulting Group pada pertengahan tahun lalu, menyatakan bahwa setiap tahunnya akan ada sekitar delapan hingga sembilan juta orang Indonesia yang memasuki kelas menengah (emerging affluent) dan kelas atas (affluent), seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi. Indikatornya, adalah bahwa dalam survey tersebut, sebesar 78% responden mengatakan bahwa mereka tertarik untuk menggunakan jasa pengelolaan kekayaan (wealth management), meskipun hanya 11% saja yang sudah menggunakan jasa wealth management tersebut. Survey juga menunjukkan bahwa 70% responden merasa kondisi keuangan mereka lebih baik dibanding tahun lalu, 18% yang merasa stagnan dan 13% merasa situasi lebih buruk. Selanjutnya, untuk menghadapi situasi ekonomi yang tidak kondusif, sebanyak 48% mengaku tahu persis langkah investasi apa yang akan mereka ambil. (Rahmad Budi Harto, 2014).




            Dengan memahami melek finansial dalam mengenal produk dan jasa keuangan sejak dini, kita juga dihadapkan pada berbagai kemungkinan yang tidak pasti, seperti biaya pengobatan secara tiba-tiba. Apalagi biaya pengobatan di Indonesia setiap tahunnya selalu bertambah mahal. Dengan memperkenalkan anak-anak kita pada produk dan jasa keuangan, agar terlahir sosok yang siap segala kemungkinan terburuk. Menurut laman Businessreview.co.id  (2013) yang  menyatakan tentang hasil survei Global Medical Trends Report dari Towers Watson pada 2012 yang mengeluarkan catatan, bahwa biaya pengobatan kian meningkat dari 10,70 persen menjadi 13,55 persen per tahun. Padahal, kenaikan pendapatan orang Indonesia hanya 1,2 persen per tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk 2011-2012. Dengan demikian, ada kesenjangan yang lebar antara kebutuhan kesehatan dan ketersediaan dana. Oleh sebab itu, perlunya pemahaman pengelolaan keuangan yang ditanamkan sejak dini supaya bisa menopang biaya kesehatan yang kian tinggi. Ada 3 penyebab baiya kesehatan semakin tinggi setiap tahun, yaitu: 1)  sebesar 52% dikarenakan biaya teknologi medis terbaru lebih tinggi; 2) 50% pengobatan yang diberikan kepada pasien terlalu berlebihan; dan 3) 31% sarana kesehatan untuk memperoleh keuntungan lebih banyak.
            Pengenalan melek finansial pada anak-anak lainnya adalah pengenalan betapa pentingnya asuransi sebagai jaminan (perlindungan) masa depan. Apalagi, jika ditambah dengan instrument investasi lainnya. Semakin panjang horison investasi, semakin besar potensi kekayaan yang bisa diakumulasi. Terkait dengan proses dan horison waktu tadi, maka kesabaran dan konsistensi sangat diperlukan (pengendalian emosi). Dengan kata lain, kita akan mengajari anak-anak kita bahwa investasi tidak berjalan dalam waktu yang singkat. Perlu kesabaran untuk masa depan (Peacbromo.co.id, 2013). Sedangkan, dengan mengikuti program asuransi kita akan diberikan jaminan perlindungan yang maksimal. Sayangnya, ketertarikan terhadap asuransi masih rendah. Menurut Elin Waty, Chief Distribution Officer PT Sun Life Financial Indonesia mengatakan, “Berdasarkan survei, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia membiayai sendiri biaya dokter atau rumah sakit. Artinya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk mempunyai asuransi kesehatan masih rendah. Padahal, ia menegaskan, asuransi adalah sebuah solusi dari kondisi yang tak berimbang tersebut” (Eva Martha Rahayu, 2013). Sebagai orang tua berusaha untuk memberikan pemahaman betapa pentingnya asuransi dalam kehidupan. 



Akhirnya, memberikan pemahaman melek finansial kepada anak-anak kita sejak dini dengan pendidikan keuangan dan sosialisasi berbagai produk dan jasa keuangan sangat bermanfaat sebagai modal untuk menjalani hidup saat dewasa atau membangun rumah tangga. Perlu adanya peran orang tua yang memberikan pemahaman sejak dini, guru di lembaga pendidikan yang menanamkan pembelajaran tentang keuangan kepada siswa dan lembaga keuangan sendiri dalam memberikan program sosialisasi masyarakat dalam mengatur keuangan. Perlunya melek finansial sejak dini dikarenakan saat ini kita dihadapkan pada kehidupan global yang disuguhkan berbagai produk dan jasa keuangan. Semakin dini anak kita mengenalnya, semakin pandai mengelola keuangan di saat dewasa. Bukan hanya itu, dengan memahami keuangan, anak-anak kita tidak akan kaget dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk saat dewasa. Karena satu hal, mereka telah mempunyai jaminan atau perlindungan hidup di masa depan sejak dini.  


Referensi:
Bewara.co. (2014). OJK Dorong Kaum Difabel Melek Keuangan. Diambil Dari http://bewara.co/read/2014/07/ojk-dorong-kaum-difabel-melek-keuangan/
Businessreview.co.id. (2013). Besutan Sun Life Proteksi Keluarga Sedari Dini. Diambil dari  http://www.businessreview.co.id/bisnis-investasi-3821.html
Cahyono, Jaka. (2011). Mendorong Anak Melek Finansial. Diambil dari http://jecahyono.wordpress.com/2011/10/05/mendorong-anak-melek-finansial/
Harto, Rahmad Budi.  (2014). Masyarakat Makin Melek Finansial. Diambil dari http://m.businessweekindonesia.com/article/read/3496/masyarakat-makin-melek-finansial
Mulyowiharto.wordpress.com. (2010). Melek finansial. Diambil dari http://mulyowiharto.wordpress.com/2010/05/31/melek-finansial/
Neraca.co.id. (2014). Edukasi Finansial Sejak Dini, Bank Ekonomi Luncurkan Program Mempelajari Diri Sendiri. Diambil dari http://www.neraca.co.id/article/39119/Edukasi-Finansial-Sejak-Dini
Parentsindonesia.com. (2014). Membesarkan Anak Cerdas Finansial. Diambil dari http://www.parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=feature&id=2197
Peacbromo.co.id. (2013). Menata Financial Sedini Mungkin. Diambil dari http://peacbromo.co.id/menata-financial-sedini-munkin/
Rahayu, Eva Martha. (2013). Proteksi Keluarga Sejak Dini dengan Asuransi Kesehatan. Diambil dari http://swa.co.id/business-strategy/proteksi-keluarga-sejak-dini-dengan-asuransi-kesehatan
Stie-mce.ac.id. (2013). Financial Literacy Harus Diperkenalkan Sejak Dini. Diambil dari http://news.stie-mce.ac.id/2013/02/financial-literacy-harus-diperkenalkan-sejak-dini/
Sulitnih.com. (2013). Pentingnya Melek Finansial Sejak Dini. Diambil dari http://sulitnih.com/2013/03/06/pentingnya-melek-finansial-sejak-dini/

Tag:  SUN LIFE
        PERLINDUNGAN KELUARGA
        MELEK FINANSIAL
        KESEJAHTERAAN

No comments:

Post a Comment