Monday, August 15, 2016

Cerita Rakyat Kota Ngawi Jawa Timur



Keberanian Rakyat dan Kejujuran Raja
Oleh Casmudi, S.AP

Di sebuah negeri bernama Ngawi, bertahta Kerajaan Ringin Anom. Matahari masih malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Suasana masih pagi dan agak gelap yang mengakibatkan jarak pandang terasa samar-samar.  Apalagi, udara masih terasa dingin menusuk tulang, karena hujan deras semalaman. Ayam jantan mulai berkokok saling bersahutan menambah suasana khas pedesaan. Selanjutnya, penduduk mulai terlihat mempersiapkan diri untuk mencari rejeki. Ada yang mempersiapkan alat bajak sawah menggunakan hewan ternak, memanggul cangkul menuju sawah, mempersiapkan alat pandai besi dan lain-lain. Di sisi lain, ibu-ibu mempersiapkan keperluan suaminya untuk bekerja di sawah atau mempersiapkan diri untuk membawa perlengkapan belanja di pasar desa. 
“Sampurasun … sepertinya panen musim ini akan berlimpah kisanak”  sapa Bapak berjenggot dan memakai caping coklat, berbaju dan bercelana panjang warna hitam.
“Rampesss … Betul Bopo, mudah-mudahan panen musim ini berlimpah dan menguntungkan” jawab Bapak Petani setengah baya berbaju lusuh dan bercelana hitam pendek yang hanya memanggul cangkul. Topinya pun sama berjenis caping. Hanya warnanya hijau muda.
“Kalau boleh tahu, siapakah Bopo dan dari mana berasal?
“Saya juga warga Ringin Anom seperti kisanak. Saya hanyalah petani yang sedang belajar tata cara bercocok tanam yang baik dari orang lain agar hasil panen selalu menguntungkan. Kebetulan saat ini sedang berkeliling dan bertemu dengan kisanak” jawab Bapak berjenggot tersebut.
“Kalau begitu, saya mohon pamit untuk buru-buru menuju sawah Bopo” “Silahkan kisanak, semoga Tuhan memberikan rejeki yang berlimpah kepada kita semua” jawab Bapak berjenggot mengakhiri pembicaraan.
“Terima kasih Bopo”
Tidak jauh dari Bapak berjenggot, berdiri siap siaga 2 orang yang selalu mengawasi gerak-gerik yang ada di sekelilingnya. Selidik punya selidik, 2 orang tersebut juga sedang menyamar adalah pengawal kerajaan. Bapak yang berjenggot dan bercaping coklat ternyata seorang Baginda Raja dari Kerajaan Ringin Anom yang sedang melakukan penyamaran secara berkala terhadap kondisi rakyat yang dipimpinnya.  Hingga kini, penyamaran sang Baginda Raja berjalan mulus dan tidak pernah terbongkar. Pegawai kerajaan benar-benar bisa dipercaya dan menutup rapat-rapat aksi penyamaran Baginda Raja tersebut.
            Jauh dari desa Ringin Anom, yaitu di Desa Melawi yang terletak di pedalaman kaki Gunung Arga Melawi di sebelah barat laut Kerajaan Ringin Anom, terdapat sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga miskin. Kondisi rumah yang berdindingkan bambu dan terdapat lubang menganga di mana-mana. Lubang-lubang tersebut hanya ditutup dengan alat sederhana, yaitu anyaman daun pandan dan daun kelapa. Lantai rumahnya masih beralaskan tanah. Di ruang tamunya pun tidak terdapat apa-apa. Hanyalah anyaman kayu mendong berukuran satu lompatan orang dewasa. Kondisinya sudah robek karena di makan usia. Sebuah kendi hitam yang sudah sedikit pecah menghiasi bagian tengah tikar mendong tersebut. Bambu-bambu penyangga rumah pun mulai miring termakan rayap. Atap rumah yang terbuat dari anyaman daun ilalang banyak yang berlubang di beberapa bagian. Di bagian dinding rumah terdapat peralatan untuk memotong sabit yang diletakan di jepitan antara  kulit bambu.
Tempat tidur yang dipakai hanya beralaskan anyaman daun pandan seadanya. Jika melihat kondisi ruang dapurnya, terdapat sebuah tempat duduk sederhana dari bambu yang bisa diduduki 3 orang dewasa dan sebuah panci tanah liat untuk memasak nasi. Beberapa lembar daun pisang dan daun jati yang digunakan untuk alas makan dan tumpukan kayu kering yang telah lapuk dan menghitam terlihat di sekeliling tungku api. Bahkan, daun-daun berbagai tumbuhan, seperti mangga, jambu dan lain-lain juga digunakan sebagai tambahan bahan bakar memasak. Kondisinya sangat sederhana.
Penghuni rumah yang sederhana tersebut adalah sepasang suami istri setengah baya yang mempunyai anak lelaki semata wayang bernama Jaka  Lelana. Jaka Lelana adalah anak yang baik, hormat dan patuh terhadap orang tua. Ayahnya bernama Sirna Angga Bumi dan ibunya bernama Anggi Banyu. Meskipun usia Jaka Lelana hampir 20 tahun, tetapi kehidupannya bagai katak dalam tempurung. Sebenarnya wajahnya ganteng dan postur tubuhnya yang tinggi sekilas merupakan dambaan para wanita. Tetapi, jika melihat kondisi kulit tubuhnya sungguh mengenaskan. Hampir seluruh tubuhnya terdapat penyakit kudis (budug) yang susah disembuhkan. Karena kondisi tubuhnya, Jaka Lelana  sering disebut oleh penduduk sekitarnya dengan sebutan Jaka Budug. Hampir semua wanita dan penduduk yang ada di sekitarnya tidak mau berinteraksi dengannya karena takut ketularan penyakitnya. Bahkan, Jaka Budug sering mendapat ejekan dari teman sebayanya yang membuatnya nestapa.
Sebenarnya, penyakit yang diderita oleh Jaka Budug muncul secara tiba-tiba saat usia masih balita. Konon, penyakit tersebut merupakan imbas dari kebiasaan ayahnya yang suka berkelana dan bersemedi di tempat keramat untuk mendapatkan ilmu kesaktian tingkat tinggi dan tiada tanding. Ilmu kesaktian tingkat tinggi yang berjuluk Tapak Bumi Meraga Sukma bisa diperoleh setelah bersemedi selama 40 hari 40 malam tanpa makan, minum dan tidur. Dampak yang luar biasa adalah Jaka Lelana mengidap penyakit kulit yang berkepanjangan dan  bisa disembuhkan hanya dengan percikan darah dari seekor naga jelmaan dari orang sakti.
            Karakter Sirna Angga Bumi adalah orang yang selalu berpendirian teguh dan memegang ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk dan tidak mau memamerkan kesaktiannya di muka umum. Tetapi, jika ada orang yang mau mencelakainya maka ilmu kesaktiannya merupakan senjata pamungkas yang digunakan untuk melumpuhkan lawan. Bahkan, keseringannya berkelana dan bersemedi Sirna Angga Bumi mampu mempunyai senjata sakti tingkat tinggi berupa keris pusaka bernama Keris Sakti Kyai Raga Sukma. Keris pusaka tersebut diperoleh ketika bersemedi di gua terangker yaitu: Gua Arga Dumadi, sebelah timur negeri Ngawi.
Berita kesaktian  Sirna Angga Bumi menyebar seantero negeri. Tetapi, Sirna Angga Bumi selalu merendah. Oleh sebab itu, para penduduk  pun tidak kenal dengan sosok Sirna Angga Bumi tersebut. Kesaktian Sirna Angga Bumi membuat iri pendekar lainnya, tidak terkecuali Suro Dumadi yang tinggal tidak jauh dari gunung Arga Dumadi. Bahkan, tanpa sepengetahuan penduduk, Suro Dumadi juga bersemedi di gua Arga Dumadi untuk menandingin kesaktian Sirna Angga Bumi. Sayangnya, sikap Suro Dumadi  berbeda jauh dibandingkan dengan Sirna Angga Bumi. Suro Dumadi  bersikap sombong dan sering menantang penduduk yang menjatuhkan wibawanya. Bahkan, banyak penduduk yang meninggal karena kesaktian Suro Dumadi. Suro Dumadi  menganggap dirinya sebagai orang tersakti seantero negeri. Tetapi, perasaan  gembira Suro Dumadi  belum terpuaskan sebelum mengalahkan kesaktian Sirna Angga Bumi. Suro Dumadi  yakin dengan kesaktian dan senjata sakti miliknya bernama Gada Naga Sakti Pusering Jagat mampu mengalahkan kesaktian Sirna Angga Bumi. Suatu saat nanti, Suro Dumadi bertekad ingin mengalahkan Sirna Angga Bumi.
            Kebiasaan setiap hari Sirna Angga Bumi adalah mencari kayu bakar dan ikan untuk keperluan memasak. Joko Budug pun sering diajaknya untuk mencari kayu bakar sampai ke pelosok hutan. Setelah bekerja seharian mencari kayu bakar dan ikan di sungai, keluarga Sirna Angga Bumi membiasakan berdiskusi di malam hari sebelum tidur. Kehidupan yang miskin, serta penyakit yang diderita Jaka Budug membuat Sirna Angga Bumi tidak putus asa dalam menjalani hidup. Dalam kemiskinannya, Sirna Angga Bumi dan istrinya sering memberikan motivasi agung untuk membangkitkan gairah hidup Jaka Budug. Bahkan, sebelum meninggal dunia Sirna Angga Bumi bertekad menurunkan ilmu kesaktiannya dan keris pusaka ke diri Jaka Budug.
“Jaka, hidup ini memang keras. Jangan pernah berputus asa untuk menjalani hidup. Bapak mau tanya, apakah kamu putus asa menjalani hidup dengan penyakit yang kamu derita? “ tanya Sirna Angga Bumi kepada Jaka Budug di suatu malam.
“Iyo le, hidup ini memang sudah takdir Tuhan.  Sing sabar yo le? Anggi Banyu menimpali. Tidak terasa air mata pun menetes. Anggi Banyu pun memeluk tubuh Jaka Budug dengan penuh kasih sayang.
“Bapak dan ibu tidak usah khawatir. Jaka sudah menerima keadaan ini dengan ikhlas dan sabar dari dulu. Jaka tahu, bahwa penyakit ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan” jawab Jaka Budug penuh kerendahan dan keikhlasan hati.
“Tetapi, kamu tidak usah khawatir le. Setelah kamu belajar pelan-pelan ilmu kesaktian yang Bapak miliki, Bapak ingin mewarisi keris pusaka sebelum Bapak meninggal. Tunggu sebentar!” pesan Sirna Angga Bumi. Selanjutnya,  Sirna Angga Bumi masuk ke ruang tidurnya dan kembali lagi dengan membawa sebuah keris pusaka dengan warangka coklat keemasan bergambar ukiran bunga dan sepasang ular naga saling berhadapan.   
“Bapak ingin mewarisi keris pusaka ini le. Ini namanya Keris Sakti Kyai Raga Sukma. Ini adalah keris pusaka tiada tanding. Tetapi, Bapak pesan pusaka ini dijaga baik-baik dan bisa digunakan jika untuk kebaikan dan membantu sesama yang membutuhkan. Ngerti le?”  jelas Sirna Angga Bumi sambil menyerahkan pusaka tersebut kepada Joko Budug. Keris pusaka  tersebut mempunyai luks sepuluh yang terbuat dari baja pilihan yang hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai kesaktian tingkat tinggi.
“Matur sembah nuwun Bapak. Semoga pusaka ini berguna bagi sesama” jawab Jaka Budug. Akhirnya pembicaraan serius pun berakhir. Malam mulai menjelang pagi. Tiga orang dalam keluarga tersebut pun terlelap dalam tidur dengan mimpi-mimpi yang indah.
Pagi harinya, Sirna Angga Bumi berniat mencari kayu bakar ke pelosok hutan tanpa ditemani Jaka Budug karena ibunya sakit. Sirna Angga Bumi sulit mendapatkan kayu bakar hingga menjelang sore. Tanpa terasa sampailah di dekat mulut Gua Arga Dumadi tempat bersemedinya terakhir. Tetapi, kekagetan menyergapnya saat seorang laki-laki yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat dan membawa gada menghadangnya.
“Hai sobat, mau ke mana tujuanmu? tanya lelaki yang ternyata Suro Dumadi.
“Saya hanyalah rakyat biasa yang sedang mencari kayu bakar untuk keperluan memasak Tuan” jawab  Sirna Angga Bumi.
“Sobat tahu nggak, bahwa mencari kayu bakar di sini dikenai upeti. Dan tidak seorang pun berani memasuki kawasan ini tanpa seijinku. Jelas! Siapa namamu?” hardik Suri Dumadi.
“Saya Sirna Angga Bumi Tuan. Mohon ampun jika telah memasuki kawasan kekuasaan Tuan tanpa sengaja” jawab Sirna Angga Bumi.
“Hah, jadi kamu yang namanya Sirna Angga Bumi. Sudah berbulan-bulan saya ingin bertemu denganmu. Akhirnya tanpa sengaja aku bertemu di sini di mulut Gua Arga Dumadi. Kebetulan sekali,aku ingin membunuhmu!”
“Mengapa Tuan ingin membunuhku. Salah hamba apa?”jawabnya kalem.
“Kamu tidak usah berlagak bego. Semua penduduk seantero negeri tahu tentang kesaktianmu. Dan saat ini, saya ingin mengakhiri hidupmu. Mengerti! bentak Suro Dumadi.
Akhirnya, tanpa diduga perang kesaktian pun terjadi. Dengan terpaksa  Sirna Angga Bumi meladeni tantangan Suro Dumadi. Perang tanding berlangsung hingga malam hari tanpa ada yang menang dan kalah. Suro Dumadi menghantamkan senjata pamungkas gadanya ke arah Sirna Angga Bumi hingga tergeletak tidak berdaya dan akhirnya meninggal dunia. Ajaibnya, fisik Sirna Angga Bumi menghilang dan berganti menjadi tumbuhan unik bercabang dua bernama Sirna Ganda. Selanjutnya, meskipun kondisinya berlumuran darah dan berjalan terhuyung-huyung Suro Dumadi tertawa terahak-bahak atas kemenangannya membunuh Sirna Angga Bumi. Suro Dumadi pun berniat untuk membawa bunga Sirna Ganda tersebut sebagai kenang-kenangan.
Di saat tangannya menyentuh bunga tersebut, keajaiban pun terjadi. Tubuh Suro Dumadi yang bertampang sangar dan berjiwa jahat mendadak berubah  menjadi seekor naga sakti yang mampu menyemburkan api panas membara dan  bisa membunuh siapa saja. Karena wujudnya yang aneh, Suro Dumadi yang telah berwujud seekor naga tidak mau keluar dari gua tersebut dan menunggu dengan setia bunga Sirna Ganda. Tak ada satu pun penduduk negeri yang mengetahui kejadian tersebut, termasuk anak Sirna Angga Bumi, Jaka Budug. Berita yang beredar adalah Sirna Angga Bumi dan Suro Dumadi meninggal karena terkaman binatang buas dan jatuh ke jurang di tepi gua Arga Dumadi. Anggi Banyu dan Jaka Budug sangat terpukul atas kejadian tersebut. Penduduk negeri sering diganggu oleh Suro Dumadi yang menjadi naga sakti  jika ada yang berani memasuki gua tersebut. Lama kelamaan berita kematian Sirna Angga Bumi dan Suro Dumadi pun terbawa angina seiring berjalannya waktu. Semua penduduk negeri termasuk pihak kerajaan sudah melupakannya.
Di dalam keputren kerajaan Ringin Anom yang dikelilingi tembok tinggi, tampak  seorang gadis cantik sedang bermain di depan pondok. Pondok yang bergaya khas rumah Mataraman di samping kirinya tumbuh sebuah pohon Kemuning setinggi 2 meter. Ia sering bermain sendiri di bawah pohon kemuning tersebut. Gadis cantik yang berwajah bagai bidadari tersebut adalah putri semata wayang dari Raja Ringin Anom yang bernama Putri Ayu Setyawati.   Sedangkan, Baginda Raja dari Kerajaan Ringin Anom tersebut bernama Raja Prabu Aryo Seto yang didampingi oleh permaisuri yang juga cantik jelita bernama  Gusti Laras Ayu. Usia Putri Ayu Setyawati beranjak dewasa dan kecantikannya menjadi rebutan para pemuda seantero negeri baik para pendekar maupun  raja dari negeri seberang. 
Kerajaan Ringin Anom adalah kerajaan yang menguasai beberapa wilayah negeri Ngawi, seperti: Beringin, Pondok, Tawun, Kasreman, Padas, Karang Jati, Kawasan Gunung Arga Dumadi di bagian Timur dan Kawasan Gunung Arga Melawi di bagian Barat.  Para penduduk sangat hormat dan patuh terhadap rajanya. Hal itu disebabkan karena kepemimpinan Baginda Raja Prabu Aryo Seto yang bertindak adil dan bijaksana. Beliau menerapkan hukum yang sama terhadap semua orang tanpa memandang derajat dan kedudukannya. Sifat adil dan bijaksana pun diikuti oleh istri dan anaknya serta para pegawai kerajaan. Mereka pun tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk berlaku jahat. Sifat adil dan bijaksana pun pernah terbukti saat  2 orang penduduk bersengketa masalah perebutan hewan ternak kerbau yang dimilikinya. Mereka saling mengklaim bahwa kerbau yang lepas dari kandang adalah miliknya.
“Rakyatku, apa yang menjadi masalah hingga kalian mengadu terhadapku” tanya Baginda Raja.
“Tuanku, bapak tua yang tidak tahu diri ini telah mengakui hewan ternak saya yang telah pelihara sejak dilahirkan. Saya telah mengeluarkan biaya banyak untuk memeliharanya. Saya tidak terima dengan perlakuan ini Baginda Raja. Mohon keadilannya!” jawab penduduk yang berusia setengah baya berbadan gempal berhiaskan permata di jarinya.
“Selanjutnya, bagaimana  menurut pengakuan rakyatku yang satu ini” tanya Baginda Raja kepada  penduduk yang berusia 70an.
“Ampun, Baginda Raja. Hamba hanya ingin keadilan bahwa kerbau yang menjadi sengketa adalah buah kerja keras yang saya lakukan tiada henti. Saya telah mengeluarkan semua tabungan saya untuk memeliharanya. Keringat dan cucuran air mata telah saya keluarkan setiap harinya untuk membesarkannya. Mohon ampun Baginda Raja, jika hamba lancang mengucapkannya” jawab penduduk tua berpenampilan lusuh sambil meneteskan air mata. Penduduk yang berusia setengah baya pun ikut meneteskan air mata di hadapan Baginda Raja.
“Baik rakyatku. Karena kalian berdua saling mengklaim menjadi miliknya. Saya akan memanggil algojo kerajaan untuk memotong kerbau menjadi dua bagian sama besar. Prajurit, tolong siapkan semua  peralatan pemotongan hewan” pinta Baginda Raja. Semua hening, tak ada suara apapun dalam istana kerajaan. Tetapi, keheningan itu pun pecah karena tangisan keras penduduk tua yang berusia 70an.    
“Ma …. Af. Ba …gin …da Ra… ja. Selama ini Baginda adalah raja yang adil dan bijaksana. Tetapi, ternyata mau melakukan kejahatan dengan memotong hewan yang tidak berdosa karena sengketa. Ampunnnn …. Baginda. Kalau hamba salah, hamba rela dihukum. Bila perlu sebagai gantinya hewan  tersebut” rengek penduduk tua dengan sesenggukan.
“Baik rakyatku. Penyelesaian sudah jelas. Ternyata, hewan ternak kerbau tersebut adalah milik pak tua ini” sambil menunjuk penduduk tua yang berumur 70an.
“Dan kau rakyatku” tanya Baginda raja kembali sambil menunjuk penduduk setengah baya.
“Kau bersalah! Mana ada orang yang mempunyai hewan kesayangannya rela dipotong tanpa alasan yang kuat. Bahkan, kau dengan senang hati menerimanya. Kau jelas-jelas telah berbuat bohong kepada kita semua. Pengawal, bawa dia dan jebloskan ke penjara” jelas Baginda Raja mengakhiri pembicaraan.
Sikap adil dan bijaksana Raja pun diterapkan putri semata wayangnya.  Sang Putri Raja berniat untuk bisa hidup bebas di luar lingkungan keraton. Tetapi, Raja menolaknya dengan alasan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dilandasi karena wajah sang putri yang cantik jelita serta mempunyai tubuh yang sangat wangi bagai bunga kemuning telah menjadi incaran para pemuda di seluruh pelosok negeri. Semua pemuda ingin memilikinya, dari yang bermaksud baik sampai yang bermaksud jahat. Oleh sebab itu, penduduk Ringin Anom lebih mengenalnya sebagai Putri Kemuning.   
Bukan hanya wajah yang cantik jelita, tetapi bau badan yang wangi sang putri memang menjadi pembicaraan penduduk di seluruh pelosok negeri. Sebenarnya bau wangi tersebut adalah bau wangi dari bunga Kemuning yang berada di samping pondok keputren. Bunga Kemuning tersebut ternyata ditanam oleh bidadari sebelum kerajaan Ringin Anom berdiri. Suatu malam, antara setengah sadar dalam tidurnya putri raja dibangunkan oleh wanita berwajah cantik yang mengenakan pakaian yang indah laksana sutra dan berbalutkan selendang panjang berwarna kuning keemasan. Sepertinya, sang bidadari mengajak putri raja untuk mengikuti dirinya. Dan langkahnya terhenti tepat di bawah pohon Kemuning.
“Tuan putri tidak usah takut. Saya adalah bidadari dari negeri langit yang ingin  membantu tuan putri. Saya sekarang menghuni bunga Kemuning, di mana tuan putri sering bermain di bawahnya” kata sang bidadari meyakinkan.
“Maaf, putri langit. Saya sedikit takut dengan keadaan ini. Kalau boleh tahu, apakah putri langit makhluk yang jahat” jawab putri raja sedikit ketakutan.
“Begini, tuan putri. Saya bermaksud baik. Saya telah dikutuk oleh raja langit agar hidup di bumi selamanya. Saya menyadari bahwa bunga kemuning ini tak selamanya hidup. Suatu saat pasti akan mati. Perlu tuan putri ketahui bahwa bunga kemuning ini adalah jelmaan saya, tuan putri. Maafkan, kalau saya mengagetkan tuan putri” sang bidadari meyakinkan.
“Oh, jadi bunga kemuning ini adalah jelmaan dari putri langit”
“Benar, tuan putri”
“Maukan tuan putri menolong saya”
“Saya tidak keberatan untuk menolong putri langit. Apa yang bisa saya lakukan buat putri langit”
“Karena saya tidak diperbolehkan kembali ke langit. Maka, saya ingin hidup kekal dan abadi di bumi, tuan putri. Tetapi, ada syaratnya” jawab putri langit agak sedih.
“Apa itu syaratnya putri langit?”
“Maukah tuan putri memakan bunga kemuning sebanyak 3 buah ini setelah saya tiup sebanyak 5 kali” pinta sang bidadari.
“Saya akan melakukannya dengan senang hati putri langit”
“Tuan putri tidak usah takut, dengan memakan bunga kemuning ini, tubuh tuan putri akan mengeluarkan bau yang sangat harum bagai bunga kemuning. Selanjutnya, tuan putri telah menolong saya untuk  hidup lama dalam jelmaan bunga kemuning ini. Dan, suatu saat nanti, tuan putri akan berjodoh dengan pemuda tampan yang sakti dan tiada tanding” sang bidadari meyakinkan.
“Benarkan apa yang putri langit ucapkan”
“Benar tuan putri. Tetapi perlu diingat bahwa tuan putri akan mengalami musibah yang tidak terduga. Setelahnya, akan berakhir dengan kebahagiaan” jawab sang bidadari meyakinkan.  
Putri Raja tanpa canggung memakan 3 buah bunga kemuning yang ditiup dengan 5 kali hembusan yang diberikan oleh sang bidadari penghuni bunga kemuning. Meskipun dalam hatinya, Putri Raja tidak percaya seratus persen. Tetapi, toh perintah itu dilakukannya. Selanjutnya, sang bidadari pun menghilang secara perlahan yang diikuti dengan hilangnya asap yang mengepul menuju bunga kemuning. Sedangkan, Putri Raja dengan perasaan kantuk menuju tempat tidurnya. Pagi harinya, ketika bangun sang Putri Raja kaget karena ruang tidur dipenuhi dengan bau wangi bunga kemuning. Putri Raja mencari sumber wangi tersebut tapi tak diketahuinya. Sang putri baru memahami bahwa bau tersebut berasal dari tubuhnya sendiri dan ingat kejadian semalam bukanlah mimpi belaka. Benar-benar kejadian nyata yang telah dialaminya dan hanya diceritakan kepada  Baginda Raja dan Permaisuri.
Menjelang usia dewasa tentunya, Baginda Raja mulai memikirkan pendambing Putri Raja. Banyak pemuda dari seantero negeri yang berusaha melamarnya agar menjadi suami sang Putri Raja. Tetapi, belum ada satu pun yang cocok di hati Putri Raja. Tentunya, keadaan ini menjadi kegelisahan sang Putri Raja karena takut ada perasaan kecewa yang dialami oleh pemuda yang ditolak lamarannya. Baginda Raja juga takut terjadi apa-apa yang menimpa Putri Raja. Ketika malam datang menjelang pagi, sebuah cahaya terang mirip meteor bergerak cepat dan berputar-putar tepat di atas pondok keputren sang Putri Raja. Selanjutnya, cahaya terang tersebut hilang secara misterius tepat menuju tempat tidur sang Putri Raja.
Benar apa yang menjadi kegelisahan sang Baginda Raja terbukti. Pagi hari menjelang waktu subuh, terdengar erangan yang kuat berkali-kali dari pondok keputren. Baginda Raja dan Permaisuri raja kaget bukan kepalang dan tergopoh-gopoh menuju keputren yang dikawal oleh prajurit kerajaan, yaitu: Patih Aryo Karang Jati dan Patih Aryo Kasreman. Baginda Raja dan yang lainnya melihat dengan jelas apa yang dialami oleh sang Putri Raja. Putri Raja mengerang kesakitan karena tubuhnya dipenuhi dengan penyakit kulit yang menjijikan seperti borok. Bau wangi tubuhnya pun mendadak hilang. Yang ada adalah bau amis seperti darah. Baginda Raja sangat syok dan permasuri raja pun jatuh pingsan. Setelah, permaisuri raja siuman Baginda Raja memanggil tabib kerajaan yaitu: Aji Sepuh Tawun untuk menyembuhkan penyakit aneh Putri Raja. Tetapi apa yang dilakukan oleh tabib hanyalah tindakan yang sia-sia.
Keesokan harinya, pengawal kerajaan mencari semua tabib yang ada di negeri Ngawi diundang untuk datang ke istana Kerajaan Ringin Anom. Kedatangan para tabib ke istana berbuah hampa. Tidak ada satu pun tabib yang mampu mengobati penyakit Putri Raja.
“Ampun beribu ampun baginda raja, hamba belum mampu menyembuhkan penyakit tuan putri. Karena penyakit tuan putri sungguh aneh. Ampun, kalau hamba lancang mengucapkannya” kata tabib terakhir yang gagal untuk mengobatinya.
“Tidak apa-apa rakyatku. Sudi datang ke istanaku adalah sebuah kehormatan besar ” jawab Baginda Raja.
“Terima kasih Baginda Raja. Hamba mohon pamit” jawab tabib.
Memang, penyakit aneh Putri Raja tidak bisa disembuhkan dengan ramuan apapun baik ramuan bunga kemuning maupun daun beluntas yang tumbuh di dalam kerajaan. Karena penyakit tersebut adalah guna-guna yang dikirimkan dari berbagai pemuda yang ditolak lamarannya beberapa waktu yang lalu. Kondisi fisik yang dialami oleh Putri Raja menjadi masalah besar kerajaan. Bahkan, Baginda Raja sering melamun sendirian. Sama juga halnya seperti yang dilakukan oleh permaisuri raja. Ada perasaan takut dari Baginda Raja dan Permaisuri   tentang kelangsungan hidup Putri Raja. Baginda Raja yakin, jika kondisi Putri Raja tidak mampu disembuhkan maka tidak ada satu pun pemuda yang tertarik untuk melamarnya hingga waktu dewasa.  
Kondisi fisik yang dialami Putri Raja membuat Baginda Raja tidak mau makan yang membuat badannya menjadi kurus. Rambut kepalanya pun mulai dipenuhi uban. Semua pegawai kerajaan menjadi bingung, sedih dan gelisah. Apalagi, kondisi fisik Baginda Raja mulai lemah karena jarang bergerak. Di saat Baginda Raja sedang merenung sendiri, muncul ide untuk bersemedi.
“Mungkin, bersemedi adalah jalan terakhir untuk menenangkan pikiranku dari kemelut masalah ini” gumam Baginda Raja.   
Baginda Raja pun akhirnya melakukan ritual semedi di dalam sebuah ruangan khusus yang tidak bisa diganggu oleh siapapun, termasuk Permaisuri Raja. Tentunya, ritual tersebut telah dikonsultasikan bersama  Permasuri Raja. Dengan khusuk Baginda Raja melakukan ritual semedi. Dalam kesendirian dan sepinya di malam hari karena lampu penerangan ruangan dimatikan, tubuh Baginda Raja  bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin. Matanya yang masih terpejam dengan jelas mendengar suara aneh yang muncul di hadapannya tanpa ada wujud fisiknya. Mulutnya komat-kamit mengucapkan mantra.
“Dengarlah, wahai Prabu Aryo Seto! Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit putrimu adalah daun Sirna Ganda. Daun itu hanya tumbuh di dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi yang dijaga oleh seekor ular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya” demikian pesan yang disampaikan oleh suara gaib itu. Baginda Raja meyakini bahwa pesan tersebut merupakan pesan leluhur yang harus dilaksanakan dan merupakan solusi untuk menyembuhkan penyakit Putri Raja.
            Pagi harinya, Baginda Raja dengan bersemangat mengumumkan sayembara di alun-alun kerajaan Ringin Anom dikawal prajurit kerajaan.  Dengan lantang, sayembara diucapkannya.
“Wahai, seluruh rakyatku! Kalian semua tentu sudah mengetahui perihal penyakit putriku. Setelah semalam bersemedi, aku mendapatkan petunjuk bahwa putriku dapat disembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh di gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang dapat mempersembahkan daun itu untuk putriku, jika ia laki-laki akan kunikahkan dengan putriku. Namun, jika ia perempuan, ia akan kuangkat menjadi anakku,” ujar Sang Baginda Raja di depan rakyatnya.
Berita sayembara tersebut menyebar ke seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali sampai ke telinga Jaka Budug. Pada hari yang telah ditentukan, semua peserta yang terdiri dari para pemuda  mendaftarkan diri menjadi peserta untuk memasuki gua Arga Dumadi. Sayembara tersebut dijaga ketat oleh pihak kerajaan. Sedangkan, Baginda Raja sendiri berada di kerajaan Ringin Anom menunggu berita baik dari sayembara tersebut. Namun, sudah ratusan pemuda yang mendaftar dan memiliki ilmu kesaktian belum mampu mempersembahkan bunga Sirna Ganda hingga hari keenam sayembara tersebut. Raut wajah Baginda Raja semakin pucat karena tidak ada lagi peserta yang mendaftarkan diri. Perasaan gelisah bersama Permaisuri Raja tak henti-hentinya terlihat jelas. Di saat, perasaan gelisah menyelimuti kerajaan, prajurit kerajaan berjalan tergopoh-gopoh menghadap Baginda Raja.
“Maaf, Baginda Raja sepertinya ada peserta terakhir yang ingin mengikuti sayembara.  Bolehkah hamba mengijinkan masuk ke hadapan Baginda Raja” Tanya prajurit kerajaan.
“Panggil segera!” jawab Baginda Raja.
“Baik, Baginda Raja. Sendiko dawuh” jawab prajurit kerajaan langsung  berbalik untuk memanggil secepatnya peserta terakhir dan membawanya ke hadapan Baginda Raja.
Namun, kedatangan peserta terakhir yang ternyata bernama Jaka Budug membuat Baginda Raja ragu. Betapa tidak! Sudah ratusan pemuda yang berperawakan tinggi, ganteng dan sakti mandraguna tidak mampu mempersembahkan bunga Sirna Ganda. Sementara yang datang terakhir hanyalah pemuda yang berpakaian lusuh dan tubuhnya dipenuhi penyakit kudis atau budug.     
 “Ampun, Baginda! Izinkan hamba untuk mengikuti sayembara ini untuk meringankan beban Sang Putri” pinta Jaka Budug.
“Siapa kamu hai, anak muda? Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga sakti itu?” tanya Baginda Raja dengan perasaan campur aduk karena masih ragu dengan kedatangan Jaka Budug. 
“Hamba Jaka Budug, Baginda Raja. Hamba akan mengalahkan naga itu dengan keris pusaka hamba ini” jawab Jaka Budug seraya menunjukkan keris pusakanya kepada Baginda Raja. Ketika, ditunjukan keris pusaka tersebut perasaan ragu Baginda Raja pelan-pelan hilang.
“Baiklah, Jaka Budug! Karena tekadmu yang kuat, maka keinginanmu kuterima. Semoga kamu berhasil!” ucap Baginda Raja.
“Terima kasih Baginda Raja” jawab Jaka Budug.
“Segeralah menuju ke gua Arga Dumadi. Prajurit, kawal pemuda ini” pinta Bagunda Raja.
“Sendiko dawuh Baginda Raja”.   
            Bersama pengawal kerajaan, Jaka Budug menuju gua Arga Dumadi. Banyak penduduk yang menanti kedatangan Jaka Budug sebagai peserta terakhir. Sesampainya di lokasi, dengan sigap Jaka Budug menyelinap untuk mendapatkan bunga Sirna Ganda. Tetapi, semburan api dari naga sakti penghuni gua tersebut membuatnya berkali-kali terpental hingga ke luar gua. Bahkan, gerak lincah naga sakti membuat kerepotan Jaka Budug. Hingga akhirnya Jaka Budug mengeluarkan senjata pamungkas  Keris Sakti Kyai Raga Sukma yang ditunjukan langsung ke arah naga sakti.  Cahaya kilat emas keris pusaka tersebut membuat naga sakti menjadi silau. Saat lengah tersebut, Jaka Budug bergerak cepat dengan mengeluarkan ilmu kesaktian Tapak Bumi Meraga Sukma  warisan ayahnya bagai hembusan angin dan kilat. Dengan gerakan reflek, Jaka Budug menghunuskan keris pusaka tersebut ke arah badan naga sakti. Darah segar terpancar dari kulit naga sakti hingga mengenai kulit Jaka Budug.
Sunggug ajaib, darah yang mengenai kulit Jaka Budug mendadak penyakit kulitnya menjadi hilang. Jaka Budug kaget bukan kepalang dan dengan semangat  menghunjamkan keris pusakanya dari kepala hingga ekor naga sakti sambil mengusapkan darah segar ke kulit tubuhnya. Mendadak penyakit yang dideritanya  hilang dalam sekejap. Sementara naga sakti secara perlahan jatuh terjerembab ke lantai gua. Jaka Budug pun dengan sigap mengambil bunga Sirna Ganda dan meloncat keluar gua menuju kerajaan. Semua penduduk yang menyaksikannya berdecak kagum. Berita tersebut akhirnya menyebar seantero negeri hingga ke telinga Baginda Raja. Pihak kerajaan bersiap-siap menyambut Jaka Budug.
Baginda Raja sungguh kaget, yang datang ke istana kerajaan bukanlah pemuda yang mempunyai penyakit kudis, melainkan pemuda ganteng  yang mempersembahkan bunga Sirna Ganda. Dan penyakit Putri Raja mendadak hilang. Kemudian, bau wangi bunga kemuning pun muncul lagi dan memenuhi ruangan keputren.
“Benarkah kisanak adalah Jaka Budug yang bertemu tadi pagi?” tanya Baginda Raja.
“Benar Baginda Raja. Hamba adalah Jaka Budug yang bertemu Baginda Raja tadi pagi. Penyakit hamba mendadak hilang dikarenakan percikan darah segar dari tubuh naga sakti yang mengenai tubuh hamba akibat hunjaman keris pusaka” jawab Jaka Budug meyakinkan.
“Baik, kisanak. Sesuai janjiku dalam sayembara, maka kisanak akan kunikahkan dengan putriku, Putri Ayu Setyawati yang biasa dipanggil Putri Kemuning. Pernikahan akan diadakan secepatnya esok hari bersamaan serah terima kerajaan. Tanggung jawab kerajaan ini akan kuserahkan kepadamu kisanak” jelas Baginda Raja.
“Matur sembah nuwun Baginda Raja. Ini adalah anugerah dan tanggung jawab besar buat hamba. Semoga hamba mampu mengemban tugas tersebut” jawab Jaka Budug.
Akhirnya, Baginda Raja pun mempertemukan Putri Raja dengan Jaka Budug. Ternyata, keduanya pun saling jatuh cinta. Esok harinya acara pernikahan putri raja dan serah terima jabatan raja dilaksanakan secara meriah. Seluruh penduduk negeri dengan suka cita menghadiri acara tersebut. Ketika Jaka Budug ditetapkan sebagai raja baru Ringin Anom mendapatkan gelar Raden Arya Anom Melawi. Sedangkan Putri Raja, Putri Kemuning ditetapkan sebagai Permaisuri Raja baru mendapat gelar Putri Ayu Anom Kemuning Sari.  Raja dan pemaisuri baru memerintah kerajaan Ringin Anom dengan adil dan bijaksana seperti pendahulunya. Bahkan, tingkat perekonomian penduduk menjadi meningkat ddan hokum kerajaan ditegakan dengan adil dan bijaksana.

* Diadapsi dari Cerita Rakyat Kabupaten Ngawi-Jawa Timur yang berjudul “Jaka Budug dan Putri Kemuning”, yang diceritakan kembali oleh Samsuni.

No comments:

Post a Comment