Sunday, September 11, 2016

Pemimpin Ideal Masa Depan



Mengusung Pemimpin Profetik sebagai
Pemimpin Ideal Masa Depan



 Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan santainya naik
sepeda keliling kota (Sumber: tempo.co)



Sejak diberlakukannya azas desentralisasi, maka setiap daerah di Indonesia diberi kewenangan untuk mengurusi rumah tangganya sendiri. Oleh sebab itu, daerah juga diberi tugas besar untuk memilih Kepala Daerah sesuai dengan pilihan rakyatnya secara langsung, umum, bebas dan rahasia.
Namun, berkembangnya waktu menunjukan bahwa para pemimpin atau kepala daerah yang lahir dari proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) justru telah melahirkan para pemimpin yang berjiwa egosentris.   Para pemimpin tersebut telah membesarkan egonya untuk mencari keuntungan semata demi keluarga, kerabat, dan gologana atau partainya.
Menurut laporan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan bahwa Kepala Daerah yang tersangkut kasus korupsi dari tahun 2010 – 2013 secara berturut-turut   mengalami penurunan sebanyak 44 orang, 41 orang, 35 orang dan 24 orang.  Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah masih banyak Kepala Daerah yang melakukan tindakan korupsi dengan modus lain agar tidak tercium oleh lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Banyak kalangan menyatakan bahwa untuk melahirkan Kepala Daerah yang ideal adalah perlunya menjauhkan diri dari praktek uang untuk menuju kursi jabatan. Biaya politik yang tinggi sangat dimungkinkan para Kepala Daerah yang ada berpikir untuk mencari “uang siluman” melalui aksi pemotongan anggaran negara. Padahal, sejatinya anggaran tersebut diperuntukkan untuk kepentingan rakyat.
Prosentase Kepala Daerah yang melakukan aksi korupsi atau indisipliner memang masih tergolong tinggi. Itulah sebabnya, Pemerintah harus berpikir keras agar proses Pilkada bukanlah “kawah candradimuka” yang melahirkan Kepala Daerah bermental korup. Banyak hal yang perlu dibenahi agar Kepala Daerah yang lahir melalui Pilkada adalah sosok pemimpin ideal yang tiada jarak dengan rakyat serta selalu ada saat rakyat membutuhkan pertolongannya.
Banyak media memberitakan kehadiran para Kepala Daerah yang bisa menjadi cerminan bagi Kepala Daerah lainnya. Kita pasti sudah mengenal baik tokoh Kepala Daerah semacam Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Gubernur DKI Jakarta, Tri Rismaharini Walikota Surabaya dan Ridwan Kamil Walikota Bandung.
Bahkan, isu politik semakin panas menjelang Pilkada 2017 adalah calon Gubernur DKI Jakarta nanti. Berbagai survei yang dilakukan oleh lembaga survey  pun menghasilkan data survei beragam yang menunjukkan besaran prosentase tokoh yang pantas memimpin DKI Jakarta untuk 5 tahun ke depan.
Tidak tanggung-tanggung, tiga Kepala Daerah tersebut sepertinya diadu, siapa yang pantas untuk memimpin Ibukota negeri ini. Perang statement yang dilansir berbagai media baik cetak maupun online membuat Kepala Daerah tersebut menunjukkan gigi taringnya untuk menyerang kepada Kepala Daerah lainnya. Seperti yang terjadi saat statement Ahok yang menjawab kritikan Tri Rismaharini tentang jalan trotoar.
Setiap Kepala Daerah mempunyai karakter yang khas.  Ada yang semangat berapi-api tanpa “tedeng aling-aling” alias ceplas-ceplos khas gaya Ahok. Sisi lain ada yang diam-diam dan tenang, tetapi jika merasa dilecehkan akan mengeluarkan gigi taringnya khas Tri Rismaharini. Namun, ada gaya memimpin yang santun dan banyak gebrakan untuk mendekatkan diri dengan rakyatnya melalui pesan media sosial seperti Ridwan Kamil. Itulah, gaya memimpin beberapa Kepala Daerah yang ada di negeri ini yang telah membuat kemajuan di masing-masing daerah yang dipimpinnya.
Tetapi, masalah yang perlu diingat bagi masyarakat ketika mengusung Kepala Daerah yang akan dipilih secara langsung melalui Pilkada 2017 nanti adalah perlunya memilih Kepala Daerah yang mempunyai jiwa Pemimpin Profetik (kenabian). Maksudnya, Kepala Daerah yang selalu dilekati oleh karakter mulia Nabi Muhammad SAW. Karakter tersebut dijamin akan membawa masyarakat menuju kesejahteraan dan kemakmuran.  
Dalam bukunya, “Sri Sultan Hamengkubuwono IX Inspiring Prophetic Leader” Parni Hadi dan Nasyith Majidi (2013) mengupas bahwa syarat untuk menjadi Kepala Daerah yang dianggap sebagai Pemimpin Profetik adalah harus mempunyai empat (4) akhlak mulia yaitu: 1. Shiddiq (benar); 2. Tabligh (menyampaikan kebenaran dan kebaikan dengan cara mendidik); 3. Amanah (dapat dipercaya); dan 4. Fathonah (Arif dan bijaksana). Akhlak yang harus ada pada sosok pemimpin ideal.  
            Pemimpin yang tiada jarak dengan rakyat, membuktikan amanah rakyat dan merasa berdosa besar jika mengkhianati rakyat akan menjadi modal dalam memimpin masyarakat. Sebagai contoh, saya merasa terharu ketika rakyat Bandung begitu dekat dengan pemimpinnya. Bahkan, masalah pacar, perjodohan, saksi ijab Kabul pernikahan, pendidikan dan lain-lain secara terbuka meminta tolong kepada sang Walikota.
Yang lebih menyentuh hati adalah ketika Ridwan Kamil membuktikan permintaan rakyatnya meski disuarakan melalui sosial media (sosmed). Sikap yang selalu prorakyat itulah yang akan menjadi tolok ukur bahwa Kepala Daerah diakui rakyatnya dan mencerminkan salah satu sifat pemimpin profetik. Dan, rakyat tidak mampu untuk menolak kepemimpinannya.
           
Sahabat juga bisa membaca artikel saya di www.siperubahan.com. Sedangkan LINK artikel tersebut bisa kita baca langsung: http://www.siperubahan.com/read/2900/Mengusung-Pemimpin-Profetik-sebagai--Pemimpin-Ideal-Masa-Depan.


Keyword : Pemimpin Ideal Untuk Daerah

No comments:

Post a Comment