Menakar Hubungan RI – Maroko ke Masa Depan

Menakar Hubungan RI – Maroko ke Masa Depan
By Casmudi

          Maroko merupakan negara yang eksotik di benua Afrika. Bentuk negara Maroko adalah “Monarchi Konstitusional” dimana Kepala Negara dipegang oleh Raja secara turun temurun, sedangkan Kepala Pemerintahan dipegang oleh seorang Perdana Menteri. Maroko mendapat julukan sebagai “Maghribi” (matahari terbenam), karena berada persis paling barat benua Afrika. Kata “Maroko” berasal dari kata “Marrakech”, yaitu salah satu nama kota di bagian selatan Maroko. Maroko terletak di bagian utara benua Afrika yang berbatasan langsung bagian utara Laut Tengah, bagian timur negara Aljazair, bagian selatan negara Mauritania dan bagian barat Laut Atlantik. Posisi yang strategis itulah mengundang adanya imperialisme negara-negara barat pada jaman dulu seperti negara Perancis dan negara Spanyol yang telah menjajah Maroko dan melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Rakyat Maroko sungguh berbeda dengan masyarakat benua Afrika lainnya. Mereka umumnya berkulit putih, seperti bangsa Eropa, hidung mancung, berperawakan seperti bangsa-bangsa Asia lainnya. Negara Maroko lebih cenderung menganut sistem bangsa Spanyol. Raja-raja Maroko seperti King Mohammed IV menyelesaikan pendidikannya di Eropa dengan menguasai 4 bahasa lainnya. Demokrasi yang dianut pun seperti bangsa-bangsa Eropa dikembangkan sejak Raja Mohammed IV.
          Hubungan bilateral Indonesia dan Maroko sudah terjalin lebih dari 50 tahun adalah waktu yang sangat dewasa dalam menjalin sebuah persahabatan. Hubungan tersebut sebenarnya bermula dari kunjungan musyafir Maroko bernama Ibnu Battutah di kerajaan Samudera Pasai, Aceh pada pertengahan abad 14 M. Juga Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi yang sering disebut sebagai sesepuh Wali Songo di tanah Jawa adalah berasal dari Maroko. Di abad modern, hubungan RI – Maroko bermula sejak kunjungan Presiden RI pertama Ir. Soekarno tanggal 2 Mei 1960 sebagai tindak lanjut atas hasil dari diadakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Kunjungan Presiden Soekarno di Rabat (ibu kota Maroko) tersebut membuat Raja Mohammed IV merasa tersanjung, karena Presiden Soekarno merupakan satu-satunya perwakilan negara yang pertama kali mengunjungi Maroko sejak kemerdekaannya di tahun 1950. Sebagai kenang-kenangan Presiden Soekarno, maka Raja Mohammed IV memberi nama jalan penting di kota Rabat dengan nama Rue (jalan) Soekarno, Rue Bandung, dan Rue Jakarta. Sedangkan Presiden Soekarno pun mengambil nama “Casablanca” (kota perdagangan terpenting dan kota pelabuhan di Maroko) sebagai nama jalan di Jakarta. Peristiwa 50 tahun yang lalu tersebut sebagai pijakan dan landasan terpenting pemimpin kedua negara untuk mengadakan hubungan bilateral yang lebih baik di segala bidang.
          Pada saat ini hubungan bilateral RI – Maroko sedang ditata ke arah yang lebih nyata. Hubungan bilateral di bidang politik adalah dengan adanya kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Maroko Abbas El Fassi di Jakarta untuk membahas peningkatan hubungan RI – Maroko yang telah terjalin sebelum negara Maroko merdeka dari Perancis tahun 1950. RI dan Maroko banyak mempunyai persamaan seperti sama-sama menjadi anggota GNB (Gerakan Non Blok), OKI (Organisasi Konferensi Islam), dan Kelompok 77. Penduduknya pun mayoritas beragama Islam. Bahkan penduduk Muslim Maroko sebesar 99 % dari total penduduk di negara tersebut. Maroko juga telah menjalin kerja sama dalam Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Uni Eropa (UE), USA, Turki, Yordania, Tunisia, Mesir dan Persatuan Emirat Arab (PEA). Hal ini menjadi kesempatan yang besar bagi Indonesia yang menjadikan Maroko sebagai batu loncatan untuk memasarkan produk ekspor di negara-negara tersebut. Apalagi masyarakat Maroko pun sangat menyukai produk-produk buatan Indonesia.
          Maroko adalah negara yang sangat mengutamakan pendidikan bagi warganya, yaitu dengan menggratiskan biaya pendidikan sampai tingkat S3. Kerjasama RI – Maroko di bidang pendidikan pun sedang digalakkan. Hal senada juga diungkapkan oleh Duta Besar Indonesia untuk Maroko Tosari Widjaja yang mengatakan bahwa hubungan RI – Maroko di bidang pendidikan sangat diharapkan, seperti diadakannya pertukaran mahasiswa dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia yang mau melanjutkan pendidikannya di Maroko dalam bidang agama maupun mahasiswa Maroko yang akan belajar di Indonesia. Setiap tahunnya Maroko memberikan kesempatan maksimal 15 mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmunya di perguruan tinggi Maroko melalui beasiswa dan membebaskan biaya visa. Kesempatan yang sangat baik agar tidak boleh terlewatkan bagi mahasiswa Indonesia.
          Duta Besar Maroko untuk Indonesia Mohammed Majdi mengatakan bahwa Maroko saat ini sedang mengembangkan industri pariwisata dengan mengeluarkan kebijakan “open sky” yang berarti membuka perusahaan penerbangan manca negara untuk memasuki wilayah udara Maroko. Duta Besar pun sangat menekankan agar hubungan bilateral RI – Maroko agar ditingkatkan ke masa depan untuk kedua belah pihak. Keadaan Maroko sangat kondusif sekarang ini yang sangat berbeda jauh dengan negara-negara tetangga di sekitarnya, seperti Mesir, Tunisia dan Yaman yang sedang bergejolak untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah. Raja Maroko sangat memahami kebutuhan rakyatnya dan memerintah dengan kebijakan yang berpihak pada rakyatnya. Oleh karena itu, tidaklah mungkin rakyat membangkang untuk menggulingkan kekuasaan pemeritah yang baik kepada rakyat. Indonesia pun tidak khawatir untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Maroko, meskipun gejolak di Timur Tengah sangat luar biasa.
          Kerja sama RI – Maroko di bidang ekonomi adalah peningkatan kerja sama dalam penjualan pupuk fosfat (penghasil utama Maroko) dari perusahaan milik negara Indonesia “Gresik” dengan perusahaan milik Maroko selama 3 tahun yang volumenya tetap surplus dengan total angka sebesar 110 juta dollar Amerika atau setara dengan 1,1 triliun rupiah. Fosfat juga sangat diperlukan Indonesia untuk bahan pengolahan kelapa sawit dam penciptaan bahan alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM). Apalagi cadangan minyak dunia semakin lama semakin sedikit dan mahal, makanya Indonesia memerlukan alternatif lain. Pemerintah Maroko dan Indonesia melalui BAPPENAS merumuskan kebijakan agar hubungan kedua negara bisa lebih ditingkatkan ke arah yang lebih maju.
           Pertukaran pentas budaya antara Indonesia dan Maroko juga sering diadakan untuk memperkenalkan budaya kedua negara agar bisa dimengerti masyarakat kedua negara. Jangan heran, jika Maroko menganggap Indonesia sebagai “saudara kandung”, karena saking dekat dan eratnya persaudaraan kedua negara lebih dari 50 tahun yang lalu. Meskipun jarak Indonesia – Maroko hampir sepertiga jarak keliling bumi, tidak menyurutkan hubungan pesahabatan kedua negara. Indonesia pun harus banyak belajar dari Maroko, karena saat ini pendapatan per kapita masyarakat Maroko lebih dari $ 3.500 lebih tinggi dari masyarakat Indonesia yang berkisar pada angka $2000. Oleh karena itu perlu adanya hubungan kerja sama yang lebih konsisten dan nyata antara kedua negara.
          Konsistensi hubungan RI – Maroko ke masa depan sangat tergantung pada peran aktif pemerintah masing-masing kedua negara sebagai pembuat kebijakan. Dukungan dari masyarakat kedua negara tersebut juga sangat membantu untuk terciptanya hubungan bilateral yang dinamis. Peranan pihak swasta, pendidikan dan lembaga-lembaga yang terlibat di dalamnya harus didukung secara maksimal agar bisa meningkatkan nilai hubungan bilateral kedua negara. Kita ingin menunjukkan kepada Maroko, bahwa hubungan serius yang telah terjalin perlu ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan yang kongkret agar bisa berlanjut lama. Karena Maroko cenderung melakukan hubungan dengan bangsa-bangsa Eropa, maka di saat Maroko merenda hubungannya dengan Indonesia, kita tidak boleh mensia-siakan kesempatan ini. Maroko juga ingin menjajal hubungan bilateral di bidang lain selain bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya.

           RI – Maroko dewasa ini saling mempererat hubungan dalam berbagai bidang. Kita semua berharap agar hubungan tersebut bisa dilaksanakan sebaik mungkin dan bisa menghasilkan manfaat untuk memperbaiki perekonomian, khususnya masyarakat Indonesia di masa depan. Pemerintah Indonesia pun sangat optimis manfaat yang dihasilkan dari hubungan tersebut bisa berlangsung lama. Masyarakat menunggu hasil yang nyata, begitu juga Maroko. Kedua Negara saling menakar sejauh mana manfaat yang positif hubungan bilateral kedua negara yang telah terbina tersebut. RI – Maroko bagaikan dua sisi mata uang yang masing-masing saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup bangsa.

Referensi:
-  Suara Merdeka
-  http://id.voi.co.id/berita-indonesia/politik/1556-indonesia-maroko-peringati-50-tahun-kerjasama-bilateral.
    html
- http://www.ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&id=112:berawal-dari-sejarah-in
   donesia-maroko&catid=51:info-maroko&Itemid=83

Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts