Thursday, August 29, 2013

ASEAN BLOGGER COMMUNITY (ABC) MEWUJUDKAN PEMAHAMAN, KEPEDULIAN DAN PARTISIPASI PUBLIK DAN PEMUDA INDONESIA MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015


ASEAN BLOGGER COMMUNITY (ABC) MEWUJUDKAN PEMAHAMAN, KEPEDULIAN DAN PARTISIPASI PUBLIK DAN PEMUDA
INDONESIA MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015

Oleh Casmudi
Email: casmudi.vb@gmail.com

          Sejak ASEAN dibentuk 46 tahun lalu tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok (Thailand), ASEAN menjadi organisasi regional Asia Tenggara yang mempunyai peranan penting. Negara-negara anggota ASEAN adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. ASEAN bukan hanya memelihara stabilitas dan pembangunan kawasan, tetapi juga mempercepat kerja sama antar kawasan dan global. Sepak terjang ASEAN memang tidak sehebat organisasi Uni Eropa. Hal itu disebabkan karena pemahaman, kepedulian dan partisipasi publik dan pemuda Indonesia tidak maksimal terhadap keberadaan ASEAN. 

 
                                   Gambar 1. Negara-negara anggota ASEAN
   Sumber: http://www.edupai.web.id/2013/04/asean-blogger-community-bersama.html

           Masalah lain adalah karena adanya masalah politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya.  Mengatasi masalah tersebut, menurut Edupai (2013) mengatakan  bahwa masalah tersebut menimbulkan adanya gagasan negara-negara ASEAN dengan segera untuk membentuk sebuah komunitas agar rakyat juga turut aktif dalam kepentingan nasional, dan saling bertukar pikiran demi mensejahterakan rakyat yang sifatnya datang dari bawah dan bukan dari atas. ASEAN diharapkan sudah tidak tergantung lagi pada usaha Pemerintah, namun juga tergantung pada usaha kita sebagai rakyat untuk mau menerima ASEAN dengan pikiran positif dan terbuka.

ASEAN Community 2015 Untuk ASEAN yang Lebih Baik

 
                               Gambar 2. Menyambut ASEAN Community 2015
                                                      Sumber: ASIA News
 
Komunitas ASEAN atau ASEAN Community diyakinkan mampu memperkuat dan memberikan kejelasan gerak dan langkah masyarakat ASEAN. Kata “komunitas” dalam bahasa Inggris berarti “community”.  Menurut kamus Oxford, “community” berarti a group of people living in the same place or having a particular characteristic in common. Secara geografis, ASEAN berada di kawasan Asia Tenggara dan umumnya berikilim tropis. Negara-negara ASEAN memiliki karakteristik yang tidak berbeda jauh dalam hal ras dan budaya. Umumnya negara-negara ASEAN adalah orang Melayu dengan karakteristik pertanian yang kuat di masyarakatnya (Pradana Nusantara,  2011). Komunitas ASEAN merupakan salah satu konsep kerjasama yang dirancang oleh negara-negara ASEAN yang melibatkan setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, meliputi politik-keamanan, ekonomi dan sosial-budaya(Sae, 2011).Menurut Makarame (2011), mengatakan bahwa betapa pentingnya mewujudkan ASEAN dalam sebuah komunitas. Akhirnya, Komunitas ASEAN 2015 resmi disepakati dengan ditandatanganinya “Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015” oleh para Pemimpin ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, 13 Januari 2007.
            Terwujudnya Komunitas ASEAN sangat penting karena sebelumnya ASEAN telah membentuk sebuah integrasi regional yang ditandai adanya persetujuan kawasan perdagangan bebas ASEAN Free Trade  Area (AFTA), implementasi piagam ASEAN pada tahun 2008. ASEAN juga berhasil menjaga perdamaian, dan  menghargai  koeksistensi  masing-masing negaraanggota ASEAN (DPR RI, 2012). Komunitas  ASEAN 2015  semakin  memperoleh  momentum  dengan  diratifikasinya Piagam  ASEAN  (ASEAN Charter) yang bertujuan untuk mentransformasikan ASEAN dari sebuah asosiasi politik yang longgar menjadi organisasi internasional yang memiliki Legal Personality, berdasarkan aturan yang professional  (rule-based  organization).  Piagam  ASEAN  diadopsi  pada  KTT  ASEAN  ke-13  di Singapura, November 2007 dan berlaku sejak  15 Desember 2008 (Eddy Cahyono, 2013). ASEAN Charter menjadikan ASEAN sebagai “legal personality”,  ASEAN “rule-based organization”, yang menegaskan kembali tujuan  dan  prinsip-prinsip  ASEAN,   mekanisme  penyelesaian  sengketa  (dispute-settlement mechanism), dan memiliki kerangka hukum yang lebih kuat (Roike Sinaga, 2007).  

                           Gambar 3. Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh
                         Sumber: http://www.investor.co.id/home/indonesia-berperan-
                                         mewujudkan-komunitas-asean/58362 
 
Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh memandang peran Indonesia dalam mendorong perwujudkan komunitas ASEAN 2015 sangat penting sehingga akan terus meningkatkan komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah RI (Investor.co.id, 2013). Pertemuan rutin tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN, yang diadakan pada anggal 16-17 Januari 2011 di Bali, Indonesia pasca-penetapan Indonesia sebagai Ketua (Chairman) ASEAN tahun 2011. Pertemuan tersebut menghasilkan poin-poin penting, antara lain: Pertama, terkait percepatan tahap pembentukan Komunitas ASEAN tahun 2015, yang disangga oleh ketiga pilarnya, yaitu pilar politik-keamanan, pilar ekonomi, dan pilar sosial-budaya ASEAN, Kedua, peran ASEAN dalam menciptakan kondisi keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium), terutama kawasan Asia Timur, dan Ketiga, peran ASEAN di tingkat masyarakat global (ASEAN Community in a global community of nations), terutama ketika diproyeksikannya Komunitas ASEAN 2015 yang terintegrasi, baik dalam konteks politik-keamanan, perekonomian, maupun sosial-budaya(Kompas,2011).
           Sae (2011) juga menegaskan bahwa dalam memajukan dan mengembangkan kawasan ASEAN, maka negara-negara ASEAN berusaha mempercepat target terbentuknya Komunitas ASEAN di tahun 2015, yaitu: 1. Komunitas ASEAN bidang Politik-Keamanan (ASEAN Political-Security Community) atau ASPC, 2. Komunitas ASEAN bidang Ekonomi (ASEAN Economic Community) atau AEC, dan 3. KomunitasASEAN bidang Sosial-Budaya (ASEAN Socio-Cultural Community) atau disingkat ASCC. Melalui 3 konsep komunitas ASEAN 2015 tersebut, diharapkan dapat terciptanya perdamaian dan kemakmuran di seluruh wilayah ASEANyang disetujui dari Bali Concord II. Untuk mewujudkan pencapaian-pencapaian tersebut, tindakan yang paling baik adalah memberikan pemahaman, kepedulian dan partisipasi publik dalam menghadapi Komunitas ASEAN 2015 melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik/internet. Penyambung informasi melalui media elektronik/internet yang dilakukan sekarang adalah dengan dibentuknya ASEAN Blogger Community (ABC) (Makarim Wibisono, 2006).

Terbentuknya ASEAN Blogger Community (ABC)
           Kita patut bangga Indonesia dipercaya sebagai Ketua ASEAN. Tetapi kebanggaan tersebut tereduksi berpijak pada pemahaman, kepedulian dan partisipasi publik dan pemuda Indonesia terhadap keberadaan ASEAN. Masyarakat Indonesia sampai saat ini masih minim tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ASEAN. Yang paling menakutkan adalah kesiapan menghadapi Komunitas ASEAN 2015 yang membutuhkan dayasaing masyarakat Indonesia dalam menghadapi era globalisasi. Sekarang ini, jangankan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, memahami tentang Komunitas ASEAN 2015 saja masih minim. Pepatah umum mengatakan “tak kenal maka tak sayang, dan tak sayang maka tak cinta”. Oleh sebab itu, kesuksesan menghadapi Komunitas ASEAN 2015, Indonesia membutuhkan peran publik dan pemuda yang signifikan. Saat kurangnya pemahaman, kepedulian dan partisipasi publik dan pemuda Indonesia, kehadiran ASEAN Blogger Community memberikan angin segar. Langkah-langkah yang dilakukan ASEAN Blogger Community menyadarkan masyarakat Indonesia, khususnya pemuda untuk memahami, peduli dan berpartisipasi untuk menghadapi Komunitas ASEAN 2015.

                                 Gambar 4. ASEAN Blogger Community (ABC)
                             Sumber: http://pradananusantara.wordpress.com/2011/
                                           09/08/menuju-komunitas-asean-2015/

            Wijaya Kusumah (2012) mengatakan bahwa salah satu butir penting dalam pembahasan KTT ASEAN di Jakarta tanggal 7-8 Mei 2011 adalah pembentukan komunitas ASEAN 2015 yang selanjutnya menjadi momentum lahirnya ASEAN Blogger Community (ABC) Chapter Indonesia yang diresmikan oleh Dirjen Kerjasama ASEAN Kemenlu Djauhari Oratmangun, dan bersama wakil-wakil komunitas blogger yang dideklarasikan tanggal 10 Mei 2011. Tidak main-main, ASEAN Blogger Community telah mengadakan konferensi pertamanya di Bali, 16 November 2011 yang menekankan pada pentingnya peran media sosial untuk mengampanyekan ASEAN Community 2015. Para Blogger se-Asia Tenggara berperan menyediakan informasi dan berbagi apapun yang bertujuan untuk membangun Komunitas ASEAN. ASEAN Blogger Community juga sebagai media yang telah ada, dapat memberikan peran yang sangat besar demi terwujudnya Komunitas ASEAN 2015.
            Makarame (2011) mengatakan bahwa Deklarasi Pembentukan Komunitas Blogger ASEAN-Indonesia (ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia) mengemban tugas: Pertama, membantu upaya-upaya memperkuat integrasi ASEAN yang bersifat kerakyatan (people centred) dan mendorong interaksi ASEAN dengan masyarakatnya yang lebih mendekatkan satu sama lain, Kedua, memberikan masukan berbagai kebijakan dan kerjasama pilar-pilar ASEAN bagi peningkatan kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat, Ketiga, menjembatani komunikasi di antara blogger dan partisipasi publik di antara rakyat di negara-negara ASEAN melalui blog dan sosial media serta kegiatan offline, Keempat, menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mendorong pelibatan blogger dan masyarakat agar memiliki rasa kepemilikan dan keinginan yang kuat untuk berpartisipasi dalam kerangka kerjasama ASEAN, dan Kelima, membentuk sebuah wadah bagi para blogger untuk menampung dan menyampaikan aspirasi serta melaksanakan berbagai kegiatan terkait ASEAN, alamat blog http://aseanblogger.com. Serta keanggotaannya bersifat inklusif, mewakili komunitas ataupun pribadi.Edupai (2013) mengutarakan bahwa tanggal 10-12 Mei 2013, ASEAN Blogger Community menggelar pertemuan yang bertajuk ASEAN Blogger Festival #ABF2013. Kegiatan ini dipusatkan di kota Solo. Salah satu alasan pemilihan kota Solo, karena memiliki perhatian penting terhadap warisan budaya.

ASEAN Blogger Community  (ABC) untuk ASEAN Community2015
            Keresahan akan kurangnya pemahaman, kepedulian dan partisipasi publik dan pemuda untuk menghadapi Komunitas ASEAN 2015 menjadi tanggung jawab semua negara ASEAN. Perlunya informasi yang berkesinambungan kepada masyarakat ASEAN, khususnya Indonesia bisa diantisipasi oleh ASEAN Blogger Community yang memberikan gagasan untuk mengatasi masalah tersebut.Keberadaan ASEAN Blogger Community berfungsi: Pertama, sebagai penyambung lidah penyampaian program-program ASEAN kepada masyarakat dengan menyebarluaskan seluruh program-program ASEAN kepada warga negaranya dengan bahasa yang dimengerti, Kedua, sebagai penyambung lidah masukan-masukan, keluhan-keluhan, serta aspirasi masyarakat kepada pengurus ASEAN. Perlu diketahui bersama bahwa tidak semua warga negara di seluruh ASEAN sudah melek huruf, dan Ketiga, sebagai pengawas dalam pembangunan Komunitas ASEAN 2015, agar terwujud sesuai dengan harapan. ASEAN Blogger Community juga  digunakan sebagai tolok ukur seberapa besar Prinsip Bebas-Aktif yang diterapkan melalui berita-berita yang ditulis.
            Dalam hal politik-keamanan, Ferry Ferdiansyah (2013) mengungkapkan bahwa masalah ASEAN yang sedang memanas adalah sengketa Laut Cina Selatan yang melibatkan anggota ASEAN, China, dan Taiwan. Empatanggota ASEAN, yaitu: Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina plus Taiwan, terlibat konflik teritorial dengan China. Keenam negara tersebut sama-sama mengklaim sebagai pemilik wilayah yang disengketakan. Oleh karena itu, tanggal 22-26 April 2013 diadakanlah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-22 di Brunei Darussalama mengusung tema “Our People, Our Future Together" yang memastikan komitmen bersama untuk mencapai Komunitas ASEAN 2015 dan menyikapi masalah Sengketa Laut China Selatan (Sae, 2011). Beberapa negara anggota ASEAN membutuhkan penyelesaian masalah perbatasan wilayah yang terjadi antara anggota ASEAN antara lain masalah Sabah antara Filiphina  dan  Malaysia,  Kasus  Ambalat  antara  Indonesia  dan  Malaysia,  masalah  Perbatasan Malaysia dan Thailand, masalah perbatasan Kamboja dan Thailand (Yasmin Sungkar, 2008).
            Keamanan di kawasan ASEAN merupakan harga mati terwujudnya Komunitas ASEAN 2015. Komunitas keamanan sebagai kelompok negara yang telah  terintegrasi sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan damai antar negara didalamnya telah tercipta dengan mapan dan dalam waktu yang cukup  lama sehingga dalam  menyelesaikan masalah keamanan  yang  terjadi,  cara kekerasan merupakan cara yang tidak dikehendaki (Karl W. Deutschs, 2007 dalam Bambang  Cipto,  2007). Setelah terbentuknya Komunitas ASEAN yang aman, indikator kerjasama keamanan ASEAN merupakan kerjasama yang bersifat komprehensif, yaitu: 1. Kerjasama keamanan yang lebih bersifat terbuka, 2. Tidak untuk membentuk suatu pakta pertahanan/aliansi militer, 3. Bukan merupakan kebijakan luar negeri bersama, dan 4. Mengacu  pada  berbagai  instrument  kerjasama  keamanan  yang  sudah  ada, yaitu: ZOPFAN, TAC, SEANWFZ, Piagam PBB dan Prinsip-prinsip hukum internasional (Deplu ASEAN, 2007). Tindakan ASEAN Blogger Community adalah memberikan gagasan melalui media sosial demi terwujudnya penyelesaian konflik politik-keamanan secara damai. Pesan-pesan yang disampaikan ke Pemerintah negara ASEAN melalui media sosial memberikan  masukan, seperti mediasi kepada negara yang berkonflik agar penyelesaian konflik politik-kemanan diselesaikan seceatnya dan tidak menyebar luas.  ASEAN Blogger Community memberikan informasi bahwa sengketa politik-keamanan tidak akan mewujudkan Komunitas ASEAN 2015.
             ASEAN Blogger Community berperan sebagai media penyalur informasi melalui web, penerbitan tabloid atau buletin mengenai kebijakan politik yang disepakati negara anggota ASEAN. Menghadapi Komunitas ASEAN 2015 bidang ekonomi, ASEAN Blogger Community berperan memperkenalkan produk-produk khas bernilai ekonomi yang menjadi unggulan dari setiap negara ASEAN. Melalui media web yang telah tersedia, dimungkinkan untuk ditambahkannya forum katalog online mengenai produk-produk yang berasal dari negara-negara ASEAN. Indonesia perlu meningkatkan UMKM yang menghasilkan produk-produk berdaya saing dan mampu menekan biaya ekonomi tinggi.
             Sedangkan menghadapi ASEAN Community 2015 bidang Sosial-Budaya, ASEAN Blogger Community memfasilitasi program konferensi antara pemuda di kawasan ASEAN yang bisa digunakan sebagai ajang pengenalan budaya, sekaligus juga sebagai forum diskusi untuk membahas isu-isu sosial kemasyarakatan yang muncul di kawasan Asia Tenggara (Sae, 2011).  Kerjasama di bidang sosial-budaya menjadi salah satu titik tolak utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “a caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi (Wikipedia, 2013). Perlu disadari bahwa era globalisasi ekonomi membuat pola dan dimensi baru yang diidentikkan dengan mulai memudarnya batas-batas negara, menyempitnya ruang dan waktu, serta menjadikan dunia tanpa batas (borderless). Pasar tunggal dan pusat produksi akan membawa konsekuensi terjadinya aliran bebas barang (free flow of goods), aliran bebas jasa (free flow of services), aliran bebas investasi (free flow of investment), aliran bebas tenaga kerja terdidik (free flow of skilled labor) dan aliran bebas modal (free flow of capital) (Eddy Cahyono, 2013). Kuncinya Indonesia harus meningkatkan daya saing.
            Dengan semakin canggih dan masifnya penggunaan internet dan perangkat media sosial seperti cable television, blog, email, twitter, dan facebook membuat komunikasi antar personal semakin mudah. Seolah-olah batas negara kini tiada lagi, internet menyatukan kita manusia di seluruh dunia. Para blogger dapat dengan mudah saling terhubung, dan berkomunikasi dengan teman-teman blogger dari negara ASEAN lainnya. Tentu saja kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu syarat penting agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dalam bahasa internasional (Wijaya Kusumah, 2012). Tetapi, di lain sisi terdapat tantangan yang dihadapai ASEAN Blogger Community mendatang, yaitu keragaman bahasa dari 10 negara ASEAN. Jumlah keragaman bahasa akan bertambah jika kita menilik berbagai bahasa yang dipakai aneka suku bangsa di negara-negara tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, bahasa Inggris dapat menjadi solusi yang dapat dengan cepat diadaptasi karena pengajarannya yang sudah semakin luas dan metode pengajarannya yang terstandarisasi di berbagai negara dengan tidak menghilangkan keanekaan bahasa yang dimiliki masing-masing negara ASEAN (Pradana Nusantara, 2011).

Usulan-usulan, Strategi dan Rekomendasi untuk Komunitas ASEAN 2015
            Menghadapi ASEAN Community 2015, perlu adanya tindakan-tindakan yang brilian. Masyarakat Indonesia, khususnya pemuda untuk bersikap kreatif dalam meningkatkan daya saing. Dalam hal politik-keamanan, seperti mengusulkan adanya perjanjian ekstradisi seluruh negara ASEAN menghadapi kejahatan transnasional. Konsep  keamanan berubah  dan  ASEAN secara  otomatis menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut, apalagi banyak tantangan-tantangan regional baru yang dihadapi ASEAN tidak hanya fokus pada masalah keamanan tradisional saja tetapi  mulai menghadapi masalah keamanan  non-tradisional  yang  berupa  kejahatan  dan   perdagangan  terorganisir, pembajakan,  perdagangan  obat-obatan,  penyelundupan  dan  perdagangan  manusia, terorisme serta keamanan lingkungan, yang mana kejahatan-kejahatan tersebut lebih dikenal dengan kejahatan transnasional (transnational crime) (Bambang Cipto, 2007). Dalam bidang ekonomi, ASEAN Blogger Community mengusulkan terwujudnya ASEANetrepeneur, yaitu komunitas entrepreneur berbasis internet dalam memasarkan produknya dalam melakukan transaksi jual-beli, promosi produk, mencari barang yang dibutuhkan dan lain-lain. Hal ini  akan berdampak positif seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya jumlah UKM, promosi pariwisata, dan lain-lain di kawasasan ASEAN (Pradana Nusantara, 2011). Sedangkan dalam bidang sosial-budaya, ASEAN Blogger Community mengusulkan agar para blogger seluruh ASEAN bisa mengeksplor keahlian masing-masing, seperti travel blogger, food blogger dan tentunya juga banyak blogger lain yang menuliskan berbagai macam hal secara umum atau mungkin bisa disebut general/universal blogger. Dengan keahliannya masing-masing ASEAN Blogger Community mampu mengembangkan serta mengeksplorasi sosial budaya masing-masing negara ASEAN (Ivan Prakasa, 2013).
            Strategi yang dilakukan ASEAN Blogger Community untuk membantu Pemerintah agar meningkatkan pemahaman, kepedulian, partisipasi publik dan pemuda menghadapi Komunitas ASEAN 2015, yaitu: 1. Sosialisasi besar-besaran semua kalangan, 2. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing dan kuat menghadapi tantangan, contoh: pelatihan bahasa Inggris, pengembangan dengan pelatihan, workshop, pertemuan rutin antar pelaku ekonomi, dan pembangunan networking, 3. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), 4. Penyediaan Modal yang mudah diakses oleh pelaku usaha dari berbagai skala, 5. Perbaikan Infrastruktur seperti logistik, listrik, telekomunikasi, revitalisasi transportasi, jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, bandara, dan lain-lain. Kita mengetahui bahwa kesemua faktor ini sangat mempengaruhi proses produksi dan distribusi, 6. Reformasi kelembagaan & Pemerintah yang taat hukum & tidak memihak sangat diharapkan, dan 7. Reformasi Iklim Investasi (Makarame, 2013).
            Rekomendasi terbaik untuk Pemerintah mengahadapi Komunitas ASEAN 2015 adalah meningkatkan Paradiplomasi yang merujuk pada hubungan internasional yang dilakukan institusi sub nasional, regional, lokal, (bukan pemerintah  pusat),  untuk  kepentingannya. Dalam  era  globalisasi  fenomena  ini  begitu kuat seiring dengan terbukanya akses dan meningkatnya peran dan pengaruh aktor non negara dalam arena hubungan internasional. Daerah memiliki kesempatan mempromosikan perdagangan, investasi, dan berbagai  potensi  kerjasama  dengan  pihak-pihak  yang  berada di  luar  batas  yurisdiksi negara (Christy Damayanti, (2012). Tugas ASEAN Blogger Community adalah mensosialisasikan bahwa diplomasi pada umumnya merujuk pada seni, teknik dancara bagaimana kita mengadakan pendekatan atau perundingan (negosiasi) untuk memperjuangkan kepentingan nasional  suatu  negara  dan  langkah-langkah yang diambil untuk mengamankan kepentingan tersebut, disamping  membina hubungan dan  kerjasama yang baik dengan Negara-negara lain (Boer Mauna, 2002).

Daftar Pustaka
Cahyono, Eddy. (2013). Komite Nasional Mendorong Peningkatan Daya Saing. Diambil dari http://www.setkab.go.id/artikel-8698-html
Cipto, Bambang.  (2007). Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 5 dan 224.
Damayanti, Christy. (2012). Potensi Paradiplomasi dalam Mendukung Kinerja Diplomasi Indonesia Menuju Komunitas ASEAN. Transformasi Vol XIV No. 22 Tahun 2012.
Deplu ASEAN.  (2007). ASEAN Selayang Pandang. Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, hal. 29.
Deutschs, Karl W., dkk. (1961). International Politics and Foreign  Policy. New York:  Free  Press, hal. 98. 
DPR RI. (2012). Laporan Delegasi DPR RI ke AIPA & ASEAN Secretariat Retreat. Bali, 4-7 September 2012.
Edupai. (2013). ASEAN Blogger Community: Bersama Mewujudkan Komunitas ASEAN 2015. Diambil dari http://www.edupai.web.id/2013/04/asean-blogger-community-bersama.html
Ferdiansyah, Ferry. (2013). Indonesia dan Mimpi Komunitas ASEAN 2015. Diambil dari http://suar.okezone.com/read/2013/05/22/58/810664/indonesia-dan-mimpi-komunitas-asean-2015
Investor.co.id.  (2013).  Indonesia Berperan Mewujudkan Komunitas ASEAN. Diambil dari  http://www.investor.co.id/home/indonesia-berperan-mewujudkan-komunitas-asean/58 362
Ivan Prakasa. (2013). Komunitas ASEAN Will Be In Your Hand. Diambil dari http://ivan prakasa.com/2013/08/17/komunitas-asean-will-be-in-your-hand/
Kompas. (2011). Mewujudkan Komunitas ASEAN 2015. Diambil dari http://nasional.kompas. com/read/2011/01/22/04053223
Kusumah, Wijaya. (2012). Peran Blogger untuk Komunitas ASEAN 2015: Sebuah Pemikiran dari Seorang Blogger. Diambil dari http://wijayalabs.com/tag/peran-blogger-dalam-mewujudkan-komunitas-asean-2015/
Makarame. (2011). Komunitas ASEAN 2015 yang Bebas-Aktif. Diambil dari http://www.ma karame.com/2011/09/komunitas-asean-2015-yang-bebas-aktif.html
Mauna, Boer.  (2002). Diplomasi dan Hukum Diplomatik.
Nusantara, Pradana. (2011). Menuju Komunitas ASEAN 2015. Diambil dari http://pradana nusantara.wordpress.com/2011/09/08/menuju-komunitas-asean-2015/
Sae. (2011). Untuk Komunitas ASEAN 2015. Diambil dari http://saezablog.wordpress.com/ 2011/09/08/untuk-komunitas-asean-2015/
Sinaga, Roike. (2007). Menunggu Implementasi Piagam ASEAN. Diambil dari http://berita sore.com/2007/11/13/menunggu-implementasi-piagam-asean/32k.
Sungkar, Yasmin. (2008). Isu-isu Keamanan Strategis Dalam Kawasan ASEAN. Jakarta: LIPI Press.
Wibisono, Makarim. (2006). Tantangan Diplomasi Multilateral. Jakarta: LP3ES, hal. 202.
Wikipedia. Wawasan 2020 ASEAN. Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/ Wawasan_ 2020_ASEAN



3 comments:

  1. Wah, baru tahu, kalau artikel tulisan saya di blog dijadikan rujukan di sini. Padahal tulisan saya cuma sederhana, dan terkesan asal-asalan. Eh, malah jadi artikel ilmiah kayak gini... Sip deh...
    Thanks you , Mr. Casmudi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Muhammad Nur'alim: Terima kasih juga mas ...Aku yang harus berterima kasih sama sampeyan, bisa dapat rujukan ilmu sekedar buat berkarya, coret-coret dari pada mengendap di pikiran nanti jadi batu. Terima kasih banget mas ... Salam hangat.

      Delete