Thursday, May 1, 2014

CARA INDAH MENJADI PAHLAWAN DAN MEMBANGKITKAN “SPIRIT” DONOR DARAH



CARA INDAH MENJADI PAHLAWAN DAN MEMBANGKITKAN
 “SPIRIT” DONOR DARAH
Oleh: Casmudi, S.AP


          “Aku Donor Darah Sukarela”  

            Kalimat di atas tertera di halaman belakang Kartu Donor Darah PMI Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang berwarna biru dan putih.  Bagiku, donor darah sudah menjadi tindakan rutin dan sukarela. Bahkan, donor darah  merupakan tindakan yang mulia. Tindakan yang mampu membantu menyelamatkan nyawa orang lain. “Setetes darah mampu menyelamatkan nyawa orang lain”, begitu motto yang harus selalu terpatri bagi para pendonor darah. Melalui aksi donor darah kita bisa menjadi pahlawan baik untuk dirinya sendiri, maupun buat orang lain.
           Aksi donor darahku bermula dari informasi teman kostku sewaktu pendidikan SMA di Kota Tegal, Jawa Tengah. “Cas, donor darah bae ben awake enak. Awake dadi tambah sehat sung!”  (Cas, donor saja biar badannya enak.  Badan jadi tambah sehat, serius!). Berawal dari anjuran temanku tersebut, aku berani untuk melakukan donor darah yang pertama kalinya di PMI RS Kardinah, Kota Tegal, Jawa Tengah pada tanggal  16 Oktober 1995. Meskipun pada awalnya, aku sangat takut dengan tajamnya jarum suntik yang menusuk kulit. Namun, setelah merasakannya bagai “ngeri-ngeri sedap” dan “masuk barang tuh” seperti apa yang dikatakan politikus Shutan Batoegana.
           Aku pun jadi ketagihan untuk melakukan donor darah. Bukan karena segelas susu hangat, 1 kaleng susu, telor setengah matang, mie instant dan 1 kaplet obat penambah darah. Tetapi niat untuk menjadi sehat, membantu sesama dan menjadi pahlawan dalam diriku. Aku merasa tidak bisa memberikan yang terbaik buat orang lain. Hanya darah yang bisa aku berikan untuk membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Karena berpindah tempat kerja, aku sering melakukan donor darah secara rutin di mana pun sesuai waktu yang telah ditentukan dan kesempatan yang ada. Bahkan aku sering melakukannya di saat puasa dan tidak menjadi hambatan sama sekali. Aku pernah melakukan donor darah di Purwakarta (Jawa Barat), Jakarta, Bandung, Semarang, Ngawi (Jawa Timur), dan Denpasar (Bali).
           Ada pertanyaan yang membuat saya mengernyitkan dahi setiap saya berdonor darah. “Sudah dapat penghargaan belum pak?” kata petugas PMI. “Belum tuh pak! Memangnya dapat penghargaan ya pak?”, jawabku. Hingga saat ini aku sudah melakukan aksi donor darah sebanyak 53 kali. Niatku berdonor darah karena ingin membuat badanku sehat karena proses regenerasi darah dan ingin membantu sesama. Seperti apa yang aku lakukan untuk berdonor darah buat saudaraku yang sangat membutuhkan banyak darah saat operasi penyakit kankernya di RS Sanglah, Denpasar (Bali).
            Dengan rutinnya melakukan donor darah, aku pun ingin mengajak dan memberikan “spirit” donor darah pada istriku. Aku selalu katakan padanya, “Ma, donor darah saja biar badannya sehat”.  Akhirnya aku mengajaknya untuk melakukan donor darah di PMI Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Lumayan, istriku pun sudah melakukannya sebanyak 3 kali hingga sekarang. Yang terpenting, aku ingin menjadi pahlawan dalam diriku dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Ajakan tersebut persis apa yang dikatakan teman kostku waktu SMA dulu.   
            Akhirnya, tidaklah susah untuk menjadi pahlawan. Kita hanya melakukan aksi donor darah secara rutin untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Apalagi kalau kita bisa melakukan ‘spirit’ donor darah kepada orang lain. Sungguh, ada cara indah dalam donor darah





*) Diikutsertakan dalam "Lomba Artikel PMI" 2014

No comments:

Post a Comment