Sunday, April 3, 2016

MENGANGKAT HARTA GAIB



MENGANGKAT HARTA GAIB
(Part 1)






Namaku …. Satria …
Satria yang berarti pemimpin yang kuat dan berwibawa.  Seorang Manager perusahaan distribusi di Kota Jakarta yang meninggalkan kampung halamannya demi menggapai cita-cita yang diidam-idamkannya sejak kecil, yaitu kaya dunia akhirat. Adil dalam mengeluarkan berbagai kebijakan dalam perusahaan demi kemaslahatan bersama di lingkungan perusahaan. 
Jalan kehidupan manusia tidak bisa ditebak. Semuanya serba misterius. Karena, semua tertuang dalam Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfudz). Hanya Allah SWT-lah yang Maha Tahu akan seperti apa keadaan manusia di masa depan.
Sama halnya dengan diriku, Saya tidak akan mampu menebak seperti apa kehidupan 1 jam, 1 hari, 1 minggu bahkan 10 tahun mendatang. Semuanya serba misterius. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin dan Allah SWT lah yang menentukan.
Saya tidak menyangka bisa bersentuhan dengan kehidupan klenik alias mistis yang mampu menjungkirbalikkan logika atau alam bawah sadar seorang manusia. Meskipun ilmu klenik tidak jauh dari kehidupan keluarga saya, terutama orang tua. Tetapi, saya merasa bahwa saya sebagai anak ingin hidup wajar-wajar saja.
Jika saya mencintai mencintai seorang wanita, tidaklah perlu memakai Ajian Semar Mesem, Jaran Goyang, Gejug Bumi atau apalah-apalah. Tetapi cukup dengan mengeluarkan bahasa gombalan ala jaman ABG sekarang yang ada di akun social media seperti facebook, twitter, line, path atau instagram.
Jika ingin terbang atau berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lainnya, tidaklah perlu memakai Ajian Meraga Sukma. Tetapi, cukup pesan tiket pesawat terbang atau bis eksekutif melalui aplikasi traveloka, trivago dan lain-lain,  saya bisa berpindah tempat yang satu ke tempat lainnya dalam hitungan jam. Mudah bukan?
Jika cintanya kepada wanita yang digandrungi ditolak, kita tidak perlu memakai jasa dukun untuk bertindak merekatkan hubungan kembali atau membuat ssang wanita yang digandrungi menjadi sakit atau gila.
Aji-aji dan mantra-mantra pun nggak perlu dikeluarkan sambil mengeluarkan sesajen yang berballut kemenyan yang dibakar untuk meluluhkan hati wanita agar mencintai kita. Tetapi, cukup mengatakan dengan setulus hati untuk bersamanya, “Beb, aku mencintai dirimu sepenuhnya dan apa adanya. Maka dari itu, aku ingin hidup bersamamu lebih lama lagi”. Apalagi, jika ceweknya diajak shoping, dijamin ceweknya dari cemberut menjadi sumringah bukan?
Saya pun mengikuti perkembangan teknologi terkini seperti orang lainnya. Tetapi, ilmu yang berbau klenik tetap tidak bisa jauh dari kehidupan kita. Saya pun demikian. Semuanya berawal dari perkenalan saya dengan Deni yang notabene merupakan anak buah saya di tempat saya bekerja.di Jakarta.
Hubungan saya dengan Deni bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, tetapi sudah melebihi dari seorang teman atau saudara. Kami sering bercerita tentang hal-hal yang menarik untuk dikupas. Dari cerita politik hingga klenik. Beni memang orangnya pintar. Oleh sebab itu, komunikasi kami sangatlah berarti.
Karena kedekatan kami, akhirnya kami pun sering berbicara hal-hal yang bersifat pribadi. Saya pun sering berkunjung ke rumahnya di Purwakarta Jawa Barat. Hal itulah yang membuat kami semakin dekat. Kadang kami menganggap seperti saudara.
“Den, bapak kamu ke mana. Kok nggak kelihatan?” tanyaku
“Bapakku udah meninggal be, sejak aku masih kecil” jawabnya sambil mengambil air putih di kulkas.
“Kamu berapa bersaudara?” tanyaku penasaran.
“Saya lima bersaudara, tetapi 3 kakakku laki-laki sudah berkeluarga semua dan pisah dengan kami”
“Jadi yang di sini”
“Saya sama kakakku yang perempuan. Kebetulan, kakak perempuanku kerja di pabrik pulangnya sore”
Kulihat jam di tanganku baru menunjukkan pukul 1 siang. Ketika kami sedang bercakap-cakap datang seorang ibu setengah baya yang parasnya masih terlihat cantik. Ternyata ibunya Deni. Saya hanya tersenyum dan menjawabnya dengan anggukan hormat.
“Loh, temannya kok nggak diajak makan bareng Den?” Tanya ibunya Beni.
“Sebentar bu, katanya mau sholat dulu”
“Ya bu, saya mau numpang sholat dulu” jawabku.
“Kalau mau sholat, benerin tuh kamar yang di belakang, kondisinya masih berantakan” tanya ibunya Deni sambil membawa baki yang berisi kue ke ruang tamu. Selidik punya selidik, ternyata ibunya Deni barusan belanja dari pasar yang tidak jauh dari rumahnya.
Setelah melakukan ibadah sholat, dhuhur, kami diajak Deni untuk makan siang bersama. Kulihat ruangan yang ada di sekelilingnya. Semuanya berbalut warna biru perabotan-perabotan klasik. Maklum, almarhum Bapaknya adalah pegawai PLN, jadi warna kesukaan PLN sangat mendominasi.
Bangunan yang masih terkesan klasik khas Jawa Baratan membawa alam pikiran saya ke rumah saya di kampung sebelum dipugar. Rumah yang masih terkesan tradisional dan sangat nyaman untuk ditempati.
Setelah makan siang bersama, saya dan Deni pun melanjutkan percakapan di ruang tamu kembali. Obrolan pun kembali hangat. Saya sudah merasa seperti di rumah sendiri. Sambutan keluarga Deni yang sangat familiar membuat saya seperti berada di rumah sendiri.
Saya sangat salut terhadap kehidupan Deni. Meskipun, sudah ditinggal Bapaknya sangat mandiri dalam menjalani hidup. Tak ada kesan  sedih dalam raut wajahnya. Meskipun bulir-bulir air mata terpaksa menggenang di sudut matanya ketika membicarakan tentang kebaikan Bapaknya semasa hidup.
Itulah uniknya manusia. Sehebat apapun jabatan atau titel, mereka akan luluh dan tidak sanggup menahan air mata ketika diajak berbicara tentang kebaikan orang tunanya. Dalam hatinya akan merasa bahwa orang tualah yang hanya mampu memberikan kasih sayang yang tiada tara.

HENING …
Gubrak!! Meooongggg!!! Meoongggg!!!
Suara pertengkaran dua ekor kucing berwarna hitam dan putih berbalut kecoklat-coklatan terjadi di atas lemari yang berada di pojok ruang tamu mengganggu keheningan kami. Kedua ekor kucing tersebut saling beradu dan menyeringai giginya. Sepertinya keduanya ingin saling melahap satu sama lain.
“Be!”
Beni mengganggu lamuananku. Jangan kaget, Deni dan anak buahku lainnya memanggilku “Babe” yang berarti Bapak dalam bahasa Betawi. Karena panggilan tersebut menunjukan sebagai jabatan tertinggi (Manager) di kantor kami. Bukan hanya itu, panggilan babe menjadi sangat familiar, karena menunjukan sosok yang melindungi anak buahnya.
Lamunanku yang sedang fokus memandang pertengkaran kedua kucing yang berakhir dengan kejar-kejaran menjadi buyar.
“Oh ya, Den …. Saya jadi ngelamun nih”
“Babe masih ingat nggak tentang harta gaib yang pernah saya ceritakan sebulan lalu di Jakarta”
“Sorry …saya agak lupa nih. Tak ingat-ingat dulu!”
“Ingat be!” Deni menegaskan kembali.
Pandangan mataku agak sedikit merem. Bukan begaya. Emang lagi bingung mikirin agar bisa secepatnya ingat. Kuangguk-angguk kepalaku seperti orang gila. Jari telunjuk tanganku diketok-ketok di bagian kepala sampingnya. Dan masih belum ingat juga. Gila!! Yang mana ya, pikirku.
“Waktu ngomong di mana ya?” Tanyaku pada Deni kembali.
“Waktu di Jakarta … ITC be!!” kalimatnya agak meninggi.
Dia berharap agar saya bisa mengingatnya kembali tentang obrolan yang pernah dibicarakan dulu. Berkali-kali dia berussaha untuk mengingatkan kembali obrolan tentang Harta Gaib yang pernah dibicarakan tempo dulu.
“Ooooohhh … sori ---sori Den, saya baru ingat. Yang, masalah harta gaib yang mau diangkat dekat rumahmu, yang katanya dekat empang kan?”
“Nah, itu … babe baru ingat!” Beni tersenyum lebar melihat ingatan saya mulai terbuka.
“Saya penasaran ingin bicara masalah harta gaib sama babe”
“Maksudnya gimana nih?” Saya pun semakin penasaran dan mencoba menerka apa yang akan dibicarakan Deni terhadapku.
“Begini be. Leluhur saya kan keturunan Prabu Kian Santang yang sangat terkenal di tanah Pasundan. Dulu waktu bapak saya belum meninggal sering ngobrol masalah harta gaib peninggalan leluhur kerajaan masanya Prabu Kian Santang itu”
“Emang hartanya taruh di mana?”
“Ya, di tempat sekarang yang berubah jadi empang”
“Emang empangnya di sebelah mana?”
“Tidak jauh dari sini be! Kurang lebih 50 meter di sebelah barat rumahku” katanya meyakinkan.
Benar, empang yang ditunjukkan lokasinya oleh Deni memang menjadi pembicaraan hangat di kampungnya. Suatu hari, empang yang biasa menjadi tempat mancing warga sekitar menjadi heboh ketika salah seorang warga yang melihat kejadian aneh sekitar jam 6 sore menjelang maghrib.
Masih ingat dengan wujud kereta kencana Nyi Roro Kidul dalam cerita Jawa yang berbalut serba keemasan? Tidak berbeda dengan wujud kereta kencana yang muncul dari dasar empang tersebut.
Seorang warga (sebut saja namanya Deden) mengetahui dengan kepala sendiri seorang gadis cantik bak Ratu Nyi Roro Kidul dengan kendaraan kereta kencana berbahan emas yang ditarik oleh 2 ekor kuda berbadan tinggi. Warga yang melihat fenomena tersebut tidak bisa berkata apa-apa, melongo dan pingsan ketika kereta kencana muncul pelan-pelan dari dasar empang menuju langit.
Kereta kencana dan sang dewi cantik tersebut menghilang sebentar di langit karena semakin menjauh, lalu muncul lagi menukik pelan-pelan menuju dasar empang kembali. Warga tersebut semakin melongo dan pingsan di tempat dengan kondisi tangan masih memegang alat pancing.
Setelah sadar, warga yang pingsan tersebut memberitahukan kejadian gaib yang pernah diketahuinya kepada beberapa warga yang bisa dipercaya untuk memegang informasi agar tidak bocor ke mana-mana. Termasuk, Deni yang notabene pemuda yang sangat familiar di kampung tersebut.
Munculnya fenomena kereta kencana berbalut emas yang dikendarai oleh gadis cantik tersebut memberikan keyakinan Deni bahwa di empang tersebut benar-benar telah bersarang harta gaib yang tak ternilai harganya. Tetapi, bagaimana cara untuk mengambilnya menjadi Pekerjaan Rumah yang tidak bisa terpecahkan hingga kini.
Harta gaib yang ada di dasar empang tersebut telah beberapa kali dicoba untuk diangkat secara supranatural oleh warga yang pertama kali melihat kejadian aneh tersebut. Dia dan beberapa temannya, termasuk Deni berusaha sekuat tenaga untuk mencari paranormal yang mampu mengangkat harta gaib dari Jawa Barat hingga Sumatera. Tetapi, hasilnya nihil alias tak mampu.
Menurut warga bahwa harta gaib tersebut jika diangkat dan diketahui pemerintah, maka akan menjadi milik pemerintah. Oleh sebab itu, beberapa warga berupaya untuk mengangkat harta gaib tersebut secara sembunyi-sembunyi. Deni pun pernah berupaya untuk mencari paranormal dan meminta bantuannya untuk harta gaib tersebut dengan cara muncul di tempat yang diinginkan atau tersembunyi.
Jika, paranormal berada di Sumatera maka harta gaib tersebut bisa diangkat dan muncul di dalam rumah di Purwakarta. Jadi, tidak bisa diketahui masyarakat luas yang akan menjadi pembicaraan hebat. Semua paranormal yang dimintai tolong hanya mampu mengangkat harta gaib tersebut muncul di tempat harta gaib berada (empang dan sekitarnya). Kalau harta gaib tersebut muncul di sekitar empang, maka akan menjadi geger warga sekitar.  
Oleh sebab itu, usaha mencari paranormal yang mampu mengangkat harta gaib di tempat tersembunyi atau yang diinginkan menemui jalan buntu. Sayup-sayup berita tentang keberadaan harta gaib di empang tersebut seperti angin malam yang berhembus pelan-pelan dan hilang ditelan bumi. Push … lenyap!
Tetapi, Deni yang kini ada di hadapanku sepertinya serius ingin membicarakan tentang harta gaib tersebut yang telah mangkrak beberapa tahun belakangan. Saya pun mulai teringat pelan-pelan tentang harta gaib yang pernah dibicarakan dulu.
Harta gaib yang membuat warga di sekitar rumahnya seperti orang gila dan mengjungkirbalikkan logika. Banyak orang yang bernyali kuat untuk datang merenung atau bertapa di sekitar empang. Mereka berharap bisa bertemu sang dewi cantik yang mengendarai kereta kencana berbalut emas dengan 2 ekor kuda tinggi besar yang menariknya.
Warga juga ingin nasib baik bisa menghinggapi dirinya seperti salah satu warga mereka yang ketiban pulung melihat dengan mata kepala sendiri betapa cantik dan semampainya sang dewi mengendarai kereta kencana. Mereka berharap bisa bertemu langsung dan mengeluarkan permohonan kekayaan. Sungguh, logika jungkir balik yang tidak bissa dikekang lagi.
“Babe dulu pernah bilang sama saya. Katanya punya kenalan orang pintar yang bisa mengangkat harta gaib” kata Deni. saya mulai mengingatnya kembali apa yang pernah saya katakan tempo dulu.
“Ya, saya waktu itu cuma bicara sekilas. Memang, kalau di Jawa Timur banyak orang pintar. Cuma masalah orang pintar yang bisa mengangkat harta gaib saya belum bisa memastikan. Namanya juga ngomong sekenanya Den!” jawabku ngeles.
“Begini be. Kalau babe bisa nyariin orang pintar yang bisa mengangkat harta gaib tersebut, nanti hartanya kita bagi dua be. Jadi pembagiannya begini be, sepertiga untuk orang pintarnya, kemudian sisanya kita bagi dua be. Gimana?”
“Ya, nanti saya usahakan kalau pulang kampung ke Ngawi (Jawa Timur). Tapi, sori saya nggak janji loh Den. Kalau ada … ya tak mintain tolong, kalau nggak ada ya jangan berharap terlalu banyak” kataku agak sedikit bijakssana.
Kulihat roman muka Deni agak sedikit sumringah, ketika saya berusaha untuk mencarikan orang pintar yang bisa mengangkat harta gaib. Meskipun, informasi tentang harta gaib tersebut bagi saya hanyalah angin lalu saja. Tetapi, dalam hati saya juga berontak dan penasaran pengin tahu lokasi yang dianggap sebagai pusat harta gaib berada.
“Babe pengin tahu empangnya di mana?. Dekat kok dari sini” Tanya Deni menawariku.
“Ayo, penasaran saya ingin melihatnya” jawabku.
Kami bergegas menuju empang yang menurut warga sekitar termasuk Deni merupakan harta gaib berada. Tidak lama memang, kurang lebih 15 menit setelah kami melewati puluhan rumah warga, jalan yang kadang naik dan menurun kami sampai di tempat yang dituju.

EMPANG …
Tidak berbeda dengan empang kebanyakan. Luasnya pun tidak berbeda dengan luas lapangan futsal sekarang. Hanya bentuknya yang sedikit bundar dan rumput alias semak-semak yang mengelilinginya membuat kondisi empang menjadi rimbun dan sedikit memberikan kesan mistis.
Ketika kami mendatanginya tepat setelah adzan Ashar berkumandang. Dan sebelumnya, kami sudah sholat Ashar di rumah Deni sebelum mendatangi empang tersebut. Kondisi empang sungguh sepi. Mungkin, karena di sekelilingnya masih tanah kosong yang belum ada rumah yang berdiri.
“Ini be, empangnya” kata Beni
“Cuma kayak gini, banyak harta gaibnya” jawabku sekenanya.
“Ya, banyak orang be yang sudah tahu bahwa di dasar empang banyak harta gaibnya. Kalau kita bisa mengangkatnya, kita bisa kaya mendadak be!” jawab Deni penuh semangat.
“Ah, kamu jangan terlalu berhayal”
“Serius be!”
“Ya, nggak usah ngegas gitu. Nanti nabrak orang tahu!”
Tanpa terasa aura mistis pun terjadi. Bulu kuduk saya tanpa terasa berdiri. Bukan hanya itu, angin berhembus mengenai wajahku dan menggoyang-goyang rambutku. Padahal saat itu, saya tidak melihat dedaunan pohon-pohon tinggi yang berada di sekitar empang bergerak karena tiupan angin.
“Persetan gaib” pikirku. Saya mencoba singkirkan pikiran negatif jauh-jauh.
“Kalau babe bisa ketemu dengan orang pintar di Ngawi yang bisa mengangkat harta gaib, kaya kita be” Deni meyakinkan saya kembali sambil menendang rumput yang ada di pinggir empang.
“Ya, akan saya usahakan. Tetapi, saya tidak berjanji. Kebetulan, minggu depan saya akan pulang ke Ngawi karena ada keperluan keluarga” jawabku.
“Sip be, saya tunggu info secepatnya”
“Ya … yuk, kita kembali ke Jakarta. Nyari duit lagi” jawabku mengakhiri kunjungan ke empang gaib.
Sebelum kami kembali ke Jakarta untuk bekerja melakukan aktifitas kembali, kami mampir sebentar di rumahnya Deni. Katanya, ibunya Deni sudah menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Karena besok senin, kami harus bekerja kembali demi penghidupan lagi.

Denpasar, 3 April 2016

No comments:

Post a Comment