Saturday, July 23, 2016

Film "Untuk Angeline"



Film “Untuk Angeline”, Sarat Makna Untuk Tidak
Melakukan Kekerasan Terhadap Anak


Poster film “Untuk Angeline”
(Sumber: movie.co.id)



Sahabat, masih ingatkah kisah pembunuhan sadis seorang gadis kecil nan cantik yang tidak berdosa  yang dibunuh secara keji di Pulau Dewata, Angeline? Kasus yang menghebohkan dunia membuat kita terpana. Betapa tidak, anak kecil diperlakukan oleh ibu tirinya dengan kejam hingga menemui ajalnya di sebuah lubang di belakang rumahnya hingga membusuk. Ya, peristiwa nyata tersebut memberikan inspirasi seorang sutradara “Jito Banyu” untuk diangkat ke layar lebar dengan judul yang hampir sama yaitu “Untuk Angeline”.


 Film “Untuk Angeline” telah lulus sensor siap untuk ditonton masyarakat Indonesia (Sumber: dokumen pribadi)

Ketika saya menonton film tersebut, saya kagum dengan alur ceritanya yang dibuat oleh Script Writer cantik “Lele “ Laila Nurazizah. Cerita yang membuat kita hanyut dalam cerita yang sedang berjalan yang hampir sama dengan cerita pada kenyataannya. So, anda akan dibuat kagum filmnya.
Film “Untuk Angeline” dipenuhi dengan artis-artis yang tidak diragukan lagi macam : Kinaryosih sebagai Samidah, Teuku Rifnu Wikana sebagai Santo (suami Samidah), Naomi Ivo sebagai Angeline dewasa, Paramitha Rusadi, sepasang suami istri Duke Rahmat & Niken Septiasari sebagai Produser yang merangkap sebagai tokoh pembantu dalam film dan masih banyak lainnya.

Salah satu adegan Samidah yang diperankan oleh
Kinaryosih pada sebuah pengadilan
(Sumber: dokumen pribadi)

Yang menarik adalah Acting Coach dilakukan oleh Susilo Badar yang pernah berperan sebagai Bapaknya Jokowi dalam film Jokowi. Pantesan, akting yang diperankan oleh para artis benar-benar total dan membawa kita ke kisah yang sebenarnya. Padahal, pihak perusahaan sudah mewanti-wanti bahwa film yang dibuat hanyalah rekayasa belaka. Tetapi, penggarapan film yang luar baisa membuat kita benar-benar kagum dibuatnya. Sepanjang film diputar benar-benar sangat menguras emosi penonton dengan penataan cahaya yang bagus, ilustrasi musik yang menawan dan lain-lain.
Sepanjang 1 jam 30 menit film tersebut diputar membuat kita seakan-akan terbawa akan kisah nyata, meskipun kisah tersebut hingga kini belum terkuak wajah aslinya. Karena peristiwa Angeline yang nyata masih serba misterius, meski pelaku utamanya sudah divonis penjara.

****

Film Untuk Angeline mengisahkan sebuah keluarga sederhana Samidah dan Santo yang dikaruniai anak yang dilahirkan di sebuah rumah sakit. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan membuat biaya pembayaran persalinan pun tidak mampu untuk ditebus. Dengan terpaksa, Santo sang suami berniat untuk menyerahkan hak asuhnya hingga umur bayi mungil hingga umur 18 tahun pada seorang bule bernama John dan beristrikan Terry warga negara Indonesia. Yang menarik adalah sang bule John yang diperankan oleh Hans De Kraker memberikan nama bayi mungil nan cantik dengan nama Angeline karena kehadirannya bagai malaikat. Sayangnya, dari alur film yang saya lihat, proses adopsi tersebut sebenarnya kurang disenangi oleh istri John yang diperankan oleh Roweina Umboh, artiS kawakan yang sering berperan dalam film komedi bersama Warkop DKI.
John yang diperankan dengan roman muka mirip Pierce Brosnan sebagai tokoh yang penyayang terhadap Angeline. Perlakuan sayang tersebut selalu membuat cemburu Tery yang mempunyai anak bawaan bernama Kevin. Semua konflik permasalahan yang menceriatakan tentang kecemburuan seorang Tery dan anaknya Kevin digarap apik oleh sutradara. Berbagai konflik pun terjadi yang membuat John mengalami serangan jantung yang mengakibatkan meninggal dunia.
Saya terpesona dengan kalimat yang dikatakan pembantunya bernama Ni Luh ketika mengatakan pada Angeline kecil bahwa jika hujan siang di Bali berarti pertanda akan ada orang yang meninggal. Seketika, setelah John yang benar-benar penyayang pada Angeline meninggal, perlakukan Tery terhadap Angeline berubah drastis.
Angeline kini bukanlah gadis cantik yang lucu, cantik, periang, pintar yang bertemankan boneka lucu bernama Luna. Angeline kini menjadi anak tiri yang diperlakukan seperti hewan. Angeline diperlakukan oleh ibu tirinya untuk mengurus piaraan kucing kesayangan Tery yang harganya puluhan juta rupiah. Dendam kesumat Tery pada Angeline selalu diluapkan Tery pada Angeline setiap saat. Angeline pun tidak mendapatkan jatah makan layaknya sebagai manusia, tetapi makanan kucing yang menjadi santapannya. Badannya yang mulai kurus, luka lebam pada tubuhnya atas perlakuan ibu tirinya membuatnya tetap sabar tidak mau menceritakan pada orang lain.
Yang menarik dari percakapan Angeline ketika di sekolah saat istirahat siang dan teman-temannya membawa bekal makanan yaitu: Angeline yang selalu tidak membawa bekal makanan karena ibunya lupa memberikan bekal. Ketabahan seorang Angeliene pada film “Untuk Angeline” inilah yang bagi saya pribadi sebagai strategi top markotop sutradara.
Kondisi kucel dan datang terlambat ke sekolah membuat wali kelas Angeline yang diperankan oleh Dewi Hughes heran dan kaget. Angeline tetaplah anak yang mampu menyimpan rahasia, tetapi kita menceritakan tentang kebaikan ibunya di pentas Hari Anak Nasional, seluruh guru dan hadirin mengetahui tentang kondisi Angeline yang selama ini tersimpan rapat. Di sinilah, adegan tersebut sungguh menyayat hati. Dijamin, air mata penonton tak mampu terbendung untuk menetes.
Ketika melihat salah satu dari kucing piaraan yang mahal mati, perlakuan kasar Tery semakin tak terbendung. Perlakuan kasar ibu tirinya akhirnya berujung pada kematian. Di sisi lain adegan, Ibu Angeline Samidah yang bekerja pada keluarga kaya yang diperankan oleh Paramita Rusadi secara kebetulan mempunyai anak kesayangan bernama Nanda. Samidah memperlakukan Nanda seperti anaknya sendiri. Keluarga majikannya tersebut pun sudah menganggap sebagai keluarga sendiri. Selama Samidah bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), ia selalu teringat pada anaknya sendiri. Begitu juga Angeline, keduanya larut dalam mimpinya.
Kondisi bahwa Samidah mempunyai anak pun akhirnya diketahui oleh majikannya dan selanjutnya majikannya memberikan kesempatan bagi Samidah untuk mencari kondisi sejati Angeline di pulau Bali. Konflik dalam film ini pun dibuat apik kembali. Karena Santo sang suami Samidah ternyata sudah mempunyai istri simpanan asli Bali yang dalam kondisi mengandung. Konflik semakin terjadi karena rumah yang ditempatinya adalah rumah milik Samidah yang selama kini ditinggalkan untuk pergi merantau.

****

Berita kematian Angeline yang disamarkan dengan berita tentang hilangnya Angeline pun tersebar ke mana-mana, hingga Samidah dan Santo mengetahui bahwa Angeline bisa ditemukan kembali atas ajakan pihak kepolisian di rumah sakit. Sayang seribu sayang, kabar gadis cantik Angeline yang sudah bertahun-tahun sangat dirindukannya justru bisa ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sungguh menarik adegan ketika Samidah mencium Angeline yang baru ditemukannya membuat penonton seakan-akan terbawa betapa pedihnya seorang ibu yang ditinggal anak kandungnya, tetapi setelah bertemu hanya mayatlah yang bisa menemaninya. Pada adegan inilah, saya tidak mampu menahan air matanya.
Santo dalam adegan film juga  menjadi orang yang menyesal dalam seumur hidupnya. Setelah mengetahui Angeline meninggal dunia, ia sangat menyesal mengapa dulu ia menyerahkan Angeline pada orang lain. Ia pun meluapkan kemarahannya  pada sepeda motornya yang telah merubah jalan hidup tragis pada diri Angeline. Sepeda motor antik yang dahulu disarankan oleh Samidah untuk dijual sebagai ganti biaya penebusan kelahirannya kini dijungkir balikkan, ditendang, dipecahkan dengan dengan helmnya. Adegan di sini memberikan gambaran kepada kita bahwa penyesalan akan datang selalu terlambat. Seandainya Santo tahu akan jalan tragis yang terjadi, mungkin sepeda motor itu akan dijualnya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Kenyataan yang dialami kini, anak kesayangannya justru mengalami perlakuan tragis hingga menghebuskan nafasnya yang terakhir, buah dari perlakuan yang tidak manusiawi dari ibu tirinya.
Banyak hal yang bisa kita ambil dari film “Untuk Angeline” bahwa pikirkan matang-matang sepasang suami istri ketika akan mengadopsi seorang anak. Karena anak yang akan dihadapi adalah seperti anak sendiri. Ketika anak kita diadopsi hendaknya  kita mempunyai surat-surat resmi yang akan menguatkan orang tua kandung dan orang tua yang mengadopsi. Terpenting lagi adalah hentikan kekerasan pada anak. Anak tidak berdosa, diciptakan untuk dikasihi dan disayangi. Anak adalah anugaerah Tuhan yang tiada banding.
Jadi, bagi sahabat yang ingin tahu lebih detil tentang gadis cantik Angeline, janganlah pernah ragu untuk menonton film tersebut ya. Pesan saya, yang lagi galau atau sedang ssakit hatinya atau yang lain-lain, tolong bawa tisu yang secukupnya. Buat apa? Buat njagain kalau air mata jatuh bertetesan tiada terbendung. Saya saja cowok yang kuat saja bisa nangis apalagi kamu. Ih, Cuma pesan saja. Jangan sampai nanti kalo nangis minta tisu sama temen atau penonton yang tidak dikenalnya. Kan malu. Yuk, tonton filmnya. Selamat menonton!


Catatan:
Ada yang ketinggalan nih, Blogger Bali sedang menonton bareng Gala Premier Film “Untuk Angeline” di Park 23 XXI Kuta Bali.






5 comments:

  1. Kak AL juga nangis kok...itu artinya kita itu laki2 penyayang, katanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yang laki-laki tidak pernah nangis, tanpa terasa mampu meneteskan air mata Kak Arul Sungguh film yang mengharukan.

      Delete