Tuesday, July 26, 2016

SOS Children's Village Bali

SOS Children’s Village Bali, Saat Anak
Butuh Pengasuhan Orang Tua


Sesi foto bersama anak-anak asuh di depan 
kantor SOS Chlidren’s Bali


“Many Children need many friends. It is easy to do good when many people help”
(Hermann Gmeiner, Bapak SOS Children’s Village). 


Sekapur Sirih
Beberapa hari yang lalu saya dan blogger Bali mendapatkan undangan dari SOS Children’s Village Bali untuk menelisik lebih jauh tentang keberadaannya. Kedatangan saya dan blogger Bali disambut dengan rintik-rintik hujan. Sepertinya, ALLAH SWT Maha Tahu bahwa saya habis kelelahan karena melakakukan perjalanan jauh dari Denpasar ke alamat yang dituju, sehingga harus diberi rasa dingin agar badan tidak terlalu mengeluarkan banyak keringat. Ya, SOS Children’s Village Bali beralamat di Jl. Raya Gilimanuk – Megati KM.32 Banjar Bunut Puhun Desa Bantas, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali yang jaraknya kurang lebih 50 km dari tempat tinggal saya di Kota Denpasar. Perjalanan yang lumayan jauh dengan melalui banyak kelokan jalan.
Kedatangan kami juga disambut hangat oleh oleh penguasa wilayah SOS, yaitu: Bapak Gregor Hadi Nitiharjo (Direktur Nasional SOS Children’s Village Indonesia), Bapak Bagus Suweca (Direktur SOS Children’s Village Bali), Bapak Ko (Komang) Lopez (Marcomm SOS Children’s Village Spanyol yang menghubungkan dengan SOS Children’s Village Bali yang fasih berbahasa Indonesia), Mbak Floriberta Apsari (Staff PR Communication SOS Children’s Village Indonesia). Tidak ketinggalan juga Bapak Putu (relawan yang sudah bekerja selama kurang lebih 20 tahun) memberikan petunjuk pada saya tentang setiap jengkal  SOS Children’s Village Bali.
Ada yang menarik dari kunjungan saya ke SOS Children’s Village Bali. Saya sempat bercakap-cakap dengan salah satu anak asuh dari SOS Children’s Village Bali yang masih kecil bernama Mario. Berikut percakapannya:
Saya : Siapa namamu de?
Si kecil : Mario …. (jawabnya dengan lugu)
Saya: Kamu asalnya dari mana?
Si kecil: dari Perean (red: daerah yang berada di kawasan jalur
menuju kawasan wisata Bedugul)
Saya: Ngapain kamu di sini?
Si kecil : mau sekolah!
Saya agak kaget dan tersenyum mendengar jawaban yang polos dari seorang anak kecil Mario yang berumur sekitar 7 tahunan.

Mario, salah satu anak asuh di SOS Children’s Village Bali 

Mario menjadi anak asuh di SOS Children’s Village Bali karena orang tuanya tidak sanggup lagi untuk memberi hak asuh yang baik seperti layaknya anak-anak pada umumnya. Ya, di kawasan SOS Children’s Village khususnya Bali, anak-anak akan terbantu hak asuhnya karena tidak sempat mengenyam hak asuh atau tidak pernah mendapatkan hak asuh dari orang tua kanungnya. Baik, untuk mendapatkan informasi lebih dalam tentang  tentang SOS Children’s Village sebenarnya, mari kita lanjut ke paparan berikutnya.

****

SOS Children’s Village dunia didirikan oleh Hermann Gmeiner di Austria. Yayasan kemanusiaan yang didirikan tersebut terinspirasi karena banyaknya anak terlantar yang ditinggalkan orang tuanya karena korban perang Dunia ke-2. Hermann Gmeinerr merasa trenyuh atas keadaan yang dilihatnya tentang anak-anak yang kehilangan hak asuh orang tuanya. Akhirnya, Beliau terinspirasi untuk membuat yayasan yang menaungi tentang anak-anak yang kehilangan hak asuhnya. Anak asuh pertamanya adalah Helmut Kutin yang sekarang menjadi Presiden Kehormatan  SOS Children’s Village dunia dan menjadi menerus kepemimpinan Hermann Gmeinerr karena sudah meninggal dunia.
Ekspansi SOS Children’s Village di Asia pertama kali dilakukan di negara Vietnam tepatnya di Ho Chi Minh sekitar tahun 1960-an. Hal ini dilakukan karena di negara tersebut telah terjadi peperangan yang membuat banyak anak kehilangan hak asuh orang tuanya karena korban meninggal akibat peperangan. Perkembangan SOS Children’s Village pun berkembang pesat, yang akhirnya bisa didirikan di negeri kita Indonesia.

SOS Children’s Village Indonesia
Perlu diketahui bahwaSOS Children’s Village Indonesia merupakan organisasi nirlaba atau non-profit yang memberikan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua. Berdiri pada tahun 1949, SOS Children’s Village kini ada di 134 negara, termasuk Indonesia.

Ratusan SOS Children’s Village yang ada di dunia

SOS Children’s Village Indonesia mengasuh kurang lebih 1300 anak yang tersebar di 8 Desa Anak (Children’s Village) dalam bentuk pengasuhan alternatif berbasis keluarga. Setiap Desa Anak terdiri dari 12-15 rumah keluarga, yang di dalamnya tinggal satu orang ibu asuh dengan 8-10 orang anak dengan umur yang berjenjang. Jangan lupa, di Desa Anak juga terdapat tempat bermain, sarana pendidikan dan pengasahan ketrampilan sebagai bekal anak dalam mencapai masa depannya.
SOS Children’s Village Indonesia menerapkan pola pengasuhan berbasis keluarga dengan 4 prinsip pengasuhan, yaitu: 1) lngkungan kleuarga yang asah, asih, asuh dan penuh perhatian; 2) penguatan jejaring dukungan social untuk anak-anak dan keluarganya; 3) kepentingan terbaik bagi anak-anak sebagai dasar dari seluruh keputusan dan kegiatan; 4) keterlibatan anak secara penuh dalam menemukan solusi terhadap tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupannya. 
Program yang dikembangkan dalam lingkungan SOS Children’s Village Indonesia, adalah:
1.   Family Based Care (FBC). Pengasuhan berbasis keluarga Jangka Panjang adalah sebuah bentuk pengasuhan alternatif untuk anak, yang kurang lebih bentuknya sama dengan keluarga pada umumnya. Dalam hal ini, termasuk juga bentuk lain pengasuhan, seperti keluarga asuh (foster care) yang dilakukan oleh SOS Children’s Village.
2.   Family Strengthening Program (FSP).  Program Penguatan Keluarga, di mana sebagai tempat terbaik untuk tumbuh kembang seorang anak adalah di dalam pengasuhan dan perlindungan keluarganya. Supaya keluarga-keluarga mampu menyediakan lingkungan yang asih-asah-asuh, stabil dan aman, SOS Children’s Village memberikan pelayanan dasar langsung kepada anak dan juga meningkatkan kapasitas orang tuanya.
Perkembangan SOS Children’s Village Indonesia mengalami beberapa dekade. 4 dekade SOS Children’s Village Indonesia, yaitu:
1.   SOS Children’s Village Lembang yang dibangun pada tahun 1972 yang terdiri dari Rumah Keluarga Muslim, Kristen dan Katolik, perpustakaan, ruang kegiatan dan lain-lain.
2.   Pada tahun 1981-1990, didirikan SOS Children’s Village Lembang yang beralih fungsi menjadi Mother Training Center,  SOS Children’s Village Jakarta dan Semarang.
3.   Pada tahun 1991-2000, didirikan SOS Children’s Village Bali dan Flores.
4.   Pada tahun 2001 hingga sekarang, didirikan SOS Children’s Village Banda Aceh, Meulaboh dan Medan.
Banyak manfaat sosial yang bisa diperoleh dari SOS Children’s Village Indonesia. Social Meanings (Arti Sosial) dari SOS Children’s Village Indonesia adalah:
1.   Child at Risk (Anak-anak yang bersiko) karena kehilangan pengasuhan orang tuanya atau tidak pernah mengenal orang tuanya.
2.   Motherhood (Ibu), di mana ibu asuh merupakan titik sentral dari system asuhan SOS Children’s Village.
3.   Brothers and Sisters (kakak-adik), anak laki-laki dan perempuan dari berbagai tingkat usia hidup bersama-sama sebagai kakak-adik dari saudara sekandung yang tinggal bersama keluarga SOS yang sama.
4.   Family (keluarga), hidup dalam keluarga untuk mendukung mencapai potensi terbaiknya.
5.   Home (Rumah), di mana rumah keluarga merupakan lingkungan pertama anak mendapatkan pengalaman proses pendidikannya.
6.   Moments of Happy Chilhood (Momen Kebahagiaan Masa Kecil), menciptakan hidup anak-anak sebagaimana anak-anak  pada umumnya merasa dicintai, dilindungi dan nyaman untuk mampu menciptakan momen kebahagiaan masa kecil.
7.   Village (Desa), tinggal bersama dalam lingkungan desa yang mendukung anak-anak menikmati kegembiraan masak kanak-kanak mereka.
8.   Chilhood in Cultural Diversity (Masa kecil dalam keberagaman budaya), memastikan setiap anak mengikuti ajaran agama dan adat istiadat mereka.
9.   Education and Personal Growth (Pendidikan dan Pengembangan diri), memberikan pengajaran kepada anak-anak untuk berkembang menjadi orang dewasa yang memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri dan berkontribusi terhadap sekitar mereka.

SOS Children’s Village Bali 
Saya sempat bertanya panjang lebar tentang kondisi SOS Children’s Village Bali kepada Bapak GregorHadi Nitihardjo yang akrab dipanggil Pak Hadi mengenai pola pengasuhan dan kriteria apa saja yang berhak di asuh dalam lingkungan SOS Children’s Village. Beliau memaparkan bahwa anak-anak yang rentan terjadi kehilangan anak asuhnya akan menjadi hak asuh  SOS Children’s Village. Ada anak yang kehilangan hak asuh karena salah satu dari orang tuanya meninggal, perceraian orang tua atau kedua orang tuanya dengan sengaja menitipkan anaknya di SOS Children’s Village karena ketidakmampuan orang tua untuk mengurus anaknya.
Bahkan yang membuat saya trenyuh bahwa Pak Hadi memberikan paparan bahwa ada seorang anak yang diasuh oleh SOS Children’s Village Indonesia karena melihat dengan mata kepala sendiri ayah membunuh ibunya. Kondisi tersebut membuat goncangan si anak dan mencegah anak mempunyai dendam kepada ayahnya,  SOS Children’s Village memberikan hak asuh yang luar biasa dan mengajarkan anak asuh untuk tidak dendam kepada siapapun, meskipun terhadap orang tua yang telah menyakitinya. Akhirnya, beberpa minggu kemudian si anak pun mau mengampuni kekejian ayah yang telah membunuh ibunya. Karena dendam justru akan menimbulkan amarah selanjutnya.
Bukan hanya kepada Pak Hadi, saya juga sempat berbincang-bincang dengan Mas Alfonso, seorang bekas anak asuh SOS Children’s Village Flores yang kini sudah dewasa dan bekerja di Dinas Sosial daerahnya dan menjadi relawan untuk memberikan bantuan kepada SOS Children’s Village, termasuk Bali. Beliau menceritakan betapa kehidupan bersama dengan adiknya yang benar-benar jauh dari kata layak. Hidup dalam jurang kemiskinan.
Untungnya, SOS Children’s Village memberikan hak asuh Alfonso dari kecil hingga dewasa dan bisa mencapai cita-citanya menjadi pegawai negeri. Alfonso menyatakan, “andaikata saya tidak ditolong sama SOS, entah hidup saya seperti apa …. Saya bisa jadi seperti ini berkat SOS. Dan terpenting, saya pun bisa membantu adik saya bersekolah. Saya terima kasih kepada SOS”.
Perlu diketahui bahwa bantuan biaya sekolah yang ada di SOS Children’s Village Indonesia diberikan kepada anak asuh sepenuhnya seperti anak sendiri hingga 2 tahun menjejakkan bangku kuliah. Setelah itu, biaya pendidikan dikurangi 25 %. Kondisi tersebut dimaksudkan agar anak asuh SOS Children’s Village Indonesiamulai belajar mandiri mencapai cita-citanya dan tiddak menjadi ketergantungan terhadap SOS Children’s Village Indonesia.
Selama ini,  SOS Children’s Village Indonesia memang mendapatkan bantuan dana dari donatur-donatur yang ada di Eropa. Oleh karena itu, SOS Children’s Village Indonesia menjelang tahun 2020 bertekad untuk tidak tergantung kepada donatur Eropa lagi. Dengan demikian, SOS Children’s Village Indonesia pun membutuhkan bantuan alias donatur-donatur baru dari negeri kita sendiri, khususnya Bali. Saya pun melihat bahwa banyak donatur-donatur lokal yang memberikan bantuan kepada SOS Children’s Village Bali.
  


Saya di depankantor SOS Children’s Village Bali

Selanjutnya, SOS Children’s Village Bali merupakan salah satu dari delapan village yang berada di Indonesia yang diresmikan pada tahun 1991 oleh Menteri Sosial RI Haryati Soebadio pada tahun 1991. SOS Children’s Village Bali, lebih dari 140 anak asuh dalam 12 rumah (wisma) keluarga. Mayoritas, anak-anaknya bergama Hindu. Memang ada satu anak yang beragama Islam dan duduk di bangku SMP.
Saya menyempatkan diri masuk dan melihat-lihat seisi ruangan di Wisma nomor satu. Suasananya benar-benar seperti sebuah rumah yang dihuni oleh 8-0 orang anak asuh dengan seorang ibu asuh. Tempat tidurnya pun terpisah antara laki-laki dan perempuan yang dibuat bertingkat layaknya seperti di sebuah asrama.
Perlu diketahui bahwa anak asuh yang berasal dari keluarga yang berbeda dan umur yang berbeda akan menjadi satu keluarga seperti saudara kandung. Saya memberikan gambaran bahwa anak-anak asuh yang berbeda usia bertemu dalam satu rumah layaknya sebuah keluarga yang terpisah dan dipertemukan kembali. Saya merasakan betul aura anak asuh yang umurnya lebih tua menganggap ke yang lebih muda sebagai adik kandung, begitu sebaliknya. Apalagi, berkumpul selama puluhan tahun dalam satur umah dan seorang ibu asuh. Persis, seperti seorang ibu mempunyai banyak anak. Hebat bukan?
Di sinilah letaknya bahwa seorang perempuan yang berniat menjadi ibu asuh akan diseleksi secara ketat dan mendapatkan pelatihan secara berkala di  SOS Children’s Village pusat, Lembang Bandung. Perempuan yang mempunyai jiwa keibuan, penyabar, penyayang yang akan lolos menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village. Mereka akan menjadi ibu asuh sekaligus layaknya ibu kandung yang mengurusi 8-10 anak asuh bagai anak kandung sendiri. Saya menyadari betul, betapa mulianya ibu kandung di SOS Children’s Village.
Semua perkembangan anak asuh dari kecil, bahkan ada yang sedari bayi akan diperlakukan seperti anak kandung sendiri. Ada kejadian menarik di SOS Children’s Village Bali yang menceritakan bahwa ada seorang anak asuh yang belum pulang hingga larut malam. Si ibu asuh dibuat bingung dan mencari ke mana-mana hingga akhirnya ketemu juga. Ada juga anak asuh yang melarikan diri karena situasi yang berbeda dengan keluarga aslinya dulu. Si ibu asuh pun merayunya agar balik lagi ke wisma. Perjuangan yang tidak kalah dengan seorang ibu kandung secara biologis. Dan masih banyak lagi kejadian menarik yang membuat saya mengerti bahwa SOS Children’s Village tidak berbeda atau sama persis dengan sebuah keluarga pada umumnya.

Kedatangan Pesulap Jorge Blass
Memenuhi undangan di SOS Children’s Village Bali bertepatan dengan adanya kedatangan Jorge Blass yang datang langsung dari Spanyol. Sebagai informasi bahwa Jorge Blass adalah pesulap dunia asal Spanyol yang akan unjuk kebolehan dalam  “Little Magic To Big Dreams” di SOS Children’s Village Bali.
Jorge Blass jatuh cinta pada dunia magic/sulap sejak berusia balita, Jorge Blass yang lahir pada tanggal 2 Mei 1980 terus mengasah kemampuan untuk menjadi pesulap dunia. Tahun 1992, Jorge Blass yang kala itu berusia 12 tahun memulai debut sulapnya dengan belajar pada Juan Tamariz Academy di Madrid Spanyol. Terdaftar sebagai pesulap termuda pada komunitas pesulap Spanyol pada tahun 1993. Jorge Blass masuk dalam jajaran pesulap dunia melalui berbagai penghargaan, di antaranya: Sarmoti Awards pada tahun 2000 dari Pangeran Reiner di Las Vegas.
Tahun 2003, Jorge Blass menulis buku pertamanya “Magia Para No Dejar Sonar” dan menandatangani kontrak dengan Disney Channel sebagai pesulap pada acara Disney Zona Taleu ntuk Spanyol dan Portugal. Bahkan, Jorge Blass pernah bekerja sama dengan David Copperfield pada tahun 2015.
Jorge Blass menjadi sahabat SOS Children’s Village Spanyol sejak tahun 2012. Jorge Blass mengajak masyarakat dunia untuk peduli dengan membantu SOS Children’s Village. Jorge Blass berkunjung ke Indonesia tanggal 12 Juli 2016 dan mengunjungi kota Yogyakarta dan Pulau Bali. Jorge Blass menyempatkan diri untuk berbagi kebahagiaan dengan keahlian sulap di depan anak-anak SOS Children’s Bali. Beliau sempat memamerkan keahlian sulapnya di Wisma nomor Sembilan. Sulap koin klasiknya mampu memukau setiap hadirin yang hadir. Terlebih, bagi anak-anak asuh yang ada.

  

Jorge Blass menampilkan sulap koin di Wisma nomor
sembilan SOS Children’s Bali

Setelah berkunjung ke setiap wisma, saya dan blogger Bali lainnya menyempatkan diri untuk melakukan wawancara secara santai dengan Jorge Blass yang didampingi oleh Pak Hadi sebagai translator. Banyak hal yang dibicarakan dari sejarah Jorge Blass menjadi pesulap dunia, hingga ke masalah kepedulian terhadap anak-anak khususnya kecintaan kepada Indonesia. Hal itulah yang membuat Jorge Blass untuk mengunjungi Yogyakarta dan mampir di SOS Children’s Village Bali untuk memamerkan aksi sulapnya.



Wawancara santai dengan Jorge Blass yang didampingi Pak Hadi

Setelah saya dan Blogger Bali lainnya melakukan sholat maghrib, acara inti yaitu: pertunjukan sulap Jorge Blass digelar di wantilan SOS Children’s Village Bali yang berada di sisi utara. Saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Bagus Suweca tentang keberadaan SOS Children’s Village Bali. Sosok yang ramah dan hangat menyambut saya dan blogger Bali lainnya.

Foto bareng Pak Bagus Suweca

Acara dimulai dengan terian Sekar Jagat yang dilakukan oleh anak-anak asuhSOS Children’s Village Bali. Tarian yang sangat sakral mampu menghipnotis penonton. Tarian yang diiringi dengan gamelan khas Bali yang “becik “ (bagus). Tidak ketinggalan anak kecil yang bernama “Riyani” yang masih berumur 3 tahun memberanikan diri untu tampil ke depan menyanyikan sebuah lagu anak-anak. Gaya polosnya anak-anak membuat hadirin semua tertawa. Berani juga tuh anak ya? Pikir saya.


Pentas seni dan sulap Jorge Blass di wantilan SOS yang meriah

Selanjutnya, acara inti adalah penampilan Jorge Blass yang menampilkan berbagai trik sulapnya, dari sulap kartu hingga sulap gelang-gelang besi yang membuat saya terkagum-kagum. Saya sendiri sampai memelototi aksinya di depan dia. Penasaran juga, belum ketemu trik sulapnya. Dasar pesulap! Saya pun manggut-manggut, betapa hebatnya gerakan cepat tangannya. Maklum, pesulap ini sudah masuk dalam jajaran pesulap dunia yang pernah bekerja ssama dengan David Copperfield.  Untuk melihat aksi sulap Jorge Blass bisa dilihat di video berikut:


video


video


Penampilan sulap Jorge Blass pun tidak ketinggalan ditemani anak kecilnya yang bernama Maximo. Anak yang lincah tersebut seakan-akan menjadi asisten Jorge Blass, sekaligus menunjukan betapa pedulinya Jorge Blass terhadap anak-anak. Bahkan, Maximo sempat membagikan satu persatu perangkat sulap kepada ibu-ibu asuh asuh SOS Children’s Village Bali  yang tampil di atas panggung.


Salah satu aksi Jorge Blass yang ditemani 
oleh anaknya, Maximo


Akhirnya, acara yang meriah tersebut diakhiri dengan berbagai bantuan yang diberikan oleh beberapa donatur lokal dan sesi foto bersama. Pesan MC pada acara tersebut adalah perlunya masyarakat luas untuk mengenal SOS Children’s Village khususnya Bali. Bahkan, jika dimungkinkan bisa menjadi donatur apa saja di SOS Children’s Village Bali  Bali baik berupa keahlian mengajar, barang, uang atau lainnya. Minimal, menyebarkan kondisi SOS Children’s Village Bali ke masyarakat. Ada pesan baik yang terbawa bersama saya sebelum meninggalkan SOS Children’s Village Bali, “berikan hak asuh sebaik mungkin kepada anak kita untuk mencapai masa depannya”.
Selamat berkarya buat keluarga SOS Children’s Village Bali. Saya dan Blogger Bali lainnya akan mengabarkan pesan kepada dunia bahwa ada nilai-nilai positif yang luar biasa dalam SOS Children’s Village khususnya Bali diperlu diketahui lebih dalam, meskipun hanya lewat tulisan. Matur suksema.

Catatan: Semua ilustrasi dan video merupakan dokumen pribadi



1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete